Kisah Sahabat Sya’ban di Akhir Bulan Sya’ban

Ilustrasi (Istimewa)

KOLOM BANGKIT

Oleh Arief Fauzi Marzuki

لَقَدْ كُنْتَ فِيْ غَفْلَةٍ مِّنْ هٰذَا فَكَشَفْنَا عَنْكَ غِطَاۤءَكَ فَبَصَرُكَ الْيَوْمَ حَدِيْدٌ ۝٢٢

(laqad kunta fî ghaflatim min hâdzâ fa kasyafnâ ‘angka ghithâ’aka fa basharukal-yauma ḫadîd)

Artinya: “Sungguh, kamu dahulu benar-benar lalai tentang (peristiwa) ini, maka Kami singkapkan penutup matamu, sehingga penglihatanmu pada hari ini sangat tajam”( QS. Qof : 22).

Ayat tersebut menyadarkan kita semua, bahwa orang-orang yang sedang sakaratul maut itu dibuka matanya oleh Allah swt., untuk bisa melihat di mana kelak setelah meninggalkan dunia itu mereka ditempatkan. Di pertamanan surga, atau lubangnya got neraka?

Bila kala sakaratul mautnya dalam kondisi tenang dan raut wajahnya tersenyum itu pasti diperlihatkan surga oleh Allah dan dengan jiwa yang tenang, ridho dan diridhoi oleh Allah swt., ia masuk dalam golongan hamba Allah yang salih, dan akan masuk surga.

Sebaliknya, bila raut wajah ketakunan itu ia diperlihatkan api neraka sebagai balasan kelalaian dan kemaksiatan selama hidup di dunia. Karena itu mumpung masih di akhir bulan Sya’ban ini, kita semua bisa memaksimalkan prestasi ibadah kita, agar tidak menyesal di alam barzah.

Sahabat Sya’ban sang solih saja masih merasa menyesal amal ibadahnya merasa belum maksimal kala ditampakkan balasannya oleh Allah swt., ketika menjelang sakaratul maut.

Sya’ban Radhiyallahu’anhu adalah sahabat yang selalu hadir di masjid sebelum waktu salat tiba dan memilih posisi di pojok masjid saat salat berjamaah. Hal itu ditujukkan agar tidak mengganggu ibadah orang lain. Rasulullah SAW dan semua orang mengetahui akan kebiasaannya itu.
Pada suatu hari, Rasulullah SAW dan para sahabat melaksanakan salat berjamaah di masjid. Namun, Rasulullah SAW terkejut karena tidak melihat Sya’ban hadir. Beliau menunggu kehadiran Sya’ban, tetapi Sya’ban tidak datang. Akhirnya, Rasulullah SAW memutuskan untuk melaksanakan salat Subuh berjamaah tanpa kehadiran Sya’ban.
Setelah salat Subuh berjamaah selesai, Sya’ban masih belum muncul di masjid. Rasulullah SAW sangat khawatir dan meminta seorang sahabat untuk menemui Sya’ban di rumahnya.
Saat sampai di rumah Sya’ban, istri Sya’ban memberitahu Rasulullah SAW bahwa Sya’ban telah meninggal dunia. Istri tersebut juga menceritakan tentang teriakan Sya’ban pada saat sakaratul maut. Saat itu, Sya’ban berteriak, Yang kemudian dijelaskan oleh Rasulullah Saw.
“Aduh, kenapa tidak lebih jauh. Aduh, kenapa tidak yang baru. Aduh, kenapa tidak semua.”

Pada saat menjelang ajal, Sya’ban diberi penglihatan tentang perjalanan hidupnya dan ganjaran dari perbuatan-perbuatannya selama hidup di dunia. Ia berteriak, “Aduh, kenapa tidak lebih jauh,”
Hal ini diketahui karena ia menyesal tidak memiliki rumah yang lebih jauh dari masjid. Sebab, setiap langkah ke masjid dihitung sebagai pahala.
Ia berteriak “Aduh, kenapa tidak yang baru,” lantaran menyesal tidak memberikan baju baru kepada seseorang yang pernah ia temui. Pada suatu kesempatan, ia memberikan bajunya pada seseorang yang kedinginan di luar masjid.
Sementara itu, ia berteriak, “Aduh, kenapa tidak semua,” karena ia menyesal hanya memberikan sebagian roti yang dimilikinya kepada seseorang yang kelaparan.
Sya’ban mengucapkan ketiga kalimat tersebut karena ia sangat menyesal. Ia merasa menyesal karena tidak melakukan yang terbaik dalam hidupnya. Ini karena Allah SWT akan membalas setiap perbuatan manusia sesuai dengan kebesaran amal yang telah dilakukannya.. Wallahua’lam.(*)

Arief Fauzi Marzuki, Penyuluh Agama Islam Kemenag Bantul, Pengurus MWC NU Piyungan, Bantul

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *