Konsolidasi dan Realisasi Program 2026 dalam Momentum Halal Bi Halal LTM PWNU DIY

Bangkitmedia.com, YOGYA – Suasana hangat penuh keakraban terasa di ruang rapat kantor Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Daerah Istimewa Yogyakarta (PWNU DIY) saat Lembaga Ta’mir Masjid Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Daerah Istimewa Yogyakarta (LTM PWNU DIY) menggelar Halal Bi Halal yang dirangkai Rapat Koordinasi Realisasi Program Tahun 2026, Sabtu (11/4/2026). Kegiatan ini menjadi titik temu antara silaturahmi dan langkah strategis dalam mengakselerasi program kerja organisasi.

Acara dihadiri jajaran pengurus LTM PWNU DIY, perwakilan LTM PCNU se-DIY serta para ta’mir masjid percontohan. Tidak sekadar temu kangen pasca-Ramadan, forum ini juga menjadi ruang konsolidasi gagasan dan penguatan arah gerak organisasi ke depan.

Bacaan Lainnya

Ketua LTM PWNU DIY KH Bashori Alwi, dalam pengantarnya menegaskan momentum Syawal harus dimaknai lebih dari sekadar tradisi saling memaafkan.

“Syawal adalah titik awal untuk memperbarui semangat. Kita buka pintu maaf, sekaligus membuka lembaran baru untuk kerja-kerja yang lebih solid dan berdampak,” ungkapnya.

Ia menekankan pentingnya membangun kekompakan lintas struktur, mulai dari tingkat wilayah, cabang, hingga pengurus masjid. Menurutnya, kekuatan LTM PWNU DIY terletak pada kolaborasi dan kesatuan visi dalam memakmurkan masjid.

Berbeda dari kegiatan seremonial biasa, Halal Bi Halal kali ini langsung diarahkan pada pembahasan konkret: bagaimana memastikan program 2026 benar-benar berjalan optimal.

Sekretaris LTM PWNU DIY Jamilludin memaparkan bahwa tahun 2026 menjadi fase krusial dalam masa khidmat kepengurusan yang akan berakhir pada 2027.

“Ini bukan lagi fase perencanaan, tapi fase eksekusi total. Semua program harus kita dorong agar tuntas dan memberi manfaat nyata,” tegasnya.

Ia juga menyoroti pentingnya monitoring dan evaluasi berkelanjutan agar setiap program tidak hanya berjalan, tetapi juga berkembang.

Salah satu inovasi yang mencuri perhatian adalah pengembangan Data Masjid Nahdlatul Ulama (DAMANU) DIY, sebuah platform berbasis web yang dirancang sebagai pusat data masjid-masjid NU di wilayah DIY.

Dengan DAMANU, LTM PWNU DIY ingin menghadirkan pengelolaan masjid yang lebih modern, terukur, dan berbasis data. Informasi mengenai profil masjid, potensi jamaah, hingga kebutuhan pengembangan dapat diakses secara sistematis.

Tak hanya itu, LTM PWNU DIY juga tengah menyiapkan buku saku manajemen masjid NU yang dijadwalkan launching pada Mei mendatang. Buku ini diharapkan menjadi pegangan praktis bagi takmir dalam meningkatkan kualitas tata kelola masjid.

Apresiasi datang dari KH Ahmad Lutfi yang menilai langkah LTM PWNU DIY sebagai terobosan penting dalam menjawab tantangan zaman.

“Masjid hari ini tidak cukup hanya dikelola secara konvensional. Harus ada inovasi, termasuk pemanfaatan teknologi. DAMANU ini sangat strategis,” ujarnya.

Ia juga mendorong agar inovasi tersebut terus dikembangkan dan diintegrasikan dengan program pemberdayaan umat yang lebih luas.

Dalam forum tersebut, para tokoh sepakat bahwa peran masjid harus terus diperluas dan diperkuat.

Menurut KH Bashori Alwi, masjid memiliki potensi besar sebagai pusat peradaban umat.

“Kalau masjid dikelola dengan baik, ia bisa menjadi pusat pendidikan, ekonomi, bahkan solusi sosial. Ini yang harus kita dorong bersama,” tegasnya.

Sementara itu KH Ahmad Lutfi menambahkan bahwa keterlibatan generasi muda menjadi kunci keberlanjutan.

“Masjid harus ramah bagi anak muda. Libatkan mereka, beri ruang kreativitas. Dengan begitu, masjid akan tetap hidup dan relevan,” katanya.

Di sisi lain, Jamilludin mengingatkan bahwa tantangan terbesar bukan pada ide, melainkan konsistensi pelaksanaan.

“Program yang baik harus diikuti dengan komitmen yang kuat. Konsistensi itulah yang akan menentukan keberhasilan,” ujarnya.

Kegiatan ini menegaskan bahwa LTM PWNU DIY tidak hanya bergerak dalam ranah administratif, tetapi juga membawa misi besar: mentransformasi masjid menjadi pusat kehidupan umat yang dinamis dan berdaya.

Dengan semangat Syawal yang penuh keberkahan, LTM PWNU DIY optimistis mampu menuntaskan program-program strategisnya. Sinergi antar pengurus, inovasi digital, serta komitmen bersama menjadi modal utama dalam mewujudkan masjid yang makmur dan memakmurkan.

Dari Yogyakarta, langkah kecil ini diharapkan mampu memberi dampak besar—tidak hanya bagi warga NU, tetapi juga bagi kemajuan umat secara luas. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *