Sahur Lintas Iman di GKR Baciro Yogya, Sinta Nuriyah Tegaskan Spirit Persaudaraan dan Persatuan

Ny Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid menerima bingkisan dari Gereja Katolik Paroki Kristus Raja Baciro Yogyakarta, Senin (2/3/2026). Foto Agus Wahyu/Bangkitmedia.com

Bangkitmedia.com, YOGYAKARTA – Pagi ini, Senin (2/3/2026), lantunan salawat dan tembang Jawa Tombo Ati menggema di Gereja Katolik Paroki Kristus Raja (GKR) Baciro, Gondokusuman, Kota Yogyakarta. Nyanyian syahdu tersebut dilantunkan para suster, menyambut ratusan warga lintas elemen yang hadir dalam kegiatan sahur bersama.

Momentum itu menjadi bagian dari tradisi Sahur Keliling yang digelar istri Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid, Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, sejak tahun 2000. Di usianya yang kini 77 tahun, Sinta tetap konsisten menggelar sahur bersama masyarakat di berbagai daerah melalui Yayasan Puan Amal Hayati.

Bacaan Lainnya

Dalam tausiyahnya, Sinta menegaskan bahwa keberagaman adalah wajah asli Indonesia yang harus dirawat dengan saling menghargai dan gotong royong.

“Saya tidak bisa sendiri, karena masyarakat Indonesia itu beragam dan majemuk,” ujarnya dalam acara sahur keliling di GKR Baciro, Senin (2/3/2026).

Ny Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid menyampaikan pesan persatuan dan persaudaraan pada acara Sahur Bersama Lintas Iman di GKR Baciro Yogyakarta. Senin (2/3/2026). Foto Agus Wahyu/Bangkitmedia.com

Ia menjelaskan, lokasi sahur selalu menyesuaikan dengan komunitas yang diajak berbagi. Jika bersama pedagang pasar, sahur digelar di pasar. Jika bersama anak jalanan atau pemulung, sahur dilakukan di pinggir jalan. Tahun ini, Gereja menjadi ruang perjumpaan lintas iman yang sarat makna.

Mengusung tema “Puasa Berbalut Bencana dan Goyahnya Demokrasi”, Sinta mengingatkan bahwa perbedaan suku, budaya, dan agama tidak boleh menjadi alasan perpecahan.

“Ada satu hal yang boleh diperebutkan, yaitu kursi. Kursi dewan boleh diperebutkan, tetapi jangan sampai dipakai untuk memecah-belah bangsa,” tegasnya.

Menurutnya, persatuan tetap menjadi fondasi utama kehidupan berbangsa. “Meski berbeda-beda suku, budaya, dan bahasa, pada hakikatnya kita satu nusa, satu bangsa, satu bahasa,” tambahnya.

Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo yang turut hadir mengaku terharu dengan pengalaman sahur di Gereja tersebut.

“Saya seumur hidup baru sekali sahur bersama di Gereja. Ini sangat menyentuh dan patut diapresiasi. Mudah-mudahan menjadi bagian untuk meningkatkan toleransi beragama,” katanya.

Kegiatan Sahur Keliling ini juga menggandeng Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika (ANBTI) sebagai mitra pelaksana lintas iman sejak 2007. Tradisi yang diusung tetap sama: menghadirkan kaum dhuafa, penyandang disabilitas, dan kelompok marjinal dalam ruang kebersamaan.

Koordinator ANBTI, Agnes Dwi Rusjiyati, menyebutkan bahwa selain di Gereja Baciro, sahur bersama juga akan digelar di Embung Giwangan pada 4 Maret 2026.

Di tengah suasana Ramadan, sahur lintas iman ini menghadirkan pesan sederhana namun

 

kuat, kemanusiaan dapat menjembatani perbedaan, dan persaudaraan tumbuh ketika ruang-ruang ibadah menjadi ruang perjumpaan. (gusayu)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *