KH. Ali Maksum: Membangun Fondasi, Merawat Tradisi

KH. Ali Maksum

OlehMuhamad Nasrudin

Pengajar Hukum Islam di IAIN Metro, pernah nyantri kalong di Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta.

Bacaan Lainnya

Siapa yang tak kenal kiai yang satu ini. KH. Ali Maksum namanya. Ia dalah salah satu ulama besar negeri ini. Dan sebagai pendidik, sudah tak terhitung berapa banyak tokoh yang lahir dari hasil didikannya. Lahir di Lasem, 15 Maret 1915, KH. Ali Maksum adalah putra sulung KH. Maksum bin Ahmad dan Nyai Nuriyah. Ayahnya mendirikan dan memimpin pesantren al-Hidayah di tengah kota Lasem, sebuah kota kecil di pesisir utara pulau Jawa. Kini, Lasem termasuk ke dalam kabupaten Rembang.

Sewaktu kecil, Ali belajar langsung kepada ayahandanya. Pada usia yang masih sangat belia, ia dikirim ayahnya untuk belajar di Pekalongan kepada Kiai Amir. Saat ia menginjak usia 12, KH Maksum mengirim Ali kecil untuk menimba ilmu ke Termas, Pacitan, Jawa Timur, di bawah asuhan KH. Dimyati, adik kandung Syeikh Mahfudz at-Tarmasi. Ali Maksum kecil belajar di pesantren ini selama delapan tahun, sampai usia 20 tahun.

Baca Juga: KH. Ali Maksum Itu Waliyullah, Ini Buktinya!

Ada yang unik ketika Ali Maksum belajar di Termas ini. Pertama, Ali Maksum tidak tinggal di pesantren, melainkan tinggal di ndalem. Kedua, kecerdasannya yang di atas rata-rata, didukung fondasi pemikiran keagamaan yang sudah mantap, kemudian mengafirmasi KH. Dimyati untuk membiarkan Ali Maksum mengakses bacaan yang tidak lazim di pesantren, semacam karya Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, dan Ibn Taymiyah.

Akses terhadap teks-teks unik dan langka tadi tidak mungkin terjadi tanpa penguasaan yang mendalam dan luas dalam bahasa Arab. Hal inilah yang kemudian membuat Ali Maksum muda mendapat gelar “Munjid Berjalan”, mengacu pada kamus/ensiklopedi Munjid karya Louis Ma’luf, orientalis abad ke-19. Penguasaannya terhadap bahasa Arab pulalah yang mengantarkan Ali Maksum untuk bisa melahap majalah-majalah dari Timur Tengah berbahasa Arab.

Ketiga, komposisi yang komplit dan unik di atas membuka cakrawala pengetahuan dan kebijaksanaan Ali Maksum muda. Atas berbagai pertimbangan, ia kemudian mengusulkan adanya organisasi kepanduan di pesantren. Dialah yang kemudian diangkat sebagai ketuanya membawahi 2000-an santri. Di organisasi inilah bakat kepemimpinan, jiwa nasionalisme, dan keorganisasiannya terasah secara mendalam. Hingga ia diamanahi untuk menjadi kepala madrasah dalam usia yang sangat muda.

Menginjak usia 20 (tahun 1935), ia diminta pulang ke Lasem, membantu ayahnya di Pesantren al-Hidayah. Tiga tahun kemudian, ia menikah dengan Nyai Hasyimah, putri KH. M. Moenawir pengasuh pesantren al-Munawir Krapyak. Beberapa waktu sesudah ia menikah, ia ditawari oleh H. Djuned, seorang saudagar dari Kauman Yogyakarta untuk naik haji. Kesempatan ini tidak ia sia-siakan. Ali Maksum kemudian naikhaji dan mukim di Makkah selama kurang lebih tiga tahun, sampai 1941.

Selama tiga tahun inilah, ia belajar kepada banyak ulama besar di Makkah, seperti Sayyid Alawi Al Maliki dan Sayyid Umar Hamdan. Sekembali dari Makkah, ia kemudian kembali mengabdi di pesantren ayahnya. Tak berselang lama, KH. Ali Maksum diminta oleh ibu mertuanya agar diboyong ke Krapyak. Hal ini karena pesantren Al-Munawir ditinggal meninggal oleh pendirinya, KH. M. MoenawirJuli 1942. Sedangkan generasi penerus masih relatif muda, yakni KH. Abdullah Affandi (24 tahun) dan KH. Abdul Qodir (22 tahun).

Membangun Basis Pesantren

Saat KH Ali Maksum mengelola pesantren Al-Munawwir, hal yang pertama ia dilakukan adalah memperkuat fondasi pesantren. Konon, KH. Ali Maksum menutup sementara pesantrennya. Ia kemudian menggembleng santri-santri senior dan iparnya selama dua tahun penuh. Ia melakukannya dengan tangan besi dan sangat ketat. Dua tahun kemudian, santri-santri senior tadi sudah siap mendidik dan menemani para santri baru.

Fondasi yang diletakkan KH. Ali Maksum ini luar biasa kuat. Hasil pendidikannya memang betul-betul handal. Hal ini bisa dilihat dari beberapa santri senior yang juga iparnya yang sangat mumpuni dalam bidang yang digeluti masing-masing. KH. Zainal Abidin ahli fikih di Yogyakarta, KH. Abdul Qodir ahli Qur’an, KH. Warson Munawir ahli bahasa Arab dan menulis kamus Arab-Indonesia terbesar. Padahal mereka tidak mengenyam pendidikan di pesantren lain.

Baca Juga: KH. Habib Syakur: Mbah Ali Memiliki Firasat Yang Tajam

Pesantren yang semula core-nya adalah kajian al-Quran kemudian dikembangkan dengan sekolah formal. KH Ali Maksum mengembangkan TK, Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah. Ada satu gebrakan menarik yang dilakukan KH. Ali Maksum. Ketika Departemen Agama membuka IAIN, banyak pesantren yang menolak dan bahkan melarang santrinya untuk melanjutkan studi di IAIN. Tetapi KH. Ali Maksum justru mendorong santri untuk belajar di perguruan tinggi, termasuk IAIN. Bahkan, KH. Ali Maksum adalah dosen luar biasa di IAIN Sunan Kalijaga.

Di Perguruan Tinggi Islam ini, KH. Ali Maksum dikenal sebagai dosen yang pengetahuan agamanya sangat luas. Ketika ia mengajar, ia bisa menjelakan segala persoalan dengan gamblang. Dan ketika menguji skripsi, KH. Ali Maksum dipandang sebagai penguji yang ditakuti dengan pertanyaan yang menukik dan “mematikan”.Dan hasilnya, kini banyak santri yang kemudian mengisi pos-pos penting dalam masyarakat, baik swasta maupun negeri, baik dunia akademik maupun nonakademik, bertebaran di mana-mana.

Mengembalikan NU

Membangun basis yang kuat adalah hal yang juga dilakukan oleh KH. Ali Maksum dalam merawat Nahdlatul Ulama. KH. Ali Maksum termasuk kiai senior yang memiliki peran penting dalam transformasi NU. Hal ini terutama terkait ketika NU menghadapi problem paling krusial dan menentukan dalam rentang sejarah NU dan bangsa Indonesia. Kondisi ini lahir dari peta perpolitikan nasional yang memang dikuasai oleh rezim Orde Baru yang sangat represif terhadap identitas–politik Islam.

Represitas ini terjadi secara struktural dan hegemonik. Pertama dalam hal fusi partai-partai Islam yang kemudian melebur menjadi Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Lama-kelamaan, posisi NU sebagai salah satu partai yang melebur dalam PPP mengorbankan fungsi NU sebagai jami’yah organisasi sosial masyarakat Islam. Fungsi menjaga ajaran Ahlussunnah wal jamaah yang seharusnya dilakoni NU kurang maksimal karena karakter politik di NU jauh lebih kuat.

Kondisi ini lama kelamaan menyebabkan NU limbung. Kegelisahan kader NU poros nonpolitik inimemuncak. Mereka sangat ingin agar NU kembali ke rel awal ketika NU berdiri, sebagai jam’iyahsosial kemasyarakatan keislaman, bukan politik. Titik baliknya mulai terjadi ketika pada April 1982, KH. Bisyri Sansuri, Rais Am NU meninggal dunia. Sehingga, peran Tanfidziyah semakin kuat. Di sisi lain, perseteruan antara kubu Situbondo yang nonpolitis dan Cipete yang politis kian menguat.

Desakan agar KH. Idham Khalid mundur dari posisinya sebagai ketua Tanfidziyah juga menguat. Awalnya KH. Idham Khalid mundur, tetapi kemudian ia membatalkan surat pengunduran diri tersebut. Akibatnya, konflik kian memanas. Pada November 1982, dipelopori gerbong nonpolitis NU, digelarkan Munas NU di Kaliurang Yogyakarta yang salah satu agenda utamanya adalah mencari pengganti KH Bisyri Sansuri, Rais Am Syuriah NU.

Generasi muda NU yang nonpolitik seperti Gus Dur, Gus Mus, dan nama-nama lain berkeinginan agar Rais Syuriah diisi oleh tokoh kiai kharismatik berwawasan luas, mampu mengayomi, dan tentu saja cenderung nonpolitik. Pilihan ini jatuh kepada KH. Ali Maksum. Anak-anak muda ini yang secara langsung memohon kepada KH. Ali Maksum agar bersedia menjadi Rais Am. Tidak mudah bagi KH. Ali Maksum untuk sampai akhirnya mengiyakan permohonan ini.

Baca Juga:

Dalam masa kepemimpinan KH. Ali Maksum inilah, NU menyelenggarakan muktamar ke-27 di Situbondo. Beberapa keputusan penting yang muncul dari forum tertinggi ini adalah bahwa NU kembali ke jalur khittah 1926. Bahwa NU secara organisatoris tidak lagi terkait dengan partai politik, meskipun warga NU tetap diperkenankan untuk terjun ke dunia politik praktis, namun dengan tidak membawa bendera NU.

Pada masa kepemimpinannya pula, NU menjadi organisasi Islam pertama yang menerima asas tunggal Pancasila yang diterapkan oleh rezim Orde Baru. Tidak mudah memang menerima asas tunggal Pancasila ini, perdebatan yang muncul di forum itu sangat alot dan bahkan harus menggunakan bahasa Arab agar intel tidak bisa mengikutinya. Dan akhirnya, NU menerima asas tunggal Pancasila.

Pengabdian dan kiprah KH Ali Maksum kepada NU tidak diragukan lagi. Banyak pikiran, tenaga, energi, materi,dan waktu telah ia curahkan untuk membangun dan merawat NU. Terutama dalam upayanya menjaga agar NU tetap lurus dalam jalurnya. Meski di atas pembaringan lantaran sakit, KH. Ali Maksum masih menunggui Muktamar NU pada tahun 1989 di Yogyakarta. Beberapa waktu kemudian, beliau berpulang ke rahmatullah. Allah yarham. []

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *