PWNU DIY dan PCNU Se-DIY Tolak Politik Uang di Muktamar ke-35 NU

Para pengurus Ketua PWNU DIY dan PCNU se-DIY usai pembacaan pernyataan sikap yang menolak politik uang di Muktamar ke-35 NU.

 Bangkitmedia YOGYA — Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) bersama Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) se-DIY menyatakan sikap tegas menolak segala bentuk politik uang dalam pelaksanaan Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) Tahun 2026 yang akan digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang. 27-31 Agustus mendatang.

Pernyataan sikap tersebut merupakan hasil Rapat Koordinasi PWNU DIY bersama PCNU se-DIY di Kantor PWNU DIY, Jalan M.T. Haryono Nomor 40, Yogyakarta, Senin (17/8). Rapat koordinasi sekaligus perumusan pernyataan sikap tersebut dipimpin Ketua PWNU DIY, Dr. KH. Ahmad Zuhdi Muhdlor, S.H., M.Hum., bersama Rais Syuriyah PWNU DIY, KH. Drs. Mas’ud Masduki. Pertemuan diikuti unsur pimpinan PWNU DIY dan PCNU se-DIY, yang terdiri atas Rais, Katib, Ketua, dan Sekretaris, sebagai bagian dari konsolidasi organisasi menjelang pelaksanaan Muktamar Ke-35 NU.

Bacaan Lainnya

Dalam rapat tersebut, PWNU DIY dan PCNU se-DIY menegaskan, Muktamar NU harus menjadi forum permusyawaratan yang mencerminkan nilai-nilai keislaman, ke-NU-an, integritas, moralitas, dan adab dalam menjalankan khidmah kepada umat.

Melalui pernyataan sikap bersama, PWNU DIY dan PCNU se-DIY menyampaikan enam sikap utama. Pertama, menolak dengan tegas segala bentuk politik uang dalam seluruh proses Muktamar Ke-35 NU. Kedua, menyerukan kepada seluruh peserta Muktamar agar tidak menerima, meminta, ataupun memperjualbelikan dukungan dalam bentuk apa pun.

Ketiga, menyerukan kepada seluruh calon dan tim pendukungnya untuk tidak melakukan praktik politik uang, baik secara langsung maupun melalui perantara atau dalam bentuk transaksi terselubung.

Keempat, mengajak seluruh peserta Muktamar menjadikan integritas, moralitas, kapasitas kepemimpinan, keilmuan, keteladanan, rekam jejak khidmah, serta komitmen terhadap kemaslahatan umat sebagai dasar utama dalam menentukan pilihan.

Kelima, menyerukan agar seluruh proses Muktamar berlangsung dalam suasana ukhuwah, musyawarah, adab, dan kejujuran.

Keenam, menyerukan kepada seluruh peserta Muktamar untuk menjaga independensi dan menolak segala bentuk intervensi dari pihak luar.

PWNU DIY dan PCNU se-DIY memandang bahwa proses pemilihan kepemimpinan di lingkungan Nahdlatul Ulama harus ditempatkan sebagai bagian dari amanah organisasi dan khidmah kepada umat, bukan sebagai ruang transaksi kepentingan.

Karena itu, seluruh pihak yang terlibat dalam Muktamar Ke-35 diharapkan mengedepankan kualitas kepemimpinan, kapasitas keilmuan, integritas moral, keteladanan, serta rekam jejak pengabdian. Hal tersebut penting agar setiap keputusan yang dihasilkan dalam Muktamar benar-benar lahir dari pertimbangan yang jernih, bermartabat, dan berorientasi pada kemaslahatan Nahdlatul Ulama serta masyarakat luas.

PWNU DIY dan PCNU se-DIY juga mengajak seluruh peserta Muktamar untuk menjaga persaudaraan dan menghindari segala bentuk praktik yang berpotensi mencederai marwah organisasi. Perbedaan pilihan dalam Muktamar hendaknya tidak menjadi sebab perpecahan, melainkan menjadi bagian dari dinamika musyawarah untuk memperkuat jam’iyyah Nahdlatul Ulama.

Pernyataan sikap tersebut sekaligus menjadi bentuk komitmen PWNU DIY dan PCNU se-DIY untuk menjaga agar proses Muktamar Ke-35 NU berjalan sesuai dengan nilai-nilai yang selama ini menjadi landasan perjuangan dan khidmah Nahdlatul Ulama.

Di tengah dinamika Muktamar, seluruh peserta diharapkan mampu menempatkan kepentingan jam’iyyah dan kemaslahatan umat di atas kepentingan pribadi maupun kelompok. Kepemimpinan yang lahir dari proses yang bersih, jujur, dan bermartabat diyakini akan memperkuat kepercayaan warga Nahdlatul Ulama serta menjaga marwah organisasi.

PWNU DIY dan PCNU se-DIY berharap seluruh rangkaian Muktamar Ke-35 NU dapat berlangsung dalam suasana ukhuwah, musyawarah, adab, kejujuran, dan independensi, sehingga menghasilkan keputusan terbaik bagi masa depan Nahdlatul Ulama. (Rls)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *