Hindari ‘Fanatisme’ dalam Bermasyarakat

Bangkitmedia.com, BANTUL – Bimas Islam Kemenang Bantul mengadakan acara yang bertajuk “Cegah dan Deteksi Dini Konflik Keagamaan” sekaligus penandatanganan bersama para tokoh masyarakat di Bantul. Tujuannya untuk membangun komitmen menjaga  kehidupan yang harmonis antarwarga Masyarakat Bantul. Acara digelar di Warung Omah Sawah (WOS) Bantul, (Rabu, 30/07/2025).

H.Sugito,S.Ag, MSI, Kasi Bimas Islam, dalam sambutannya mengatakan, keanekaragaman agama di Indonesia membawa tantangan dan peluang yang harus dikelola secara bijak. Menurutnya, Manajemen Sistem Peringatan Dini Konflik Sosial Berdimensi Keagamaan dalam konteks ini menjadi sangat penting sebagai kebijakan kerja sama antara pemerintah, masyarakat, dan tokoh agama.

“Dengan berlandaskan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2012 dan Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 332 Tahun 2023, rancangan program strategis ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi konflik sekaligus memitigasi atas pencegahan perluasan konflik sosial berdimensi keagamaan di Indonesia,” ujarnya.

Hadir dalam acara tersebut, H.Syahroini Jamil  (MUI), Ahmad Musaddad (PCNU), H.Saebani (PD Muhammadiyah), Hj.Aswandiyyah (komunitas  Agama), para kepala KUA di Kabupaten  Bantul dan para penyuluh  agama Kemenag Bantul.

Penandatanganan bersama Pemerintah dan Tokoh Masyarakat untuk Keharmonisan Warga

Pemateri pertama  KH. Dr. Irwan Masduqi, Lc,,MA., pengasuh  Pesantren  As-Salafivah Mlangi Sleman.  Menurutnya, berislam dan bertasamuh itu satu paket, karena Islam adalah agama samhah (toleran). Kenapa demikian, sebab faktanya adalah secara fitrah manusia itu beragam. Maka berwacana Islam moderat (wasathiyah) tanpa bisa toleransi pada perbedaan itu omong kosong.

Lebih jauh, Gus Irwan memandang masalah tasamuh baina al-adyan atau toleransi antaragama itu, mengacu pada kitab-kitab kuning yang dipelajari di pesantren. Karena, dalam kitab tafsir, banyak sekali ayat Al-Qur’an maupun Hadis yang spiritnya adalah menghargai perbedaan.

Menurutnya lagi, Rasulullah dalam tugasnya juga memberikan kabar baik dan peringatan dari Allah SWT. Tidak pernah beliau memaksa orang-orang untuk beragama Islam. Jadi dalam konsep Islam, saya kira itu sudah jelas, paparnya.

Rujukan Hadis, misalnya dalam kitab Shahih Bukhari, diterangkan bahwa suatu hari Rasulullah Saw. berdiri menghormati jenazah seorang Yahudi yang lewat di hadapannya. Para sahabat lantas bertanya kepada Rasulullah. Nabi kemudian menjawab, “Bukankah ia juga manusia?”

“Tegasnya, sesama manusia harus saling menghormati, apalagi orang itu telah meninggal dunia. Yang ditonjolkan oleh Nabi Saw. adalah aspek kemanusiaan, bukan aspek keyakinannya. Inilah kunci kerukunan. Jangan pernah ada  fanatisme di antara kita bersama,” ujar Gus Irwan.

Dr. H.Muhajir, MPd, Sekretaris PWNU DIY, juga seorang akademisi UIN Sunan Kalijaga sebagai pemateri kedua  menyampaikan tentang, “Harmoni  dalam Keberagaman; Mencegah  dan Mengelola Konflik Keagamaan di Indonesia”.

Dengan titik tekan  pada  penguatan peran Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB)  secara maksimal, literasi keagamaan yang  moderat, patroli digital dan keterlibatan  tokoh, masyarakat dalam perumusan  kebijakan daerah. (Arif Faozi_KUA Piyungan).

 

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *