KH. Habib Syakur: Mbah Ali Memiliki Firasat yang Tajam

Posted on

Mbah Ali, begitu panggilan akrab KH. Ali bin Maksum bin Ahmad. Semasa hidupnya dikenal sebagai seorang kiai yang memiliki keunikan tersendiri dalam mendidik santri-santrinya. Bukan hanya dekat dengan santri, Mbah Ali juga dekat dengan masyarakat. Hal tersebut terbukti dengan pernyataan KH. M. Habib A. Syakur, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Imdad, Bantul dalam acara haul Mbah Ali Maksum yang di selenggarakan di Pondok Pesantren Ali Maksum Krapyak pada 20 Maret 2013.

Kiai Habib adalah santri Mbah Ali, yang kemudian menjadi pengasuh PP. Al-Imdad Bantul. Inilah di antara penyaksiannya. Keistimewaan Mbah Ali dalam mendidik santri luar biasa. Beliau sangat welcom dengan para santri dan masyarakat. Beliau tidak menggunakan status kekiainnya sebagai sosok yang berada di menara gading. Namun, beliau turun lapangan, berinteraksi langsung dengan lingkungan.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

“Mbah Ali kalau didik santrinya itu dengan cara yang berbeda dibandingkan kiai-kiai lainnya. Mbah Ali dengan santri dan masyarakat itu dekat semua,” ungkap Kiai Habib saat diminta menyampaikan Manaqib Mbah Ali Maksum.

Sosok yang unik ini tidak suka memerintah melainkan lebih gemar bertindak yang laik diteladani oleh lingkungan santri dan masyarakat. Jelas, bukti riil yang berupa tindak jauh lebih urgen daripada sekadar ucapan yang berbusa-busa. Dengan bukti riil tersebut, kita bisa menatap beliau dengan kedalaman hikmah yang dapat mewarnai keseharian kita.

“Sebagai contohnya, Mbah Ali itu tak pernah menyuruh saya untuk jamaah Shalat Subuh. Tapi Mbah Ali hanya meminta saya untuk jadi teken (pegangan) waktu beliau naik dan turun masjid. Ya mau tidak mau saya pasti shalat subuh. Sebelum Mbah Ali turun dari masjid ya saya tetap berada di Masjid, menunggu Mbah Ali,” tambah Kiai Habib dalam acara tersebut dengan penuh semangat.

Baca Juga >  KH Said Aqil Siraj dan Nasionalisme Kitab Kuning

Baca juga: KH. Ali Maksum Itu Waliyullah, Ini Buktinya!

Sebagai kiai yang unik, beliau juga mempunyai firasat yang tajam. Ini dialami sendiri oleh Kiai Habib saat nyantri pada Mbah Ali. Firasat tajam tidak dimiliki oleh sembarang orang melainkan oleh hamba-hamba pilihan-Nya. “Mbah Ali itu memiliki firasat yang tajam. Saya pernah membuktikannya sendiri. Waktu itu saya mau minta izin untuk pergi mengaji ke pesantren lain saat bulan puasa tiba. E, ketika saya sowan dan belum mengatakan apapun keinginan saya tersebut,  Mbah Ali sudah bilang bahwa saya tidak boleh pergi. Malah saya ditugasi suruh buat jadwal pengajian di bulan puasa.

“Wes bib, koe neng kene ae, ora oleh lungo. Saiki, taun iki, koe nggawe jadwal ngaji pondok” (sudah Bib, kamu di sini saja, tidak boleh pergi. Sekarang, tahun ini, kamu buat jadwal mengaji pondok),” begitu ungkap Kiai Habib menirukan perintah Mbah Ali.

Sontak, ungkapan Kiai Habib tersebut disambut dengan tawa para hadirin yang penuh kagum dan bangga. (Rokhim)

Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Bangkit Edisi 03/TH.III.Khusus/2014, edisi Khusus KH. Ali Maksum tahun 2014.