Khutbah Idul Fitri: Spirit Kemanusiaan

Hadirin Jama’ah ‘Idul Fitri Rahima kumullah,

Dalam suasana pagi yang sejuk, penuh berkah dan damai ini, marilah kita senantiasa bertaqwa kepada Allah SWT, seraya bersyukur kepada Allah atas karunia-Nya yang telah dilimpahkan kepada kita semua, sehingga pagi hari ini kita bisa bersama sama bersimpuh mengucapkan takbir, bertasbih, bertahmid dan bertahlil sebagai manifestasi dari rasa syukur kita menyelesaikan ibadah shaum di bulan Ramadlan. Dan hari ini kita memasuki hari yang penuh kebahagiaan dan kenikmatan yang luar biasa. Alunan takbir yang berarti menyadarkan kita bahwa kita, apapun predikat keduniawian yang disandangnya adalah kecil dan lemah belaka di hadapan Allah. Oleh karena itu hendaknya kita mengagungkan dan bersyukur kepada-Nya.

“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur”. (QS. Al-Baqarah : 185)

Dengan senantiasa menjalankan ketaqwaan kepada Allah SWT secara istiqamah dalam diri kita, keluarga kita, lingkungan kita, masyarakat dan bangsa kita yang diridlai Allah SWT. Harapan kita semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat kesejahteraan, keberkahan, keselamatan dan kemakmuran yang selalu kita dambakan, penuh dengan ridlaNya.

Hadirin Jama’ah ‘Idul Fitri Rahimakumullah,

Kesejahteraan dan kemakmuran sesungguhnya akan dapat diraih melalui perilaku yang baik, yang berdasarkan iman dan taqwa kepada Allah SWT. seperti kejujuran, kecerdasan, etos kerja yang tinggi, etika berusaha dan bekerja berdasarkan nilai-nilai tauhid dan kepekaan sosial yang tinggi. Hadits Rasulullah SAW telah menggambarkan betapa hebatnya kejujuran (ash-Shiddiq) akan meraih kebaikan. Sebaliknya khianat, dusta, perilaku koruptif akan berimplikasi berbagai macam keburukan. Rasulullah saw. bersabda:

“Rasululah saw, bersabda: Hendaklah kalian selalu berusaha menjadi orang-orang yang benar dan jujur, karena kejujuran akan melahirkan kebaikan. Dan kebaikan akan menunjukkan jalan ke surga. Jika seseorang turus berusaha menjadi orang yang jujur, maka pasti dicatat oleh Allah sebagai orang yang selalu jujur. Jauhilah dusta dan menipu, karena dusta itu akan melahirkan kejahatan dan kejahatan akan menunjukkan jalan ke neraka. Jika seseorang terus-menerus berdusta, maka akan dicatat oleh Allah sebagai orang yang selalu berdusta”. (HR. Bukhari)

Dusta, khianat, pembohong dan korup merupakan musuh yang harus kita perangi. Sebagai senjata yang paling jitu dalam memerangi kebohongan dan korup adalah puasa (shaum) dengan benar. Dengan shaum yang benar, kita akan bisa membentuk pribadi yang senantiasa menegakkan kejujuran, baik kejujuran terhadap Allah, terhadap sesama dan terhadap diri sendiri.

Formulasi kejujuran yang ingin diraih oleh ibadah puasa adalah kejujuran yang didorong oleh kesadaran kemanusiaan kita, karena Allah selalu berada di dekat kita, bukan oleh hal- hal lain di luar diri kita kendati hal itu merupakan sesuatu yang penting.

Memang kita sadari bersama, bahwa perilaku menyimpang sebagaimana tersebut di atas masih merajalela di lingkungan kita. Semua ini tentu saja salah satu sebabnya adalah dominasi nafsu yang kurang terkendali. Banyak diantara kita yang terlalu tamak dan rakus ingin mendapatkan semuanya, ingin menguasai dan memiliki semuanya tanpa mengindahkan akibatnya bagi diri sendiri dan orang lain. Terjadinya banjir di mana-mana akibat pembangunan gedung yang tidak memperhatikan destinasi yang layak dan akibat ketidaksadaran manusia membuang sampah di saluran-saluran air, lautan tercemar akibat limbah limbah pabrik yang dibuang sembarangan sehingga berdampak kematian hewan laut bahkan manusia.

Inilah buah nyata keserakahan manusia yang hanya memikirkan dirinya dan keuntungan bisnisnya tidak memikirkan ekosistem serta keselamatan lingkungan dan yang lainnya. Karena itu marilah Idul Fitri sebagai moment strategis untuk mengembalikan spirit kemanusiaan kita ini, kita renungkan, kita resapi dan kita aktualisasikan hikmahnya dalam kehidupan sehari hari. Sehingga kita betul-betul menjadi orang yang kembali suci dan berbahagia sebagaimana doa yang hari ini kita panjatkan setiap bertemu di antara kita.

(Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang kembali suci dan berada dalam kebahagiaan). Hadirin jama’ah ‘idul  fitri yang dirahmati Allah

Puasa Ramadlan mengajarkan kepada kita untuk senantiasa berkompetitif, berlomba-lomba pada kebajikan, demikian firman Allah. Selama Ramadlan kita dirangsang secara kompetitif untuk meningkatkan amal baik dari aspek kualitas maupun kuantitasnya. Selama Ramadlan peluang untuk memperkaya investasi amal shaleh dibuka seluas-luasnya, bahkan lailatul Qadar sebagai peluang untuk mencapai kemuliaan tertinggi dan menjadi bonus tersendiri yang memacu kita untuk senantiasa kompetitif menyempurnakan amal shaleh hanya ada dalam bulan Ramadlan. Islam menganjurkan umatnya untuk senantiasa kompetitif (fastabiqul khairat), tampil unggul (excellend) dan memiliki daya saing untuk memenangkan kehidupan di dunia dan sekaligus meraih kebahagiaan di akhirat.

Shaum Ramadlan juga telah membangun revolusi mental dan rasa percaya diri (self confidence). Hanya pribadi yang yakin pada kekuatan sendirilah yang mampu menghadapi berbagai tantangan dan godaan serta memenangkan perjuangan ibadah shaum Ramadlan. Sesungguhnya keyakinan akan kekuatan diri sendiri adalah modal potensial untuk menghadapi tantangan kehidupan serta meraih kemajuan. Keyakinan pada kekuatan sendiri dapat melepaskan ketergantungan kita pada yang lain, kecuali hanya ketergantungan mutlaq kepada Allah SWT. Rasa percaya diri dengan sendirinya mampu membangkitkan akumulasi energi yang potensial dan luar biasa yang dimiliki seseorang demi keberlangsungan hidupnya.Hadirin jama’ah ‘idul fitri yang dirahmati Allah

Shaum Ramadlan mengkondisikan agar kita bisa menjalani detik-detik kehidupan ini berdasarkan kepada suatu etos kerja. Islam mengajarkan kepada kita, bahwa pekerjaan yang diperbuat oleh seorang muslim di dalam maupun di luar bulan Ramadlan, manakala dilakukan karena Allah adalah ibadah.

Setiap pribadi muslim dituntut untuk senantiasa mengimbangi kekuatan imannya dengan amal shaleh baik dari aspek kwantitas maupun kwalitas. Iman dan amal shaleh adalah ibarat dua sisi keping mata uang yang menghiasi pribadi muslim. Etos kerja seorang muslim tidak hanya terkait dengan kepentingan praktis dan pragmatis dalam hidupnya, akan tetapi selalu berdimensi kepada ketauhidan yang transcendental. Etos kerja yang tinggi dengan mengerahkan segala kemampuan yang ada pada diri kita untuk mempersembahkan yang terbaik dalam kehidupan ini disebut dengan itqan atau ihsan. Rasulullah bersabda:اَّ“Sesungguhnya Allah mencintai suatu perbuatan yang dikerjakan secara itqan (professional)” (HR. Dailami).

Profesionalitas dalam bekerja yang dilakukan dengan manajemen yang baik (terencana, terlaksana dengan komitmen dan terevaluasi) akan menghasilkan pekerjaan yang maksimal. Perlu dipahami bahwa untuk mewujudkan profesional dalam bekerja, dalam beribadah diperlukan adanya kepemilikan ilmu yang kuat, sedangkan ilmu hanya bisa dimiliki dengan cara belajar, dan belajar.
Jama’ah shalat ‘Idul Fitri Rahimakumullah.

Di samping kejujuran, etos kerja dan etika, kepekaan sosial pun harus juga senantiasa ditumbuhkan. Rizki yang kita dapatkan bukanlah sekedar untuk diri kita dan keluarga, tetapi di situ terdapat hak orang lain, yaitu hak fakir-miskin.

Allah berfirman:

“Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian” (QS. adz-Dzariyat: 19).

Ramadlan telah mengasah kepekaan sosial kita, melatih empati dan kepedulian kita terhadap sesama, terutama masyarakat miskin yang berkekurangan secara material maupun spiritual.

Kepekaan sosial ini ditumbuhkan antara lain dengan cara memberikan sebagian harta kita kepada mereka yang membutuhkan, baik dalam bentuk zakat, infaq ataupun shadaqah. Kita sadar bahwa di tengah deru modernisasi dewasa ini ternyata masih banyak masyarakat kita terhimpit dengan kemiskinan, baik secara stuktural yang terabaikan oleh proses pembangunan maupun bersifat insidental dan sebagainya.

Kewajiban zakat fitrah yang baru saja kita serahkan, telah membangkitkan kepedulian, menggerakkan tanggung jawab moral kita untuk senantiasa saling membantu dan memperhatikan dalam kehidupan.

Pelaksanaan zakat hendaknya bisa mencerminkan kehidupan yang harmonis antara yang lemah dengan para aghniya. Karena hakikat kehidupan ini ialah saling mengisi, saling menolong dan saling berbagi, tiada seorang pun yang sempurna, kesempurnaan hanya milik Allah SWT semata.

Jamaah Idul Fitri yang dimuliakan Allah,

Semoga kita diberi kekuatan untuk tetap istiqamah dalam beribadah setelah Ramadlan ini hingga bertemu dengan Ramadlan tahun depan. Âmîn yâ Robbal ‘âlamin.

”Bersihkan Hati, Sucikan Pikiran di hari nan Fitri. Selamat Hari Raya Idul Fitri.”

Penyusun: KH Damanhuri, Rais Syuriah PCNU Bantul.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *