Mbah Ma’shum Belasan Kali Mimpi Bertemu Rasulullah

SALAH satu muasis Nahdlatul Ulama adalah KH Ma’shum Ahmad, yang merupakam ayahanda (alm) KH Ali Ma’shum Krapyak. Beberapa waktu lalu jajaran Pengurus Wilayah Nahdlatul ‘Ulama Daerah Istimewa Yogyakarta menziarahi makam Mbah Ma’shum di Lasem Rembang.

KH Ma’shum Ahmad meninggal pada 12 Ramadhan 1392 H atau bertepatan dengan 20 Oktober 1972 di umur ke-102 tahun. Namun sebelum meninggal, beliau pernah berpesan kepada keluarga, bahwa beliau ingin haul untuk dirinya dilaksanakan di bulan Maulud tanggal 6. Maka sejak itulah, haul Lasem selalu diadakan di bulan Maulud tanggal 6, seperti sekarang ini.

Beliau merupakan seorang yang sangat mencintai ilmu, seorang pecinta ilmu, dan seorang yang berupaya untuk terus belajar. “Kalau kita baca dalam sejarah hidup beliau. Beliau ini mengaji ke berbagai pondok, ke berbagai kiai, bukan hanya di satu pondok saja, melainkan di berbagai pondok. Sampai berkesempatan belajar ke Mekah” tutur KH Afif Muhammad, putra (alm) KH Muhd Hasbullah.

Mbah Ma’shum memang santri pengembara. Sudah belasan pesantren didatanginya untuk menimba ilmu. Dari Jepara hingga ke Makkah Al Mukarromah. Oleh kedua orangtuanya, pertama-tama diserahkan kepada Kiai Nawawi, Jepara, untuk mempelajari ilmu agama. Kemudian pengembaraan ilmunya sampai di Kiai Abdullah, Kiai Abdul Salam, dan Kiai Siroj. Ketiganya merupakan Kiai khos dari Kajen, Pati, Jawa Tengah. Setelah beberapa tahun berselang, Ma’shum muda sampai di Kudus. Di sana ia belajar kepada Kiai Ma’shum dan Kiai Syarofudin. Lalu kemudian di Sarang Rembang bersama Kiai Umar Harun, Solo bersama Kiai Idris, Termas dengan Kiai Dimyati, Semarang kepada Kiai Ridhwan, Jombang kepada Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari, Bangkalan kepada Kiai Kholil, lalu yang terakhir di Makkah, langsung kepada Kiai Mahfudz At-Turmusi.

Mengutip Islamidina.Id, Mbah Ma’shum adalah kiai yang memiliki julukan “Ayam Jago” yang diperoleh langsung dari sang guru, Mbah Kholil Bangkalan. Waktu itu, sehari sebelum kedatangan Mbah Ma’shum ke Bangkalan, Mbah Kholil ngutus para santri untuk membuat kurungan ayam. “Tolong aku dibuatkan kurungan ayam jago. Besok akan ada ayam jago dari tanah Jawa yang datang ke sini,” kata Mbah Kholil. Lalu keesokan harinya, Mbah Ma’shum pun datang. Saat itu usianya sekitar 20 tahun, dan anehnya Ma’shum muda langsung dimasukkan ke kurungan ayam itu.

Saat nyantri di Bangkalan, bukannya menimba ilmu, Mbah Ma’shum malah diperintah oleh Mbah Kholil untuk mengajar kitab Alfiyah selama 40 hari. Uniknya, pengajian dilakukan oleh Mbah Ma’shum di sebuah kamar tanpa lampu, sedangkan santri-santrinya berada di luar. Ma’shum muda hanya 3 bulan nyantri di Bangkalan, meski begitu keilmuan dan kealimannya telah diakui oleh sang guru.

Ketika hendak pulang, sebuah kejadian menarik dialami oleh Ma’shum muda. Mbah Kholil tiba-tiba memanggilnya, dan tanpa sebab apapun, Ma’shum didoakan dengan do’a sapu jagad. Lalu setelahnya, saat Ma’shum melangkah pergi beberapa meter, beliau dipanggil lagi oleh Mbah Kholil dan dido’akan dengan do’a yang sama. Hal ini terjadi berulang hingga 17 kali.Makam Mbah Ma’shum dan keluarga di Lasem Rembang.

Selain senang belajar dan pecinta ilmu, Mbah Ma’shum juga merupakan sosok yang selalu memperbanyak dzikir dah sholawat. “Mbah Ma’shum merupakan seorang bapak rumah tangga, kepala rumah tangga biasa, seorang pedagang, yang kemudian di stasiun beliau mendapatkan mimpi bertemu dengan Rasulullah SAW. Kemudian diberi pangendikan di dalam mimpi tersebut. Ucapan Rasulullah di mimpi tersebut adalah, laa khaira illa bi nasyril ilmi (Tidak ada kebaikan kecuali menyebarkan ilmu),” terangnya.

Seketika Mbah Ma’shum kemudian terbangun dan masih diliputi dengan suasana terkejut, tidak menyangka, karena keadaan dan situasinya sedang berada di stasiun. Demikian pula, keadaan beliau sedang dalam kondisi berdagang. Mimpi tersebut kemudian beliau sampaikan kepada Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, meskipun lebih muda dari beliau, namun juga merupakan guru beliau. Mbah Ma’shum juga sering mengaji dan mondok di Tebuireng kala itu.

Kemudian, Mbah Ma’shum menyampaikan apa yang baru saja ia terima itu dan disebutkan jawaban dari Mbah KH Hasyim Asy’ari, “Sudah jelas dan tidak perlu memerlukan adanya penjelasan dan taklil-taqwiim. Tidak ada kebaikan kecuali menyebarkan ilmu.” Sejak saat itulah, Mbah Ma’shum mulai mengajar, mulai membangun godakkan untuk para santrinya dan meletakkan rasa pasrahnya di hadapan Allah SWT. Kiai dengan nama kecil Muhammadun ini mendirikan Pondok Pesantren Al Hidayah, Lasem, Rembang, Jawa Tengah.

Hari berganti hari, tahun berganti tahun, begitulah keadaan dan apa yang dilakukan oleh Mbah Ma’shum di dalam hidupnya. Beliau menyatakan bahwa bermimpi bertemu dengan Nabi hingga belasan kali semasa hidupnya. Riwayat ini tentu jelas karena beliau ini memiliki kesukaan dalam berdzikir dan bersholawat.

Tak hanya itu, upaya beliau untuk hubbun Nabi wa Ahliy juga dengan menziarahi dan bersilaturahmi kepada para habaib dan habaib yang sudah meninggal, yaitu di makam para habaib. Seperti di Pekalongan, Tegal, Ampel dan daerah lainnya. Dari hal-hal dan kebiasaan-kebiasaan beliau selama hidup itulah yang menunjukkan rasa pantasnya jika beliau sering mimpi bertemu dengan Rasulullah.

Begitu juga dengan Istri Mbah Ma’shum, yaitu Mbah Nyai Nuriyah. Nyai Nuriyah bertemu dengan nabi hingga puluhan kali, bahkan sampai diberi oleh-oleh oleh Nabi, baik di Mekah, di Ka’bah maupun di Lasem. Hal tersebut sangat masyhur di kalangan orang Lasem.

Mbah Ma’shum lahir pada 1868 dari pasangan H. Ahmad dan Qosimah. Sulung dari dua saudarinya, Nyai Zainab dan Nyai Malichah ini memiliki silsilah dan hubungan darah dengan Sultan Minangkabau, bersambung hingga ke Rasulullah SAW.

KH Ma’shum Ahmad meninggal pada 12 Ramadhan 1392 H atau bertepatan dengan 20 Oktober 1972 di umur ke-102 tahun. Namun sebelum meninggal, beliau pernah berpesan kepada keluarga, bahwa beliau ingin haul untuk dirinya dilaksanakan di bulan Maulud tanggal 6. Maka sejak itulah, haul Lasem selalu diadakan di bulan Maulud tanggal 6, seperti sekarang ini. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *