Bangkitmedia.com, YOGYA – Konseptor dan Inovator AHQ-MAP (Asmaul Husna Quotient – Mapping Awareness Program), Gus Salam YS SE MM MPd, menyerahkan tiga karya pemikiran kepada Menteri Agama RI, Prof Dr Nasaruddin Umar MA, dalam acara Talkshow Tenun Kebhinekaan yang digelar di Loji Paris, Yogyakarta, Kamis (4/6/2026).
Penyerahan buku tersebut berlangsung di sela kegiatan yang mempertemukan berbagai tokoh nasional, akademisi, pemikir, serta pegiat kebudayaan untuk memperkuat nilai-nilai persatuan, keberagaman, dan pembangunan peradaban bangsa.
Adapun tiga karya yang diserahkan meliputi buku Asmaul Husna Quotient (AHQ), Corporate Tauhid Excellent (CTE), dan Taman Jiwa.
Baca Juga: Buku Taman Jiwa Ungkap Perjalanan Menyucikan Jiwa, Menemukan Kedamaian di Balik Kegelisahan Modern
Buku Asmaul Husna Quotient (AHQ) mengulas konsep pemetaan karakter ruhani berbasis Asmaul Husna yang dirancang untuk membantu individu mengenali potensi diri, memahami berbagai ujian kehidupan, serta menemukan arah pengabdian hidupnya.

Sementara itu, buku Corporate Tauhid Excellent (CTE) menawarkan model transformasi organisasi yang mengintegrasikan nilai-nilai tauhid ke dalam budaya kerja, kepemimpinan, dan tata kelola perusahaan. Sedangkan Taman Jiwa merupakan karya reflektif yang mengajak pembaca melakukan perjalanan batin menuju ketenangan, kesadaran diri, dan kedekatan dengan Allah SWT.
Menurut Gus Salam YS, pembangunan peradaban tidak dapat hanya bertumpu pada kemajuan teknologi, ekonomi, maupun infrastruktur. Ia menilai fondasi utama peradaban yang kokoh harus dibangun melalui kesadaran ruhani, penguatan akhlak, dan pemahaman manusia terhadap tujuan penciptaannya.
“Perubahan besar selalu dimulai dari perubahan kesadaran manusia. Ketika manusia mengenal dirinya, mengenal Tuhannya, dan memahami amanah hidupnya, maka akan lahir individu-individu yang membawa cahaya bagi keluarga, masyarakat, bangsa, dan dunia,” ujarnya.
Ia menjelaskan, AHQ-MAP dikembangkan sebagai pendekatan pengembangan sumber daya manusia berbasis nilai-nilai Asmaul Husna yang tidak hanya menekankan peningkatan kompetensi, tetapi juga membangun karakter, kesadaran, serta arah pengabdian hidup yang selaras dengan fitrah manusia.
Momentum penyerahan buku tersebut dinilai menjadi simbol sinergi antara dunia pendidikan, pemikiran Islam, spiritualitas, dan kebangsaan. Di tengah berbagai tantangan global yang dihadapi masyarakat dunia, Indonesia dinilai memiliki peluang untuk menghadirkan model pembangunan peradaban yang berakar pada nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, dan kebhinekaan.
Melalui penguatan pendidikan karakter ruhani, gerakan kesadaran berbasis nilai-nilai Asmaul Husna, serta implementasi prinsip-prinsip tauhid dalam kehidupan sehari-hari, diharapkan lahir generasi yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual dan sosial.
“Dari Indonesia untuk Dunia. Dari Kesadaran Menuju Peradaban Cahaya,” tambahnya.
AcaraTalkshow Tenun Kebhinekaan sendiri menjadi ruang dialog yang mempertemukan berbagai gagasan kebangsaan dan keagamaan sebagai upaya memperkuat harmoni sosial serta kontribusi Indonesia dalam membangun peradaban yang berlandaskan ilmu, akhlak, dan nilai-nilai kemanusiaan universal. (gusayu)








