KISAH keteladanan mengenai moderasi beragama dan kearifan lokal terpancar nyata dalam sebuah peristiwa saat KH Chudlori, pendiri Pondok Pesantren API Tegalrejo, didatangi oleh sekelompok masyarakat yang tengah dilanda kebingungan. Mereka tengah bermusyawarah mengenai peruntukan bondo desa atau kas desa yang jumlahnya terbatas. Masyarakat terbelah menjadi dua kubu; sebagian menginginkan dana digunakan untuk merenovasi masjid, sementara lainnya berharap dana itu dialokasikan untuk membeli seperangkat alat kebudayaan berupa gamelan.
Awalnya, kelompok yang mendukung renovasi masjid merasa optimis. Sebagai seorang ulama besar dan pengasuh pesantren, Kyai Chudlori dianggap pasti akan memihak pada kepentingan mereka. Namun, di luar dugaan semua pihak, Kyai Chudlori justru memberikan keputusan yang mengejutkan dengan menyarankan agar dana desa tersebut digunakan untuk membeli gamelan terlebih dahulu. Pernyataan ini sontak membuat kedua belah pihak tertegun, termasuk mereka yang sebelumnya mengusulkan pembelian alat musik tradisional tersebut.
Kyai Chudlori memiliki landasan berpikir yang sangat mendalam dan sosiologis di balik keputusan tersebut. Beliau berargumen bahwa jika gamelan sudah tersedia dan kebutuhan budaya masyarakat terpenuhi, maka secara alamiah kesadaran untuk membangun masjid akan muncul dengan sendirinya dari kemauan masyarakat. Dalam perspektif lain, beliau menekankan pentingnya peran ulama dalam “ngemong” berbagai lapisan masyarakat, termasuk mereka yang gemar berkesenian. Beliau menyadari betul bahwa jika tokoh agama tidak mampu merangkul kelompok penyuka budaya ini, maka masjid justru akan kehilangan jamaahnya di masa depan.
Keputusan yang bijak ini akhirnya diterima dengan lapang dada oleh seluruh rombongan karena mampu mendamaikan dua kepentingan yang semula dianggap bertolak belakang. Peristiwa ini disaksikan langsung oleh Gus Dur, yang melihat bagaimana Kyai Chudlori mampu melakukan rekonsiliasi antara kebudayaan dan nilai-nilai Islam secara harmonis. Pengalaman berharga inilah yang di kemudian hari menjadi inspirasi bagi pemikiran kebudayaan Gus Dur, sekaligus memperkuat gagasan mengenai pentingnya Islam yang menyatu dengan akar budaya lokal di Indonesia.(Hana Rusmalia)








