KH Marzuki Mustamar, Saat Kecil Pelihara Kambing dan Ayam

KH Marzuki Mustamar dalam suatu pengajian Halal Bihalal. (Foto: YouTube)

Bangkitmedia.com, JATIM – Nama K.H. Marzuki Mustamar sudah tidak asing lagi di kalangan Nahdliyin. Ceramah-ceramahnya yang kritis dengan suara serak banyak muncul di media sosial. Tak heran kalau pria kelahiran Blitar 22 September 1966 ini berada di posisi kedua teratas (22,6%) hasil survei Institut Nahdliyin Nusantara (Insantara) mengenai kandidat Calon Ketua Umum PBNU 2026-2031.

Suami dari Nyai. Saidah Marzuki dan ayah 7 anak (Habib Nur Ahmad, Diana Nabela, Millah Shofiah, M. Izzal Maula, Izza Nadila, Rossa Rahmania dan Dina Roisa Kamila) ini penampilannya sederhana. Tidak pernah neko-neko. Karena begitu sederhananya, kadang orang tidak mengira bahwa beliau adalah seorang kiai. Di balik kesederhanaan beliau tersimpan lautan ilmu yang begitu luas. Kiprah beliau di masyarakat sudah tidak diragukan lagi. Gaya bicara beliau yang tegas dan lugas yang menjadi salah satu ciri khas beliau.

Bacaan Lainnya

Kiai Marzuki dilahirkan dalam keluarga yang taat beribadah sekaligus mengerti agama. Ayahnya seorang kiai. Sejak kecil Kiai Marzuki dibesarkan dan dididik oleh kedua orangtua dengan disiplin ilmu yang tinggi. Di bawah pengawasan orangtuanya,  Kiai Mustamar dan Nyai Siti Zainab ia belajar Al-Qur’an dan dasar-dasar ilmu agama.

Pendidikan formalnya ditempuh mulai TK Muslimat Karangsono Kanigoro, Blitar  tahun 1972, Madrasah Ibtidaiyah Miftahul ‘Ulum (1979), SMP Hasanuddin (1982), Madrasah Aliyah Negri Tlogo Blitar (1985), LIPIA Jakarta (1988), PP. Nurul Huda Mergosono (1990), S-1 IAIN Malang (1990), S-2 Universitas Islam Lamongan (2004) dan S-3 Universitas Islam Malang.

Selain dididik disiplin ilmu yang tinggi, waktu kecil sudah dididik tentang kemandirian agar memiliki etos kerja yang tinggi dengan cara memelihara kambing dan ayam petelur milik Bu Lik Umi Kultsum. Dengan memelihara kambing dan ayam petelur, inilah beliau mendapat pelajaran bagaimana membimbing umat Islam, dan bagaimana menjadi pemimpin.

Saat duduk di kelas 4 Madrasah Ibtidaiyah sampai sebelum belajar di Malang, anak kedua dari delapan bersaudara ini mulai belajar ilmu  nahwu, shorof, tasawuf dan ilmu fikih kepada Kiai Ridwan dan Kiai-Kiai lain di Blitar. Sejak SMP, beliau diminta mengajar Al-Qur’an dan kitab-kitab kecil lainnya kepada anak-anak dan tetangga beliau. Pada usia yang masih belia tersebut, beliau sudah mengkhatamkan dan faham kitab Mutammimah pada saat beliau kelas 3 SMP.

Lulus dari SMP Hasanuddin, beliau melanjutkan ke Madrasah Aliyah Negeri Tlogo Blitar. Kiai Marzuki muda merupakan pemuda yang beruntung sebab di usia beliau yang masih belia itu, beliau sudah mendalami ilmu agama ke beberapa orang kyai di Blitar. Di antaranya, beliau mendalami ilmu balaghoh dan ilmu manthiq kepada Kiai Hamzah. Mendalami ilmu fikih kepada Kiai Abdul Mudjib dan ngaji Ilmu Hadits kapada Kiai Hasbullah Ridwan.

Saat duduk di bangku Aliyah, sudah khatam kitab Hadits Muslim dan kitab-kitab kecil lainnya. Selama di Blitar yang mengajar beliau adalah Orang tua beliau, Kiai Hasbullah Ridwan yang masih eyang beliau, Kiai Hamzah dan Kiai Mujib adalah guru beliau di MAN Tlogo Blitar.

Setamat dari MAN Tlogo pada tahun 1985, melanjutkan jenjang pendidikan formal di IAIN (sekarang UIN Maulana Malik Ibrahim) Malang, yang waktu itu masih merupakan cabang IAIN Sunan Ampel Surabaya. Untuk menambah ilmu agama yang sudah didapat,  ia nyantri kepada Kiai Masduqi Machfudz di Pondok Pesantren Nurul Huda Mergosono. Mengetahui kecerdasan dan keilmuan Kiai Marzuki yang di atas rata-rata santrinya yang lain, akhirnya Kiai Masduqi memberi amanah kepada Kiai Marzuqi untuk membantu mengajar di pesantrennya, meski saat itu Kiai Marzuqi masih berusia 19 tahun. “Saat itu saya diminta untuk mengajar kitab Fathul Qorib bab buyuu’ (jual-beli),” Kenang kiai yang juga Dosen Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang ini.

Selain itu, Kiai Marzuki juga sering diminta mendampingi dakwah Kiai Masduqi saat mengisi pengajian maupun dalam rapat-rapat organisasi kemasyarakatan. Dari sinilah Kiai marzuki mulai mengetahui betapa beratnya tugas seorang ulama dalam mengayomi umat. Dari gurunya yang juga pernah menjabat sebagai Rois Syuriah NU Wilayah Jawa Timur itu, Kiai Marzuki belajar akan keistikamahan menjadi seorang guru.  “Kiai Masduqi Machfudz itu meskipun pulang malam hari dari mengisi pengajian, beliau selalu membangunkan para santrinya untuk mengaji,” ungkap Kiai Marzuki.

Salah satu kelebihan beliau, saat masih duduk di bangku kuliah, Kiai Marzuki sudah biasa memberikan kursus nahwu kepada mahasiswa juniornya. Namun, ternyata, banyak juga mahasiswa yang tidak hanya belajar nahwu, namun juga mengaji kitab kepadanya. Dengan demikian, keilmuan beliau semakin terasah. Kemudian pada tahun 1987 Kiai berputra tujuh ini mendapatkan kesempatan  belajar di Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) Jakarta. Setelah menempuh dua tahun masa studinya di sana, Kiai Marzuki kembali ke Malang untuk membantu mengajar di pesantren Nurul Huda, Mergosono dan melanjutkan kuliah S-1.

Pada tahun 1994, Kiai Marzuki memulai hidup baru. Beliau mempersunting salah seorang santriwati Pondok Nurul Huda yang bernama Saidah. Sang istri merupakan putri Kiai Ahmad Nur yang berasal dari Lamongan. Kiai Marzuki sangat bersyukur sekali sebab gadis yang menjadi pendamping hidup beliau adalah seorang hafidzoh (hafal Al-Qur’an).

Satu bulan setelah menikah, Kiai Marzuki bersama istri mengadu nasib dan hidup mandiri. Saat itu Kyai Marzuki memilih daerah Gasek, Kecamatan Sukun sebagai tempat jujugan beliau. Pada mulanya, beliau mencari rumah kontrakan yang dekat dengan masjid. Dan akhirnya, beliau mengontrak rumah salah seorang warga bernama Pak Har. Setelah segala sesuatunya dianggap cukup, Kiai Marzuki akhirnya menempati tempat yang baru. Pada saat beliau boyongan, tak lupa santri-santri Pondok Nurul Huda ikut mengantarkan Kiai Marzuki boyongan ke tempat barunya dan membantu usung-usung barang-barang dan kitab-kitab guru mereka.

Tanpa diduga sebelumnya, pada hari pertama beliau menempati rumah itu, ternyata sudah banyak santri yang datang mengaji kepada beliau. Di rumah yang sederhana itulah Kiai Marzuki mengajar para santri beliau. Mereka yang waktu itu belajar merupakan cikal bakal santri dan pesantren beliau yang kini menjadi benteng utama umat di wilayah Gasek. Karena santrinya semakin bertambah banyak maka rumah beliau tidak memadai sebagai tempat belajar mereka. Namun, alhamdulillah, Allah Swt. memberikan jalan. Waktu itu di daerah Gasek sudah ada Yayasan Sabilurrosyad yang sudah memiliki lahan luas. Namun, setelah beberapa tahun didirikan Yayasan ini belum bisa berkiprah secara optimal. Akhirnya Kiai Marzuki bekerja sama dengan Yayasan Sabilurrosyad mendirikan sebuah pesantren dengan Nama Sabilurrosyad.

Selain sibuk membimbing para santri, kiai yang pernah menjabat sebagai Ketua Jurusan Bahasa Arab Universitas Islam Malang ini juga disibukkan dengan urusan umat. Tiada hari tanpa memberikan pengajian atau mauidzhoh kepada umat. Mulai mengisi pengajian dari masjid ke masjid, blusukan keliling kampung dan lain sebagainya. Saat ini, Kiai Marzuki juga aktif di berbagai organisasi kegamaan di antaranya sebagai Ketua Tanfidziah PWNU Jawa Timur. Kedalaman ilmunya sangat dirasakan oleh umat. Sebagai contoh beliau menyusun sebuah kitab, tentang dasar-dasar atau dalil-dali amaliah yang dilakukan oleh warga nahdhiyyin. Melalui kitab ini, Kiai Marzuki ingin membuka mata umat bahwa amalan mereka ada dasar hukumnya, sekaligus menjawab tuduhan-tuduhan orang-orang yang tidak setuju dengan sebagian amaliah warga Nahdhiyyin. Saking hebat dan lugasnya beliau menerangkan itu semua, sampai-sampai Kiai Baidhowi, Ketua MUI Kota Malang memberi julukan “Hujjatu NU”. “Kalau Imam al-Ghozali dikenal sebagai Hujjatul Islam, maka Kai Marzuqi ini Hujjatu NU” Demikian pernyataan Kiai Baidhowi dalam beberapa kesempatan.

Penghargaan yang pernah diraih KH Marzuki Mustamar antara lain Man Of The Year Jatim 2020 dari Anugerah TIMES Indonesia dan Duta International Perdamaiandari Founder Vision Of Peace Awards Indonesia (VPAI),Demien Dematra 2020.

Kiprahnya selama ini selain menjadi pengasuh Pondok Pesantren Sabilurrosyad Gasek, pernah menjadi Ketua Tanfidziah PCNU Kota Malang (2 Periode), Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Timur 2018 – 2023, Wakil Rais Syuriah PWNU Jawa Timur, anggota Komisi Fatwa MUI Kota Malang, dosen Jurusan Bahasa Dan Sastra Arab Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, penulis tetap di Media Umat Rubrik Mutiara Hadits dan Tanya Jawab, Imam dan Khatib, pemateri Pengajian Masjid Agung Jami’ Kota Malang,Imam Dan Khatib, Pemateri Pengajian Masjid Sabilillah Kota Malang, dan menjadi anggota Dewan Pembina Forum Komunikasi Umat Beragama Kota Malang (FKUB). (Dari berbagai sumber)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *