Muhajir Sampaikan Tiga Prasyarat Menjadi Orang Baik

Kegiatan rutrin Mujahadah Rutin dan Halal Bihalal keluarga besar MI Sananul Ula di serambi Masjid Nawwal Muttaqien, Daraman, Kalurahan Srimartani, Kapanewon Piyungan, Bantul Ahad (11/4/2026).

Bangkitmedia.com, Bantul – Sekretaris PWNU DIY, Dr H Muhajir MSI, menyampaikan tiga prasyarat untuk menjadi pribadi yang baik dalam tausiyah pada kegiatan Mujahadah Rutin dan Halal Bihalal keluarga besar MI Sananul Ula di serambi Masjid Nawwal Muttaqien, Daraman, Kalurahan Srimartani, Kapanewon Piyungan, Bantul Ahad (11/4/2026).

Dalam tausiyahnya tersebut, Muhajir menerangkan tips untuk menjadi orang baik. “Ketika kita diberi kesempatan untuk hidup di dunia, maka berusahalah semaksimal mungkin untuk menjadi orang salih. Jangan sampai gagal menjadi orang yang tidak salih,” paparnya.

Bacaan Lainnya

Merujuk beberapa lafadz dalam Asmaul Husna yang terdapat pada Surah An Naas, Muhajir menyampaikan tentang prasyarat menjadi orang yang baik. Pertama, lafadz Rabbin nas‘,  adalah potongan ayat pertama dari Surah An Naas yang berarti Tuhan manusia atau Pemelihara/Pendidik manusia. Jika dimaknai sebagai pendidik, maka pendidikan memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan di dunia ini.

Bukankah tugas seorang rasul memang mendidik atau memelihara umatnya untuk keluar dari kegelapan peradaban? Sebagaimana tersurat dalam Surah Ali Imran ayat 164, Allah Ta’ala berfirman:

“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.”

“Jadi, pendidikan adalah prasyarat mutlak baik atau buruknya seseorang dalam menjalani hidup di dunia. Pendidikan dapat diperoleh secara formal maupun nonformal, tergantung niat setiap orang untuk menjadi pribadi yang baik atau tidak,” tegasnya.

Kedua, lafadz Malik yang bermakna Sang Raja. Malikin naas artinya ‘Raja manusia’. Kalimat ini berasal dari Surah An Naas ayat 2 yang menegaskan, bahwa Allah Ta’ala adalah penguasa tertinggi dengan kekuasaan sempurna atas seluruh manusia.

Menjadi orang yang baik harus memiliki sumber daya manusia (SDM) unggul yang mampu mengendalikan dan memengaruhi masyarakat sekitarnya, serta mengelola kekayaan materi yang memadai untuk kepentingan masyarakat luas.

Ketiga, Ilahinnas’  yang berarti ‘Sembahan manusia’ atau ‘Tuhan yang disembah oleh manusia’. Ungkapan ini merupakan ayat ketiga dari Surah An Naas yang menegaskan bahwa Allah adalah satu-satunya Dzat yang berhak disembah, dicintai, dan diagungkan oleh seluruh manusia.

“Orang yang baik tentu memiliki sandaran vertikal kepada Tuhannya sebagai seorang hamba yang ahli ibadah,” lanjut Sekretaris PWNU DIY.

Lebih ringkasnya, Muhajir menerangkan bahwa fase-fase kehidupan harus dijalankan secara tertib. Pada masa anak-anak, waktu harus dimaksimalkan untuk belajar guna meraih peluang yang lebih luas dalam berbagai aspek kehidupan.

Hal ini menjadi bekal untuk menghidupi keluarga (ma’isyah) secara optimal sekaligus menjadi teladan di lingkungan masyarakat. Kemudian, pada masa tua, seseorang dapat lebih fokus dalam beribadah kepada Allah SWT hingga akhirnya meraih husnul khatimah. (Arif Faozi)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *