Khutbah Kiai Zainal Krapyak

Khutbah Kiai Zainal Krapyak: Halus, Tapi Kadang Menyengat

Posted on

Khutbah Kiai Zainal Krapyak: Halus, Tapi Kadang Menyengat.

Masjid Pondok Pesantren Krapyak sudah mengalami khutbah beberapa kali perubahan. Pertama, di era mbah Munawwir, saya tidak begitu faham. Kedua, zamannya Simbah KH Ali Maksum, kelihatannya dibagi dua – dari dalam pesantren dan dari kampung. Ketiga, di zaman Kiai Zainal Abidin Munawwir, karena mbah Wahab – nota bene jatah orang kampung sedo, dan Pak Kiai Dalhar Munawwir – pernah adik/kakak dengan Kiai Zainal juga sedo, maka yang khutbah tinggal satu – Kiai Zainal terus.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Kiai Zainal kalau khutbah kelihatannya melihat waktu/kesempatan. Kiranya tidak ada waktu persiapan, acara padat – maka khutbahnya pendek , bahasa Arab, dan tidak diterjemahkan. Kalau ada waktu, maka diterjemahkan dan ulasan sekedarnya dengan bahasa Indonesia. Isinya pun kadang halus, tetapi kadang menyengat, sangat keras – terutama hal akidah.  O.. jangan tanya kerasnya.

Baca Juga >  Kisah Cinta Kiai Sahal Mahfudh Kajen Setelah Menikah

Sedang jika shalat Jumahnya, bacaan setelah fatihah diambilkan akhir dari Surat Al-Hasyr, dibaca dua kali, untuk rekaat satu dan dua.

Sekarang, era generasi keempat. Sesepuhnya diserahkan Kiai Najib bin Abdul Qodir. Jatah khutbah dikembalikan seperti zaman Mbah Ali, dibagi dua. Dari unsur pesantren, dan unsur kampung.

Demikian Khutbah Kiai Zainal Krapyak: Halus, Tapi Kadang Menyengat, semoga manfaat.

Krapyak, 2015

Penulis: KH Munawir AF, Mustasyar PWNU DIY.

*Refleksi Kiai Munawir AF tentang sang guru mulia, Kiai Zainal Abidin Munawwir sungguh sangat mengesankan. Melengkapi ini, silahkan saksikan video langka Kiai Ali Maksum yang menjelaskan tentang kewalian.