Kyai Chasan, Berkhidmah Membuka “Pintu Ndalem” KH. Ali Maksum

KH Chasan Abdullah pada acara “Rutinan Malam Sabtu Legi”, (17/07/2026) di Asrama Taman Santri PP Krapyak Yogyakarta .

Bangkitmedia.com, YOGYA – KH Chasan Abdullah, pengasuh Pondok Pesantren Assalafiyah, Mlangi Sleman, yang mejadi narasumber pada acara “Rutinan Malam Sabtu Legi”, (17/07/2026) di Asrama Taman Santri PP Krapyak Yogyakarta sangat terkesan dengan Maqalah yang sering disampaikan KH. Ali Maksum.

قَالَ بَعْضُهُمْ أَلْعَبْدُ حُرٌّ إِنْ قَنِعَ وَالْحُرُّ عَبْدٌ إِنْ قَنَعَ

Bacaan Lainnya

Artinya: “Sebagian ulama berpendapat, ‘Seorang budak layaknya seorang yang merdeka jika ia ridha, dan seorang yang merdeka layaknya seorang budak jika ia masih meninta-minta’.” Lebih lanjut beliau menjelaskan dalam syairnya,

أَلْعَبْدُ حُرٌّ إِنْ قَنِعَ © وَالْحُرُّ عَبْدٌ إِنْ طَنَعَ فَاقْنَعْ وَلَا تَطْنَعْ فَمَا © شَيْئٌ يَشِيْنُ سِوَى الطَّمَعُ

Artinya: “Seorang budak layaknya seorang yang merdeka jika ia ridha, dan seorang yang merdeka layaknya seorang budak jika ia masih meninta-minta.” Maka ridhalah dan jangan meminta-minta, karena sesungguhnya tidak ada perangai yang lebih jelek selain daripada thama’ (mengharap kepada selain Allah).

Maqalah yang senantiasa dijiwai oleh Kyai Ali dan diajarkan kepada santri-santrinya agar memperoleh ilmu yang bermanfaat di dunia dan akhirat. Dan karena ilmulah para ulama itu adalah hamba yang paling takut (taqwa) kepada Allah swt.

Menurut Kyai Chasan yang juga sebagai Wakil Ketua PWNU DIY,  bahwa seorang santri, memperoleh ilmu tidak selalu terjadi melalui proses pembelajaran. Ada kalanya ilmu justru datang melalui khidmah murid kepada guru.

Beliau bercerita selama empat tahun menjalani sorogan kepada Allahuyarham KH. Ali Maksum, mengayuh sepeda dari Mlangi menuju Krapyak. Suatu hari KH. Ali menilai sorogan itu sudah cukup dan meminta beliau melanjutkan sorogan kepada guru-guru lain di Krapyak.

Sebagaimana yang disampaikan oleh para alumnus lainnya, Kyai Ali adalah guru yang sangat sederhana, tidak ada jarak dengan santri dan senang bercanda kepada santri-santrinya. “Pokoknya, sangat sulit mencari ganti sosok Kyai sealim dan setawadhu’ kyai Ali.

Menghormati pejabat tinggi, para ulama besar dan orang biasa tetap sama saja”, ungkap Kyai Chasan.

Lebih lanjut Kyai Chasan menyampaikan, yang paling membekas dalam ingatan bukan hanya saat-saat menjalani sorogan. Beliau justru merasa lebih banyak memperoleh ilmu ketika menjalankan khidmah kepada sang guru. Salah satu tugas yang rutin beliau lakukan adalah membuka pintu ndalem setiap hari pukul empat sore, sebagaimana diperintahkan oleh KH. Ali. Pengalaman ini membuat beliau merasa kalau ilmu tidak hanya diperoleh melalui pengajaran tapi juga melalui kepatuhan kepada guru.(Arif Faozi, alumnus PP Krapyak Ali Maksum)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *