KH. Ahmad Yasin Asymuni, “Imam Suyuti-nya Indonesia”

KH. Ahmad Yasin Asyumuni. (Foto: Istimewa)

BERAPA lama waktu yang dibutuhkan untuk menghafal dan memahami nadhom Alfiyah ibnu Malik? Normalnya pesantren-pesantren mematok tiga atau setidak-tidaknya 2 tahun untuk mengajarkan pemahaman sekaligus memantapkan hafalan intensif santri-santrinya.

Bagaimana jika ada orang yang mengklaim bisa memahami sekaligus menghafal kitab seribu tiga bait tersebut dalam waktu tak lebih dari dua minggu? Terkesan aneh dan imajinal. Namun kesan tersebut hanya akan muncul karena pembaca belum mengenal sesosok karismatik dari lereng gunung Wilis.

Ahmad Yasin Asymuni, atau biasa dipanggil Abah Yasin oleh santri-santrinya, lahir 8 Agustus 1963 di Petuk, kecamatan Semen, Kab. Kediri. Beliau diajari langsung oleh ayahnya KH. Asymuni sebelum melanjutkan studinya di pondok pesantren Lirboyo saat menginjak 12 tahun. Di tahun pertamanya beliau adalah santri nduduk (ngelaju, pulang-pergi) dan kemudian memutuskan menetap di asrama selama kurang lebih 7 tahun.

Risalah dan profil pendidikannya memang tak sementereng kiai dan ulama-ulama besar pada umumnya yang berguru hingga negeri-negeri jauh. Namun di kemudian hari semua orang tahu, karya-karyanya membawanya mengelilingi dunia, kitab-kitabnya melesat melintasi benua, dibaca dan dikaji di Timur Tengah dan Eropa.

Sebagai kiai yang hidup di generasi milenial, beliau merupakan satu dari sedikit kiai yang senantiasa menghidupi tradisi pesantren dengan budaya menulis dan kritis yang dalam. Jika ada yang membuat Abah Yasin begitu menonjol itu adalah keuletan dan produktivitasnya yang sulit untuk ditiru.

Menurut kesaksian para santrinya, Abah Yasin sendiri hanya beristirahat kurang dari 4 jam setiap harinya. Sisa sebagian banyak harinya dihabiskan untuk belajar, mengajar, beribadah dan melakukan hal-hal produktif. Antusiasmenya terhadap ilmu inilah yang kemudian mampu menjelaskan bagaimana selama hidupnya ia memproduksi lebih dari 200 kitab, yang mayoritas berbahasa arab dan beberapa lainnya berbahasa Jawa.

Atas keuletan dan kontribusinya inilah beberapa kalangan menyebutnya sebagai “Imam Suyuti-nya Indonesia” sesuatu yang sudah sangat jarang dan sulit ditemukan di zaman sekarang.

Nama Yasin Asymuni memiliki tempat tersendiri di kalangan aktivis dan intelektualis Nahdliyin. Keahliannya yang mendalam dalam hukum Islam, membuat KH. Ahmad Yasin dipercaya menjadi figur sentral di badan Nahdlatul Ulama. Beliau aktif sebagai Tim Perumus dalam berbagai forum besar mulai dari Munas hingga Muktamar NU 1989 di Krapyak.

Kiprahnya terus menanjak saat beliau menjadi Musahih FMPP selama hampir dua dekade (1992–2010). Tak hanya itu, dedikasinya di lembaga Bahtsul Masail (LBM) membawanya menjabat sebagai Ketua LBM NU Jawa Timur sekaligus Wakil Ketua LBM PBNU, hingga akhirnya beliau diangkat menjadi jajaran pengurus Syuriyah NU Jawa Timur.

Tanggal 11 Januari 2021 lalu, Abah Yasin berpulang di umurnya yang ke 58. Selepas kepergiannya, kini seluruh peninggalannya; berupa Pondok Pesantren Hidayatut Thullab, Risalah intelektual, dan kegigihannya diteruskan oleh putra sulungnya, KH. Ahmad Riqza Muqtafa di tempat yang sama, di bawa kaki gunung Wilis, tempat di mana langit sore terlihat selalu indah.

Untuk meneladannya, ada satu pesan Abah Yasin yang tidak mungkin di lupakan oleh santri-santrinya. Beliau menuturkan “Jadilah ulama yang itelektual, dan jadilah intelektual yang ulama”. (Kautsar M. Ilahy)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *