Gus Uzi: Mbah Ali itu Wali

Bangkitmedia.com, YOGYA – Pengasuh Pondok Pesantren Al-Munawwir Nurussalam Krapyak Yogyakarta, KH Fairuzi Afiq Dalhar meyakini, KH Ali Maksum adalah seorang wali. Gus Uzi, panggilan akrabnya, menyaksikan sendiri tanda-tanda kewalian KH Ali Maksum yang akrab dipanggil Mbah Ali.

“Kita tahu bahwa La ya’riful waliyya illa waliyyu yang artinya tidak ada orang yang tahu adanya seorang wali, kecuali dia sendiri seorang wali. Lha, Mbah Ali itu tahu adanya seorang wali,” ungkap Gus Uzi dalam Rutinan Alumni Malam Sabtu Legi di Asrama Taman Santri Pondok Pesantren Krapyak, Jumat (23/01/2026).

Oleh Gus Uzi dicontohkan, pada suatu hari Mbah Ali bilang kepada dirinya, bahwa sebentar lagi akan ada tamu seorang wali ke ndalemnya. Eee… ternyata tidak lama kemudian datang Mbah Mangli yang dikenal sebagai seorang Kyai dan Wali dari Magelang. Padahal waktu itu belum ada HP. Jadi tidak mungkin Mbah Mangli mengabari terlebih dahulu kalau mau datang.

“Benar, setelah beberapa saat Mbah Ali bilang akan ada wali yang datang ke rumahnya, ternyata Mbah Mangli datang. Beliau masuk Krapyak ngesot, tanpa alas kaki, sandalnya dicangking. Mungkin sangking hormatnya kepada Mbah Ali. Waktu itu Mbah Ali bilang, lha rak tenan to…” cerita Gus Uzi.

Sebelum Mbah Mangli datang, Mbah Ali minta agar nanti diamati siapa yang nada suaranya lebih tinggi. Ternyata suara Mbah Mangli ketika berbicara tidak pernah melebihi suara Mbah Ali. Ketika Mbah Ali berbicara dengan nada tinggi, Mbah Mangli menanggapi dengan nada lebih rendah. Ketika Mbah Ali berbicara dengan nada rendah, Mbah Mangli merespons dengan nada suara lebih rendah lagi. Mungkin Mbah Mangli menganggap kewalian Mbah Ali lebih tinggi dibanding dirinya.

Selain itu, lanjut Gus Uzi, Mbah Ali juga mengetahui kewalian Mbah Zainuddin, keluarga Krapyak yang dalam kesehariannya tidak berpakaian secara sempurna atau tidak berpenampilan seperti orang pada umumnya. “Bukti kewalian Mbah Zainuddin adalah, saat beliau meninggal yang memamitkan jenazahnya adalah Mbah Ali sendiri,” jelasnya.

Mengenai Mbah Zainuddin Gus Uzi bercerita, almarhum sehari-hari biasa lepas. Bajunya cuma disampirkan di bahu. Tetapi ketika naik sepeda ke mana-mana, baju yang hanya disampirkan itu tidak pernah jatuh. Konon, suatu saat Mbah Zainuddin duduk lama di salah satu sudut Masjid Jogokariyan sambil mulutnya terus umik-umik. Menurut cerita (alm) Jazir ASP, antara lain Mbah Zainuddin bergumam …iki masjid kok ramene ra jamak… Padahal saat itu Masjid Jogokariyan masih sepi. Eee… ternyata belakangan Masjid Jogokariyan jadi ramai seperti saat ini, bahkan menjadi masjid paling makmur di Indonesia.

Gus Uzi juga menceritakan kenakalannya bersama santri-santri lainnya. Saat itu di depan asrama ada ayam, kemudian ditangkap bareng-bareng dan rencananya malamnya akan disembelih untuk makan bersama-sama. Setelah ditangkap ayam tersebut dimasukkan ke almari di kamar kompleks F. Ketika malam tiba rencananya menyembelih itu akan dilaksanakan. Tetapi ketika akan mengambil ayam, ternyata di depan kamar ada Mbah Zainuddin dan lama sekali tidak pergi sambil mulutnya umak-umik. Setelah lama ditunggu akhirnya Mbah Zainuddin pergi juga. Namun ketika almari dibuka dan ayam akan diambil, ternyata sudah mati. “Akhirnya kami tidak jadi makan barang haram,” kata Gus Uzi sambil tertawa.

Kembali ke cerita tentang kewalian Mbah Ali. Gus Uzi menceritakan, pada suatu hari KH Ali As’ad pamit Mbah Ali mau sowan Mbah Hamid Pasuruan. Pesan Mbah Ali kepada KH Ali As’ad agar nanti apapun yang dikatakan Mbah Hamid disampaikan kepada diri. Sementara itu ketika Mbah Hamid ketika disowani KH Ali As’ad bilang kalau Mbah Ali itu wali. Ketika itu Pak Ali As’ad bingung ketika kembali kepada Mbah Ali dan ditanya apa yang dikatakan Mbah Hamid, karena tidak enak menyampaikan kalau Mbah Ali itu wali. Meski Pak Ali As’ad berulang kali mengatakan “Mbah Hamid mboten ngendiko nopo-nopo, namun Mbah Ali terus mendesak sehingga Pak Ali As’ad menjawab bahwa Mbah Hamid mengatakan Mbah Ali itu wali. Mendengar jawaban itu Mbah Ali tertawa.

Bukti kewalian Mbah Ali lainnya, kata Gus Uzi, adalah saat beliau meninggal, di mana banyak orang berebut untuk bisa ikut mengusung keranda jenazahnya, sehingga untuk keluar dari Masjid Al-Munawwir saja membutuhkan waktu lama. “Kita semua tahu, undak-undakan utara masjid Al-Munawwir itu tangganya cuma tiga. Tetapi untuk melewati undak-undakan tersebut kira-kira sampai lima belas menit, saking banyaknya yang ingin menyentuh keranda,” ceritanya. (Lutfi)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *