Bangkitmedia.com, YOGYAKARTA – Pimpinan Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DIY mengajak umat Islam menjadikan nilai kemanfaatan sebagai orientasi utama kehidupan. Hal itu ditegaskan Ketua Tanfidziyah PWNU DIY, Dr KH Ahmad Zuhdi Muhdlor SH MHum, dalam kajian One Day One Ayat bertema “Hidup untuk Memberi Manfaat” yang disiarkan melalui kanal YouTube Nahnu TV, Sabtu (28/02/2026).
Dalam tausiyahnya, Kiai Zuhdi mengangkat QS Ar Ra’d ayat 17 sebagai landasan refleksi. Ayat tersebut menjelaskan perumpamaan antara buih dan sesuatu yang memberi manfaat bagi manusia.
أَنزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَسَالَتْ أَوْدِيَةٌ بِقَدَرِهَا فَاحْتَمَلَ السَّيْلُ زَبَدًا رَّابِيًا ۚ وَمِمَّا يُوقِدُونَ عَلَيْهِ فِي النَّارِ ابْتِغَاءَ حِلْيَةٍ أَوْ مَتَاعٍ زَبَدٌ مِّثْلُهُ ۚ كَذَٰلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الْحَقَّ وَالْبَاطِلَ ۚ فَأَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاءً ۖ وَأَمَّا مَا يَنفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي الْأَرْضِ ۚ كَذَٰلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ
“Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, lalu arus itu membawa buih yang mengambang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti (buih arus) itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (tentang) yang benar dan yang batil. Adapun buih itu akan hilang sebagai sesuatu yang tidak ada gunanya; tetapi yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan.” (QS Ar Ra’d: 17)
Ayat ini menjadi fondasi kuat dalam memahami bahwa kebenaran dan kemanfaatanlah yang bertahan, sementara kebatilan dan kesia-siaan akan lenyap dengan sendirinya.
“Adapun buih, maka ia akan hilang sebagai sesuatu yang tidak ada artinya. Sedangkan yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia akan tetap eksis di bumi.”
Menurutnya, buih dalam ayat tersebut dapat dimaknai sebagai simbol kebatilan, kesia-siaan, atau sesuatu yang tidak memiliki nilai kemanfaatan. Secara sunatullah, hal-hal yang tidak memberi manfaat pada akhirnya akan lenyap ditelan zaman.
“Ini hukum alam yang objektif. Siapa pun yang tidak menyesuaikan diri dengan sunatullah, yakni tidak memberi manfaat, maka ia akan tersisih,” tegasnya.
Sebaliknya, sesuatu yang membawa manfaat, baik dalam skala kecil di lingkungan keluarga maupun dalam lingkup sosial yang lebih luas, akan memiliki daya tahan eksistensial. Ia akan tetap hidup, bahkan melampaui usia biologis pelakunya.
Kiai Zuhdi juga mengutip sabda Nabi Muhammad SAW, “Khairunnasi anfa’uhum linnas” (sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain). Hadis ini, menurutnya, memperkuat pesan Alquran bahwa ukuran kemuliaan manusia terletak pada kontribusi nyata bagi sesama.
Kajian tersebut mengajak umat untuk membangun orientasi hidup berbasis kontribusi, bukan sekadar eksistensi personal. Memberi, berbagi, dan berperan aktif dalam kehidupan sosial dipandang sebagai investasi amal jariyah, kebaikan yang terus mengalir meskipun seseorang telah wafat.
“Marilah kita terus berusaha memberikan manfaat sebesar-besarnya kepada sesama manusia dan lingkungan. Agar setiap langkah kita menjadi amal yang tetap eksis, meski kita telah tiada,” tandasnya.
Kajian One Day One Ayat ini menjadi pengingat, bahwa dalam perspektif Alquran, yang abadi bukanlah yang tampak gemerlap, melainkan yang memberi makna dan manfaat bagi kehidupan. (Gusayu)








