Idul Fitri, Momen Retret Transedental

Opini Prof Dr KH Fathorrahman Ghufron, Wakil Katib PWNU DIY. Guru Besar UIN Sunan Kalijaga

IDUL Fitri merupakan proses refleksi dan introspeksi diri untuk memahami sebuah asal usul keberadaan kita sebagai manusia yang suci (Kullu mauludin yuladu ala al firah). Terlebih selama puasa Ramadhan, ada berbagai anjuran kebajikan dan keutamaan peribadatan yang perlu dieksternalisasi di setiap waktu, agar kita bisa menginternalisasi makna dan hikmah yang terkandung dalam pesan moral tersebut. Melalui cara ini, maka dua aspek tersebut akan disadari dan diyakini sebagai landasan objektivasi dalam menjalani kehidupan yang penuh tantangan dan godaan.

Bacaan Lainnya

Di samping itu, dalam Idul Fitri terdapat nuansa transendental yang meneguhkan nilai-nilai sosial keagamaan yang meliputi nilai kesucian tentang sebuah kejadian manusia. Dari nilai ini kita diingatkan hakikat hidup yang sebenarnya (sejatining urip) yang tak sekedar bersandar pada aspek lahiriah, melainkan juga pada kesadaran batin yang menyatu dengan Tuhan.

Nilai kebajikan sebagai dasar prasangka kepada siapapun lantaran pada dasarnya manusia adalah baik sebelum terbukti jahat. Dari nilai ini kita diajari agar selalu berpikir positif (positive thingking) agar kita bisa mengendalikan diri dari jebakan-jebakan emosional yang dapat merugikan diri kita sendiri.

Nilai kebahagiaan yang tak sekedar ditentukan oleh kuantitas modal sosial maupun neraca pendapatan. Akan tetapi kebahagiaan yang dilandasi oleh spirit saling berbagi agar apa yang kita nikmati dapat dinikmati pula oleh pihak lain. Dan, nilai kebersamaan yang dijadikan pandu kohesifitas sosial bernilai lebih (barokah atau added value) oleh siapapun untuk duduk sama rendah berdiri sama tinggi.

Momen Transendental

Sebagai momen transendental, Idul Fitri mengajak siapapun untuk memusatkan perhatian, melihat segala persoalan yang menjadi bahan pergumulan dengan cermat, dan menghadirkan komitmen (keimanan sosio-teologis) yang lebih berdaya dan relevan ketika berhadapan dengan kenyataan. Melalui langkah-langkah taktis-strategis tersebut, Idul Fitri juga menjadi titik tolak untuk mengeksplorasi pertanyaan yang paling elementer dalam kehidupan kita; peran apa yang harus dimainkan dalam membentuk masa depan?

Dalam kaitan ini, kesan dan pesan transendental yang terkandung dalam Idul Fitri di atas menjadi bekal kesadaran kritis bagi kita untuk menghadapi siapapun dengan gelar maupun status (nasab) apapun. Idul Fitri yang mengajak kita berjarak sambil merenungi diri (retret), sesungguhnya ingin mengingatkan kita agar tidak mudah terbuai dan terpesona dengan tampilan orang. Karena, merujuk pandangan Erving Guffman dalam buku The Presentation of Self in Everyday Life, tampilan seseorang seringkali bersifat teateris. Di mana antara panggung depan (front stage), panggung belakang (back stage), dan panggung luar (out stage) menunjukkan perilaku yang berbeda-beda dan bahkan bisa berlawanan.

Ketika seseorang yang dianggap tokoh atau mempunyai jabatan prestisius di bidang agama, politik, ekonomi, dan apapun dijadikan sebagai sumber perhatian, perlu disikapi dengan cara sederhana dan tak berlebihan. Sebab, bisa jadi ketika dia berada di panggung depan dia berusaha menunjukkan tampilan yang lebih baik hanya sekedar untuk memenuhi kepuasan pihak lain (audience). Sementara, ketika dia berada di panggung belakang justru mencerminkan watak aslinya yang jauh dari kearifan dan kebajikan.

Di luar motif tampilan yang serba fatamorgana tersebut, Idul fitri menyediakan sebuah panggung luar yang suasananya non-formal, egaliter, tidak artifisial, dan tidak terkerangkeng oleh penilaian orang lain yang serba subjektif. Melalui panggung luar ini, kita diajak berdarma bakti kepada siapapun namun tidak melupakan darma bakti kepada diri kita sendiri maupun keluarga.

Pada titik ini, Idul Fitri yang dijalani oleh ummat Islam seharusnya dimanfaatkan sebagai momen retret transendental. Dalam momen ini, kita mengambil jarak dengan apapun agar kita bisa melakukan identifikasi terhadap segala situasi, baik kebaikan lebih-lebih keburukan. Selain itu, melalui cara ini pula, kita bisa membandingkan antara situasi masa lalu dengan masa sekarang untuk sekaligus mengevaluasinya, mengapa masa lalu lebih baik dan masa sekarang tidak baik, atau sebaliknya.

Refleksi diri semacam ini bermanfaat untuk mengimajinasikan masa depan agar benar-benar bisa lebih baik dari masa sekarang dan masa lalu. Sehingga, kita berusaha untuk selalu menjadi orang baik, dengan perilaku yang baik yang tak dipolesi pretensi dan tendensi, dan tidak terjebak dalam sesat pikir dramaturgi.

Semoga, melalui Idul Fitri yang disikapi sebagai retret transendental, kita bisa terlahir kembali dan hadir sebagai manusia otentik yang sadar asal usul dalam menjalani kehidupan yang penuh tantangan.(*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *