RESENSI FILM
Judul Film : Sang Kiai
Tahun : 2013
Genre : Action, Drama, Biography, History
Produksi : Rapi Films
Sutradara : Rako Prijanto
Pemeran : Ikranagara, Christine Hakim, Agus Kuncoro
***
Setiap Hari Film Nasional datang, yaitu tanggal 30 Maret, kita melihat bahwa film adalah cara sebuah bangsa merawat sejarah dan nilai, yang dalam banyak hal menentukan masa depan. Dalam lanskap itu, film Sang Kiai mengingatkan tentang satu hal: bahwa kemerdekaan lahir dari pergulatan keberanian, pengetahuan, dan iman.
Film ini mengangkat sosok KH Hasyim Asy’ari, seorang ulama, guru, sekaligus pemimpin yang diperankan oleh aktor Ikranagara. Selain dikenal sebagai pendiri Nahdlatul Ulama, beliau merupakan representasi dari tradisi pesantren yang tidak pernah memisahkan agama dan kehidupan sosial. Dalam film ini, kita akan menyaksikan bagaimana otoritas keilmuan memiliki kesinambungan dengan tanggung jawab kebangsaan.
Kekuatan film ini terletak pada penggambaran pesantren. Alih-alih hanya berisi ritual dan hafalan, pesantren menjalankan perannya sebagai medium pembentukan kesadaran. Di tangan KH Hasyim Asy’ari, pesantren menjadi tempat santri belajar membaca kitab dan membaca arah zaman. Dalam menghadapi penjajahan, pesantren menjadi benteng terakhir idealisme yang tak kenal kompromi. Ketika kuasa kolonial menghegemoni budaya, pesantren justru melahirkan keberanian untuk melawan dengan tercetusnya Resolusi Jihad.
Sosok KH Hasyim Asy’ari yang diperankan aktor Ikranagara.
Resolusi Jihad merupakan puncak narasi film, sebuah momen penting yang sering disebut dalam sejarah, tetapi jarang dielaborasi oleh generasi belakangan. Menariknya, konsep Jihad di sini dipahami secara luas. Jihad merujuk pada spirit pembelaan terhadap martabat manusia dan kedaulatan bangsa. Sekilas kita bisa melihat representasi nila Aswaja yang mengedepankan keseimbangan (tawazun), moderasi (tawassuth), dan keadilan (i’tidal) di mana nasionalisme menjadi komponen penting yang berjalan lurus dengan agama.
Film ini juga memperlihatkan satu hal yang sering terlupakan: bahwa tradisi tidak selalu identik dengan konservatisme. Sosok Hasyim Asy’ari, ia tidak menolak modernitas, tetapi juga tidak tunduk pada kekuasaan. Di tengah dunia yang bergerak cepat—di mana opini sering menggantikan pengetahuan, Sang Kiai mengingatkan kita bahwa sikap moderat bukan berarti pasif. Justru sebaliknya, ia menuntut keteguhan prinsip.
Momentum Hari Film Nasional sering dirayakan dengan nominasi daftar film terbaik, aktor legendaris, atau pencapaian lainnya. Namun, film Sang Kiai mengajak kita untuk bertanya: nilai apa yang masih kita bawa hari ini? Apakah pesantren masih menjadi ruang pembentukan karakter atau hanya romantisme tradisi? Apakah nasionalisme masih berakar pada nilai, atau hanya menjadi jargon-jargon kosong? (Hana Rusmalia)








