Bangkitmedia.com, YOGYAKARTA — Semangat kebangsaan dan pesan perdamaian dunia mewarnai peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia yang digelar komunitas pecinta alam Yogyakarta di Monumen Rudal Merapi, Kinahrejo, Sleman, Senin (17/8/2026).
Upacara yang diinisiasi Muda Wijaya Hiking Club (MWHC) SMA Negeri 6 Yogyakarta tersebut melibatkan para pegiat pecinta alam dan pelajar, khususnya siswa-siswi SMA. Kegiatan tidak sekadar menjadi seremoni peringatan kemerdekaan, tetapi juga menjadi ruang untuk mengenalkan sejarah, menumbuhkan kecintaan terhadap Tanah Air, serta mewariskan nilai perdamaian kepada generasi muda.
Senior MWHC SMA Negeri 6 Yogyakarta, Wisnu Bhirawa mengatakan, pemilihan Monumen Rudal Merapi sebagai lokasi upacara memiliki makna historis. Menurutnya, monumen tersebut merupakan bagian dari perjalanan panjang para pegiat pecinta alam Yogyakarta dalam menyuarakan pesan perdamaian.
“Monumen Rudal Merapi bukan sekadar bangunan atau replika rudal. Di balik keberadaannya terdapat pesan bahwa kecintaan terhadap alam juga harus berjalan bersama kepedulian terhadap kemanusiaan dan perdamaian,” kata Wisnu.
Dari Simbol Perang Menjadi Pesan Perdamaian
Monumen Rudal Merapi memiliki sejarah yang berkaitan dengan kegelisahan para pegiat pecinta alam Yogyakarta terhadap perang dan konflik bersenjata.
Gagasan pembangunan monumen tersebut muncul setelah Perang Malvinas pada 1982. Peristiwa tersebut menjadi pengingat, bahwa peperangan selalu membawa penderitaan dan karena itu perdamaian harus terus diperjuangkan.
Para pegiat pecinta alam Yogyakarta kemudian menggagas sebuah monumen berbentuk replika rudal Exocet. Simbol yang secara lahiriah merepresentasikan teknologi perang itu justru ditempatkan sebagai pengingat mengenai pentingnya perdamaian.
Pembangunannya mendapat dukungan Pangeran Mangkubumi, yang kini dikenal sebagai Sri Sultan Hamengku Buwono X. Sekitar 1984, para pegiat pecinta alam Yogyakarta mengerjakan pembangunan dan pemasangan monumen tersebut di kawasan Pos 2 Gunung Merapi.
Dalam perjalanannya, monumen itu kemudian menjadi bagian dari sejarah komunitas pecinta alam Yogyakarta sekaligus simbol yang menghubungkan kecintaan terhadap alam, semangat kebangsaan, kepedulian kemanusiaan, dan perdamaian.
Dibangun Kembali Setelah Erupsi Merapi
Sejarah Monumen Rudal Merapi juga tidak terlepas dari erupsi Gunung Merapi pada 2010. Bencana tersebut menyebabkan monumen mengalami kerusakan.
Nilai sejarah dan pesan perdamaian yang melekat pada monumen mendorong para pegiat pecinta alam Yogyakarta untuk mempertahankan keberadaannya.
Pada 2017, Monumen Rudal Merapi dibangun kembali di Desa Kinahrejo. Kehadiran kembali monumen tersebut diharapkan dapat menjaga ingatan kolektif mengenai sejarah sekaligus menjadi ruang edukasi bagi generasi muda.
Wisnu menuturkan, keberadaan monumen tersebut penting untuk terus dikenalkan kepada generasi penerus agar sejarah tidak berhenti sebagai cerita masa lalu.
“Kami ingin generasi muda tidak hanya datang untuk mengikuti upacara, tetapi juga memahami mengapa tempat ini penting. Ada sejarah, ada semangat kebangsaan, ada kepedulian terhadap alam, dan ada pesan perdamaian yang perlu terus diwariskan,” ujarnya.
Hubungkan Generasi Muda dengan Sejarah
Upacara Kemerdekaan di Monumen Rudal Merapi tahun ini menjadi momentum mempertemukan pelajar dengan sejarah yang lahir dari perjalanan para pendahulu mereka.
Peserta diharapkan tidak hanya memaknai kemerdekaan sebagai terbebas dari penjajahan, tetapi juga memahami tanggung jawab generasi penerus dalam menjaga persatuan, menghargai jasa para pahlawan, merawat lingkungan, serta membangun kehidupan yang damai.
Bagi para pegiat pecinta alam Yogyakarta, semangat tersebut menjadi alasan agar kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan setiap peringatan Hari Kemerdekaan.
“Harapannya, kegiatan ini menjadi tradisi tahunan. Setiap 17 Agustus kita tidak hanya mengibarkan Merah Putih, tetapi juga mengingat kembali perjuangan para pendahulu dan memperbarui komitmen untuk menjaga persatuan, alam, kemerdekaan, dan perdamaian,” kata Wisnu.
Melalui kegiatan tersebut, Monumen Rudal Merapi kembali ditempatkan bukan hanya sebagai penanda sejarah, tetapi sebagai ruang untuk merawat ingatan dan menyampaikan pesan lintas generasi bahwa perang dan konflik bukanlah warisan yang semestinya diteruskan.
Sebaliknya, persaudaraan, persatuan, kepedulian terhadap sesama, kelestarian alam, dan perdamaian menjadi nilai yang perlu terus dirawat.
“Mengenang jasa para pahlawan, menumbuhkan rasa kebangsaan, dan mewariskan semangat perdamaian kepada generasi 
Pesan itulah yang menjadi ruh peringatan Kemerdekaan ke-81 RI di Monumen Rudal Merapi tahun ini. (Gusayu/*)








