“Ya Rabbi, Tambahkanlah Ilmu Padaku..!”

Ilustrasi Istimewa
Arif Fauzi Marzuki

Oleh Arief Fauzi Marzuki

فَتَعَٰلَى ٱللَّهُ ٱلْمَلِكُ ٱلْحَقُّ ۗ وَلَا تَعْجَلْ بِٱلْقُرْءَانِ مِن قَبْلِ أَن يُقْضَىٰٓ إِلَيْكَ وَحْيُهُۥ ۖ وَقُل رَّبِّ زِدْنِى عِلْمًا

Artinya: Maka Maha Tinggi Allah Raja Yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al qur’an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu, dan katakanlah: “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan”. (QS. Thaha: 114)

Penjelasan lebih lanjut dalam tafsirnya ayat tersebut bahwa; Maha Agung Allah Dzat yang Maha Merajai, lagi Maha Benar Dzat dan Sifat-Nya dari bentuk karakter para makhluk dan dari apa yang dikatakan orang-orang musyrik.

Dan janganlah tergesa-gesa wahai Nabi dalam membaca Al-Qur’an ketika diturunkan sampai sempurna wahyu (yang diturunkan) itu, dan sampai Jibril telah selesai menyampaikannya kepadamu.

Dan katakanlah: “Wahai Tuhanku, tambahkanlah ilmu sampai aku mendapatkan banyak ilmu sebagai ganti ketergesa-gesaanku.”

As-Sadi berkata: “Suatu ketika Nabi SAW saat menerima Al-Qur’an dari Jibril, beliau kesulitan menghafalnya, sehingga itu menyulitkan dirinya, dan beliau takut Jibril segera naik (pergi), sedangkan beliau belum menghafalnya. Kemudian turunlah ayat ini”.

Mengikuti kajian Bersama Gus Baha’ di Kudus, bahwa ilmu itu harus selalu diperbarui (rabbii zidnii ilma), karena manusia tidak pernah benar-benar tahu cara pandang Allah secara utuh, terutama dalam persoalan sosial. Ibadah Mahdhoh seperti salat sudah memiliki aturan baku, tetapi dalam urusan sosial, kebaikan bisa berbeda bentuk tergantung situasi dan budaya.

Dalam bermasyarakat juga ada ilmunya, yaitu ilmu sosial yang tentu berbeda dengan konteks Masyarakat sekitar. Kita bisa ambil contoh ada hadis Nabi Muhammad saw., “barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berbuat baiklah sama tetangga kalian.”

Pada praktiknya, berbuat baik kepada tetangga di masyarakat kota tentu berbeda dengan hidup bertetanggan di kampung atau pedesaan.

Menyapa tetangga Ketika berpapasan di jalan adalah perbuatan baik dan sopan dengan tetangga bagi masyarakat desa, tapi tidak bagi masyarakat kota yang sangat sibuk dan butuh privasi. Menyapa terkadang dianggap “mengganggu” aktivitasnya. Ini Adalah bentuk pembaruan ilmu yang harus kita dapatkan dan amalkan.

Sebagai contoh lagi mengamalkan apa yang tersurat dalam surat Al Ahzab ayat 32:

يٰنِسَاۤءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَاَحَدٍ مِّنَ النِّسَاۤءِ اِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِيْ فِيْ قَلْبِهٖ مَرَضٌ وَّقُلْنَ قَوْلًا مَّعْرُوْفًاۚ

“Wahai istri-istri Nabi, kamu tidaklah seperti perempuan-perempuan yang lain jika kamu bertakwa. Maka, janganlah kamu merendahkan suara (dengan lemah lembut yang dibuat-buat) sehingga bangkit nafsu orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik.”

Ini berlaku untuk istri-sistri atau perempuan siapa saja, tidak hanya untuk para istrinya Nabi Muhammad saw., bahwa perempuan cantik jangan melembutkan perkataan sehingga membuat pria lain tertarik untuk menggoda kalian. Jadi perempuan cantik menurut Gus Baha’ lebih baik  “judes”. Karena sikap judes lebih menyelamatkan ketimbang membuat para pria yang hatinya sakit terhasut untuk menggoda.

Begitu hebat dan detailnya ajaran Al-Quran dalam menata kehormatan para perempuan-perempuan muslimah salihah. Pada awalnya “judes” adalah sikap yang buruk menurut ilmu pengetahuan, tapi begitu ada tambahan ilmu dan peningkatan wawasannya yang kian dalam ternyata bisa masuk kategori disunnahkan.

Persis pepatah Arab yang mengatakan bahwa bila seseorang banyak ilmunya, luas juga wawasannya untuk mendapatkan ilmu-ilmu yang baru. Dan tidak mudah menghakimi dengan hitam-putih. Wallahua’lam.(*)

Arief Fauzi Marzuki, Penyuluh Agama Islam (KUA Piyungan) Kemenag Bantul, DIY.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *