Dirjen Kemenhaj RI Memotivasi dengan “Jamak Taksir

Prof. Dr. rer.nat. Jaenal Effendi, S.Ag.,MA menerima piagam dari Ketua PWNU DIY Dr. KH A. Zuhdi Muhdlor SH MHum.

Bangkitmedia.com, YOGYA – “Kita harus berani menjadi jamak taksir, bila organisasi kita akan mendapatkan kemulian dan keluhuran dalam berperan di masyarakat. Berani berpikir out of the box untuk membuat terobosan dalam pelayanan umat’,  ungkap Prof. Dr. rer.nat. Jaenal Effendi, S.Ag.,MA, Direktur Jendral Pengembangan  Ekositem Ekonomi Haji dan Umrah, pada diskusi yang bertema Pengembangan Ekosistem  Haji dan Umrah di Indonesia dan Peluang bagi Warga NU DIY, di Aula PWNU DIY, Rabu, 15/07/2026 malam.

Hadir dalam acara tersebut Ketua Tanfidziyah PWNU DIY, Dr. KH Ahmad Zuhdi Muhdhor, Seketaris PWNU Dr. Muhajir, Katib PWNU, KH Edy Musaffa, M.Ag, PLT Kakanwil Kemenhaj DIY, Hj. Silvia Rosetti, S.E., M.Si, Kakanwil Kemenag DIY, Dr. Ahmad Bahiej, SH., M.Hum serta para Ketua PCNU se-DIY beserta jajarannya para pelaku pengembangan ekonomi haji dan umrah DIY.

Bacaan Lainnya

Ketua PWNU DIY, menyambut baik atas diskusi ini untuk menangkap peluang baru dari pengembangan ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah ini. Agar umat Islam Indonesia tiak hanya jadi obyek (Maf’ul) tapi juga bisa menjadi pelaku yang berperan aktif (Fail) di ekositem haji dan umrah yang baru ini.

Diskusi yang diselenggarakan oleh Lembaga Perekonomian PWNU DIY ini sangat meriah yang dipandu oleh sekretaris PWNU DIY, Dr Muhajir. Prof. Jaenal Effendi lebih senang menggunakan metafora dan filosofi dari hukum nahwu (gramatika Arab) untuk  motivasi  mengambil peluang ekonomi di ekosistem baru ini. Yaitu seperti menyampaikan betapa perubahan diri kita baik secara pribadi maupun organisasi harus beranai sebagaimana bentuk jamak taksir.

“Jamak taksir adalah perubahan kata dari bentuk tunggal (mufrad) menjadi jamak yang merombak struktur aslinya (dipecah). Secara filosofis, ini mengajarkan bahwa kuantitas yang lebih besar tidak sekadar menambah jumlah, melainkan mengubah identitas, mendewasakan, dan membentuk dimensi makna yang sama sekali baru dibandingkan saat ia sendiri,” ungkapnya sang Dirjen yang alumni Pesantren Lirboyo ini.

NU bila ingin mencapai kemajuan dan menggapai keluhuran (rafa’) harus berani out of the box, ambil terobosan peluang yang ada di ekositem haji dan umrah yang baru ini. Jangan hanya mereka, negara lain seperti Arab Saudi, Turkey, Cina, Malaysia  yang banyak medapatkan keuntungan dari ibadah haji ini.

Sejak dulu peristiwa haji adalah bertemunya masyarakat dunia yang tidak hanya beribadah saja tapi juga ada nilai bisnis untuk keuntungannya kembali kepada masyarakat muslim di penjuru dunia. “Karena itu kita perlu bersama-sama untuk bersanding bukan bersaing, untuk bisa memenuhi kebutuhan para jamaah haji/umrah ini yang terus meningkat dalam setiap tahunnya, tidak hanya travelnya, perlengkapan haji/umrahnya, tapi juga sekaligus cindera mata haji, oleh-olehnya untuk para jamaah, semuanya bisa kita produksi sendiri, kecuali air zam-zam!, pungkasnya.

Untuk itu, perlu saatnya Lembaga Perekonomian PWNU DIY menangkap peluang ini dengan sebaik-baiknya untuk segera menjadi “jamak taksi”r istilah lainnya out of the box untuk bisa menjadi fail dalam ekositem ekonomi Haji dan Umrah ini. (Arif Faozi)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *