KH Yusuf Chudlori, Kiai Sekaligus Budayawan

KH Yusuf Chudlori (Foto: Jatman Online)

Bangkitmedia.com, MAGELANG – K.H. Muhammad Yusuf Chudlori yang akrab dipangil Gus Yusuf merupakan kiai yang juga budayawan. Sehari-hari ia menjadi pengasuh Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam Tegalrejo, Asrama Pelajar Islam Syubbanul wathon Secang, Magelang. Pesantren ini pernah jadi tempat menempa ilmu oleh Presiden ke-4 Indonesia, Abdurrahman Wahid.
KH Yusuf Chudlori muncul di peringkat tiga hasil survei Institut Nahdliyin Nusantara (Insantara) sudah melakukan survei nasional Calon Ketua Umum PBNU 2026-2031 (meraih 17 %), dilahirkan di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, pada 9 Juli 1973. Ia mengasuh Asrama Perguruan Islam (API) Pondok Pesantren Salaf Tegalrejo, Magelang yang didirikan ayahnya, K.H. Chudlori pada tahun 1944. Intensitas Gus Yusuf sebagai pengasuh A.P.I. Tegalrejo semakin tinggi semenjak kakaknya, K.H. Abdurrahman Chudlori (Mbah Dur), meninggal pada 2011. Setelah itu dia ditunjuk sebagai Pengasuh A.P.I. yang bertugas di bagian urusan antarlembaga.
Lulus sekolah dasar pada 1985, Gus Yusuf lantas menuntut ilmu di Pondok Pesantren Lirboyo hingga tahun 1994. Kemudian ia memperdalam ilmu agama ke Pesantren Salafiyah Kedung Banteng Purwokerto, kemudian di Pesantren Salafiyah Bulus Kebumen. Memasuki era pergolakan reformasi 1998, Gus Yusuf bergabung dengan beberapa elemen organisasi kemasyarakatan dan mahasiswa untuk ikut berdemonstrasi. Pada 1998, Mbah Dur mengajak Gus Yusuf mengawal reformasi melalui partai politik yang didirikannya bersama Gus Dur, yakni Partai Kebangkitan Bangsa.
Pada 1999 sampai 2007 dia memimpin Dewan Pimpinan Cabang PKB Kabupaten Magelang. Tahun 2007 ketika terjadi konflik partai antara kubu Gus Dur dengan Muhaimin Iskandar, dia dipercaya menjabat sebagai pejabat sementara Ketua DPW PKB Jawa Tengah. Ia sempat tak menduduki jabatan struktural di PKB dan tampil lagi pada 2013 menjadi Ketua DPW PKB Jawa Tengah.
Selain di bidang keagamaan, K.H. Yusuf Chudlori juga berkiprah di bidang seni dan budaya dengan menggelar perhelatan seni budaya bertajuk Suran Tegalrejo setiap tahun. Bersama Tanto Mendut, dia berpartisipasi dalam acara Komunitas Lima Gunung. Gus Yusuf memang sangat terkenal sebagai kiai muda yang dekat dengan berbagai kalangan. Hal ini dikarenakan selain beliau mengasuh pesantren, memberikan hikmah-hikmah keagamaan kepada masyarakat di berbagai majlis ta’lim, juga masih mencurahkan tenaga dan pikirannya untuk perjuangan sosial-kemasyarakatan.
Diantara perjuangan sosial-kemasyarakatan yang digeluti oleh beliau adalah, mengelola komunitas kesenian-kesenian tradisional yang ada di Kab. Magelang, penasehat organisasi Komunitas Gerakan Anti Narkoba dan Zat Adiktif (KOMGANAZ) Kab. Magelang, mengelola radio komunitas (Fast-FM) yang menyiarkan program-program populis untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, mulai dari kajian keagamaan, mujahadah, berita-berita aktual, konsultasi kesehatan, bincang bisnis, infotainment, dan lain sebagainya. Siarannya juga menjangkau segmen anak muda.
Walaupun Gus Yusuf berlatar belakang pendidikan pesantren tapi beliau sangat dekat dengan para aktifis muda dan aktifis mahasiswa yang berlatar belakang pendidikan formal (sekolahan). Kedekatan ini dapat terjalin karena Gus Yusuf adalah kiai yang terbuka (egaliter) untuk berdiskusi dengan kalangan aktifis muda sebagai upaya mengurai kenyataan yang selalu berkembang seiring dengan lajunya zaman. (Diolah dari berbagai sumber)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *