MUKTAMAR telah usai, palu sidang telah diketuk, keputusan telah diambil, dan Rais Aam serta Ketua Umum PBNU telah terpilih. Meskipun demikian, nampaknya bagi sebagian warga Nahdlatul Ulama, Muktamar kali ini tidak serta-merta meninggalkan rasa lega, ada kegembiraan, tetapi ada pula kekecewaan. Ada harapan yang tumbuh, tetapi ada pula pertanyaan yang belum sepenuhnya menemukan jawaban.
Kekecewaan itu terutama terasa dalam proses dan hasil pemilihan Rais Aam serta Ketua Umum. Sebagian warga NU melihat adanya dinamika yang tidak sepenuhnya mencerminkan independensi organisasi. Bahkan muncul kesan kuat bahwa proses tersebut tidak terlepas dari intervensi kekuasaan. Tentu, kesan dan persepsi semacam ini perlu disikapi secara hati-hati. Kita tidak boleh dengan mudah menuduh tanpa bukti. Namun, kita juga tidak boleh menutup mata bahwa ketika terlalu banyak kepentingan eksternal masuk ke ruang-ruang pengambilan keputusan jam’iyyah, kepercayaan warga NU bisa terganggu.
Di sinilah persoalannya menjadi lebih besar dari pada sekadar siapa yang terpilih menjadi Rais Aam atau siapa yang menjadi Ketua Umum. Muktamar sejatinya bukan hanya tentang pergantian figur, tapi momentum untuk memastikan bahwa NU tetap menjadi rumah besar yang berdiri di atas tradisi keulamaan, kemandirian organisasi, serta kepentingan umat. Karena itu, ketika sebagian warga merasa bahwa proses Muktamar terlalu kuat dipengaruhi oleh kepentingan di luar organisasi, kegelisahan tersebut sesungguhnya merupakan kegelisahan terhadap masa depan NU.
Namun, Muktamar sudah berlalu.
Kita tidak mungkin terus-menerus hidup dalam suasana kecewa. NU terlalu besar untuk dipertaruhkan hanya karena kita tidak puas terhadap hasil sebuah forum. Dan NU terlalu berharga untuk dibiarkan larut dalam konflik antarkelompok hanya karena perbedaan pilihan politik organisasi.
Kini saatnya membangun asa.
Optimisme tidak berarti melupakan apa yang terjadi. Optimisme justru berarti berani menatap ke depan dengan membawa pelajaran dari masa lalu. Kekecewaan harus menjadi bahan evaluasi, bukan bahan bakar permusuhan. Perbedaan pilihan harus menjadi pelajaran demokrasi, bukan alasan untuk saling menegasikan.
NU memiliki pekerjaan rumah yang jauh lebih besar daripada sekadar memperdebatkan siapa yang menang dan siapa yang kalah dalam Muktamar.
Di hadapan kita ada tantangan kaderisasi yang semakin kompleks, generasi muda NU membutuhkan ruang aktualisasi yang lebih luas. Mereka tidak cukup hanya diberi identitas sebagai warga Nahdliyin, tetapi juga harus dipersiapkan menjadi intelektual, profesional, pengusaha, teknokrat, akademisi, ulama, dan pemimpin masa depan.
Di hadapan kita juga ada persoalan Pendidikan, pesantren dan lembaga pendidikan NU harus mampu menjawab perubahan zaman tanpa kehilangan akar tradisinya. Teknologi digital, kecerdasan buatan, perubahan pola kerja, globalisasi, dan pergeseran karakter generasi muda menuntut NU untuk berpikir lebih kreatif dan adaptif.
Ekonomi umat juga masih menjadi pekerjaan rumah besar. Jumlah warga NU yang sangat besar seharusnya menjadi kekuatan ekonomi yang luar biasa. Tetapi jumlah yang besar belum otomatis menjadi kekuatan ekonomi. Diperlukan ekosistem yang mampu menghubungkan pesantren, koperasi, UMKM, profesional, pengusaha, perguruan tinggi, dan jaringan ekonomi warga NU.
Begitu pula dengan kesehatan, pengentasan kemiskinan, lingkungan hidup, penguatan keluarga, perlindungan perempuan dan anak, transformasi digital, hingga pengembangan dakwah yang relevan dengan masyarakat urban dan generasi muda.
Semua itu membutuhkan energi yang besar.
Karena itu, jangan sampai energi NU habis untuk bertengkar dengan sesama NU. Kita boleh berbeda pandangan, kita boleh mengkritik, bahkan kritik merupakan bagian penting dari tradisi intelektual dan organisatoris NU. Tetapi kritik harus tetap diletakkan dalam kerangka amar ma’ruf dan ishlah, bukan dalam semangat menjatuhkan.
Pengurus baru PBNU juga harus menyadari bahwa setelah Muktamar selesai, mereka bukan lagi milik kelompok yang memilihnya. Mereka adalah milik seluruh warga NU. Mandat organisasi harus dijalankan untuk kepentingan jam’iyah, umat, bangsa, dan kemanusiaan.
Karena itu, hal terpenting yang perlu dilakukan pasca-Muktamar adalah mengembalikan kepercayaan.
Kepercayaan tidak dibangun dengan slogan, akan tetapi kepercayaan dibangun melalui keteladanan, keterbukaan, profesionalitas, dan keberanian mengambil keputusan yang independen. Jika ada kekhawatiran tentang intervensi kekuasaan, maka jawabannya bukan sekadar bantahan, tetapi pembuktian melalui sikap dan kebijakan.
NU harus menunjukkan bahwa kekuasaan boleh menjadi mitra, tetapi tidak boleh menjadi penentu arah organisasi. NU boleh dekat dengan pemerintah, tetapi kedekatan itu tidak boleh menghilangkan daya kritis. NU boleh memberikan kontribusi bagi negara, tetapi NU juga harus tetap mampu mengatakan benar ketika negara berada di jalur yang benar dan mengingatkan ketika kebijakan negara menyimpang dari kepentingan rakyat.
Inilah salah satu kekuatan tradisi NU sejak dahulu, ta’awun dalam kebaikan, tetapi tetap memiliki independensi moral.
Pada saat yang sama, warga NU juga perlu memberikan kesempatan kepada kepemimpinan baru untuk bekerja. Jangan semua langkah langsung dicurigai dan jangan pula semua kebijakan langsung dibenarkan. Berikan ruang untuk membuktikan diri, tetapi tetap kawal dengan kritik yang sehat.
Pada akhirnya, Muktamar bukanlah garis akhir, ia hanyalah satu titik dalam perjalanan panjang jam’iyah Nahdlatul Ulama. Sejarah NU terlalu panjang untuk ditentukan oleh satu Muktamar. Para muassis NU membangun organisasi ini bukan untuk kepentingan lima tahun, sepuluh tahun, atau satu generasi. Mereka membangun rumah besar yang diharapkan terus hidup melampaui zaman.
Karena itu, setelah riuh Muktamar mereda, mari kita kembali kepada pekerjaan yang lebih penting yaitu mengurus jamaah. Mari kita hidupkan kembali tradisi pesantren, memajukan perguruan tinggi, membangun ekonomi jamaah. Kita seriuskan kaderisasi, kita hadirkan layanan kesehatan yang bermutu, kita perkuat dakwah yang menyejukkan, kita dorong riset dan inovasi dan kita siapkan generasi muda NU menghadapi dunia yang berubah sangat cepat.
Dan yang tidak kalah penting, mari kita rawat persaudaraan.
Sebab pada akhirnya, NU bukan hanya tentang struktur. NU adalah tentang jamaah, bukan hanya tentang kantor dan kepengurusan, tetapi tentang jutaan manusia yang setiap hari membaca shalawat, mengaji, menjaga tradisi, menghidupkan masjid, merawat pesantren, membantu tetangga, dan berkhidmah tanpa banyak bicara.
Mereka adalah wajah NU yang sesungguhnya
Maka, kekecewaan pasca-Muktamar jangan kita biarkan berubah menjadi keputusasaan. Jadikan energi untuk memperbaiki organisasi, jadikan pengingat bahwa NU harus terus menjaga independensi, memperkuat sistem, dan memperbaiki tata kelola. Dan jadikan alasan untuk semakin serius menyiapkan masa depan.
Kita boleh kecewa terhadap proses, tetapi jangan kecewa terhadap NU. Kita boleh mengkritik pemimpin, tetapi jangan kehilangan cinta kepada jam’iyah. Kita boleh berbeda pilihan, tetapi jangan kehilangan persaudaraan.
Sebab NU jauh lebih besar daripada siapapun yang hari ini memimpin dan siapa pun yang hari ini berada di luar lingkaran kekuasaan.
Mari kita bangun kembali asa.
Bukan asa untuk memenangkan kelompok tertentu, tetapi asa untuk melihat NU yang lebih mandiri, lebih bermartabat, lebih profesional, lebih kuat secara ekonomi, lebih unggul dalam pendidikan, lebih kokoh dalam tradisi keulamaan, dan lebih bermanfaat bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.
“Masa depan NU bukan ditentukan oleh siapa yang terpilih dalam sebuah Muktamar, masa depan NU ditentukan dan dibangun bersama”.
Dr. H. Muhajir
Sekretaris PWNU DIY








