Perluas Kiprah di Akar Rumput, Harlah 80 Muslimat Resmikan Paralegal Hukum

Ibu-ibu Muslimat NU DIY bersama Ketua Dewan Pembina Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa dan Ketua Umum PP Muslimat NU Arifatul Choiri Fauzi.

Bangkitmedia.com, YOGYA — Ketua Umum Dewan Pembina PP Muslimat Nahdlatul Ulama, Dr. Hj. Khofifah Indar Parawansa, M.Si. menuturkan bahwa Muslimat NU sudah terbiasa hadir dengan kemandirian. “Mereka ingin menanam jariyah”, ungkapnya. Kemandirian yang dirawat dalam tubuh Muslimat NU adalah hal yang sangat penting dalam menyambut Indonesia Emas.

Pernyataan ini disampaikannya dalam Pidato Peringatan Hari Lahir ke-80 Muslimat Nahdlatul Ulama dan Halal bi Halal PW Muslimat NU DIY yang diselenggarakan secara megah di Convention Hall UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Bacaan Lainnya

Dihadiri oleh berbagai tokoh NU khususnya anggota Muslimat dari berbagai penjuru DIY. Selain Dr Khofifah, hadir juga Ketua Umum PP Muslimat NU yang juga Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Anak (PPA) Dra. Hj. Arifatul Choiri Fauzi M.Si, KH A Zuhdi Muhdlor (Ketua Tanfidziyah PWNU), KH Mas’ud Masduqi (Rais Syuriah PWNU), Prof. Noorhaidi Hasan M.A (Rektor UIN Sunan Kalijaga), Manager PT Bank Syariah Indonesia, Prof. Dr. KH Machasin MA (Ketua Umum MUI DIY), Hj. Fatma Amelia S.Ag M.Si (Ketua PW Muslimat NU DIY), dan Drs. H. Faishol Muslim (Kepala Biro Kesra Setda DIY).

Para hadirin peringatan Harlah ke-80 Muslimat NU di Convention Hall UIN Suka.

Khofifah menegaskan, agensi perempuan Muslimat sudah banyak menyebar dalam ranah yang strategis, banyak menjadi pakar dalam teknologi, bahkan juga masuk dalam Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA).

Kegiatan dimulai dengan Istighotsah dan penampilan Hadrah Annisa PCNU Gunungkidul, dibarengi dengan santunan anak yatim. Dengan mengusung tema besar, “Merawat Tradisi, Menguatkan Kemandirian, Meneduhkan Peradaban”, Harlah Muslimat NU bertekad menyusun formulasi transformatif dalam mencapai kesejahteraan terutama bagi perempuan dan anak. Khofifah membangkitkan semangat audiens dalam usaha ini dengan realita bahwa ‘kita tidak bisa menunggu siapa-siapa’. Perempuan Muslimat harus menjadi bagian dari penyelesaian masalah (how to solve the problem). Karena itu, momentum yang pas untuk mengukuhkan peran dan tanggungjawab paralegal di hadapan seluruh elemen Muslimat.

Paralegal Muslimat NU yang diresmikan.

Program yang menjadi fokus Muslimat NU ke depannya dalam usaha merealisasikan cita-cita ini adalah optimalisasi Paralegal Bantuan Hukum yang berkolaborasi dengan KemenPPPA (Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak). Muslimat sebagai garda bantuan hukum bagi masyarakat akar rumput terutama bagi kaum perempuan dan anak.

Kepala Pusat Pembudayaan dan Bantuan Hukum Badan Pembinaan Hukum Nasional Kementerian Hukum Republik Indonesia, Constantinus Kristomo— hadir dalam kegiatan ini—mengatakan, pendekatan paralegal yang diusung dengan mengedepankan prinsip restorative justice ini diambil dengan mempertimbangkan adanya keterbatasan jarak dan waktu. Prinsip ini fokus pada pemulihan, memediasi penyelesaian masalah, dan mengusahakan dialog dan kesepakatan bersama.

Hal ini diinisiasi dan disampaikan sebagai respons terhadap problematika ibu dan anak di desa (grassroot) yang memiliki keterbatasan aksesibilitas dan jauh dari layanan advokasi dan bantuan hukum.

Arifatul Choiri Fauzi menambahkan, sebab seorang perempuan memiliki kiprah penting dalam melahirkan generasi unggul, ke depannya. Diharapkan Muslimat tidak hanya fokus pada kerja spiritual seperti tahlilan dan pengajian, namun juga melebarkan sayap dalam kerja profesional. Maka dalam acara ini juga dilangsungkan penganugerahan bagi tokoh Muslimat penggerak. Sebanyak 10 perempuan Muslimat dari berbagai komunitas hadir untuk menerima cenderamata dan bingkisan. Mereka adalah Hj Mien Asrofah SPdI, Dra Hj Etty Sa’diyah MSi, Hj Shoimah Arwani, Hj Siti Nurrohmah SAg, Hj Alfiyah SPd, Lina Mariana MA, Dra Hj Fatchiyah Muhammad, Dra Hj Siti Lestari Saiful Mujab, Dr Hj Siti Maryam Machasin MAg, Hj Lutvia Dewi Malik SAg.

Harlah Muslimat kali ini juga disemarakkan dengan sesi Penyerahan Plakat dari BSI kepada PW Muslimat NU DIY sebagai tanda kerjasama. Kegiatan ini kemudian ditutup dengan doa oleh Hj. Ida Fatimah dan KH Mas’ud Masduqi, serta menyanyikan Hymne Muslimat NU dan sesi foto bersama seluruh peserta yang hadir.

Rangkaian kegiatan Harlah Muslimat ke-80 tidak berakhir hanya sampai hari ini, selanjutnya pada 19 April Muslimat NU akan menyelenggarakan layanan cek kesehatan gratis dan penguatan Aswaja yang bertempat di Gedung Al-Azhar Yogyakarta. (Hana Rusmalia)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *