
Hadirin Jama’ah Jum’ah Rahimakumullâh,
Kami mengajak kepada saudara saudara sekalian, marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT berusaha menjalankan segala perintahNya dan menjahui segala yang menjadi laranganNya. Dengan harapan kita selalu mendapat rahmat dan ridla dari Allah Ta’ala.
Jama’ah shalat Jumat Rahimakumullâh,
Islam tidak mengenal hari, bulan, atau tahun sial. Sebagaimana seluruh keberadaan di alam raya ini, waktu adalah makhluk Allah. Setiap umat Islam wajib berkeyakinan bahwa pengaruh baik maupun buruk tidak ada tanpa seizin Allah. Begitu juga dengan bulan Safar. Ia adalah bagian dari dua belas bulan dalam satu tahun hijriah. Safar merupakan bulan kedua dalam kalender Qamariyah, terletak sesudah Muharram dan sebelum bulan Rabiul Awwal.
Padahal, seperti bulan-bulan lainnya, bulan Safar netral dari kesialan atau ketentuan nasib buruk. Jika ada kejadian buruk di dalamnya, maka itu sematamata karena faktor lain, bukan karena bulan Safar itu sendiri. Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda:

“Tidak ada ‘adwa, thiyarah, hamah, shafar, dan menjauhlah dari orang yang kena penyakit kusta (lepra) sebagaimana kamu menjauh dari singa.” (HR Bukhari dan Muslim)
Jama’ah shalat Jumat Rahimakumullâh,
Beberapa peristiwa penting yang dilakukan Nabi pada bulan Safar, di antaranya pernikahan beliau dengan Sayyidah Khadijah, menikahkah putrinya Sayyidah Fatimah dengan Ali bin Abi Thalib, hingga mulai berhijrah dari Makkah ke Madinah.
Artinya, Rasulullah membantah keyakinan masyarakat jahiliah bukan hanya dengan argumentasi tapi juga pembuktian bagi beliau sendiri. Dengan melaksanakan hal-hal sakral dan penting di bulan Safar, Nabi seolah berpesan bahwa bulan Safar tak berbeda dari -bulan lainnya.
Menepis anggapan “bulan sial” dan “bulan beruntung” akan mengantarkan kita menjadi pribadi yang wajar. Tidak malas berikhtiar karena merasa hari-harinya pasti diliputi keberuntungan. Juga tidak dicekam kecemasan karena dihantui hari-hari penuh sial. Dari sinilah kita harus selalu menjaga diri, melakukan usaha-usaha pencegahan, termasuk dengan doa memohon perlindungan kepada Allah.
Doa ajaran Nabi antara lain adalah:

“Dengan menyebut nama Allah yang bersama namaNya takkan ada sesuatu di bumi dan di langit yang sanggup mendatangkan mudarat. Dialah Maha-Mendengar lagi Maha-Mengetahui.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Jamaah shalat Jumat Rahimakumullâh,
Firman Allah yang harus kita resapi dan amalkan

“Orang orang yang beriman dan bertaqwa, bagi mereka kebahagiaan di dalam hidupnya di dunia dan di akhirat, tiada pernah ada perubahan bagi janji Allah, Demikian itu semua sebagai angerah yang agung” (QS.Yunus : 63-64).
Keberuntungan sejati adalah ketika seorang hamba beriman, mengisi waktunya, untuk menjalankan amal shalih dan ketaatan kepada Allah. Sebaliknya, kerugian terjadi adalah saat seseorang menyia-nyiakan waktunya. Inilah momentum baik untuk membangun optimisme dan gairah menghamba kepada Allah setulus-tulusnya.
Syekh Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Lathâif al-Ma’ârif fîmâ li Mawâsim al-‘Am min al-Wadhâif, berpesan melalui syair

“Betapa banyak orang yang memiliki tuntutan, maka ini telah datang bulan Safar kepada kita. Bulan yang disertai dengan kemenangan, taufik, dan keberhasilan.”

Maka mulailah berbuat sesuatu yang akan membuatmu”

senang di hari kembali (hari kiamat), maka disana engkau akan melihat kebaikan.”

“Bertaubatlah kepada Allah di bulan Safar dari dosa dosa, sebelum batas akhir usia menghampiri kalian.”
Semoga Allah anugerahkan kepada kita untuk aktifitas dan amal yang berfaedah, membawa maslahat, baik di dunia maupun di akhirat. Âmîn.

KH Damanhuri, Rais Syuriah PCNU Bantul.






