Kiai Aly As'ad dan Kiai Ali Maksum
Kiai Aly As'ad dan Kiai Ali Maksum

KH. Ali Maksum Krapyak Pembaca Tanpa Henti

Posted on

Membaca merupakan ciri khas yang dimiliki oleh KH. Ali Maksum. Sebagai pintu utama memasukan ilmu, KH. Ali Maksum sangat gemar membaca. Apapun kitab atau buku yang ditemui selalu dibacanya. Tak berlebihan jika dia dijuluki ‘Pembaca Tanpa Henti’. Majalah Rabithatul Alam Islami merupakan  salah satu bacaan yang sering ditelaah bahkan dijadikan sorogan oleh KH. Ali Maksum. Kebiasaan membaca yang dilakukan KH. Ali Maksum itu membuahkan hasil yang cukup signifikan dalam memajukan ilmu yang dimilikinya.

Menghapus Dikotomi Keilmuan

KH. Ali Maksum dikenal sebagai sosok yang alim dan berilmu. Dia tidak memilah-milah antara ilmu agama dan ilmu umum. Justeru dia berobsesi ingin menghilangkan istilah ilmu agama dan ilmu umum seperti yang telah berkembang di masyarakat. Adanya dikotomi antara kedua ilmu itu masih sangat terasa hingga sekarang. Penghapusan dikotomi ini sebenarnya sudah diupayakan oleh KH. Ali Maksum semasa masih hidup. Dia punya obsesi seakan-akan tidak ada yang namanya ilmu agama dan ilmu umum. Semua ilmu adalah ilmu agama. Karena pada dasarnya semuanya milik Allah. Tidak perlu dibeda-bedakan antara keduanya. Dengan kata lain, KH. Ali Maksum ingin menghapuskan faham dikotomik yang mengkotak-kotakan ilmu menjadi ilmu agama dan ilmu umum.

Hal itu bisa dilihat dari cara berfikir KH. Ali Maksum. Kalau ulama’ itu biasanya identik dengan ahli ilmu agama, maka tidaklah demikian bagi KH. Ali Maksum. Dia tidak menganggap bahwa ulama’ itu hanya ahli ilmu agama saja, seperti orang yang pandai di bidang fiqih dan syariah. Akan tetapi, ulama’ adalah orang-orang yang ahli di berbagi bidang, baik bidang fiqih maupun bidang-bidang yang lain.

Selain memaknai istilah ulama’ secara lebih luas, KH Ali Maksum juga memiliki cara tersendiri dalam menafsiri teks.  Dia membangun paradigma baru dalam mengkaji dan memahami al-Quran. Dia tidak hanya terpaku pada telaah yang bersumber dari kitab kuning saja. Akan tetapi KH. Ali Maksum juga menambahkan paradigma baru yang berasal dari sumber-sumber pengetahuan sebelum Islam. Di sinilah kelihaian KH. Ali Maksum sangat tampak. Dia berhasil memadukan pengetahuan dengan serasi. Walhasil, dia tidak hanya sebatas menafsiri al-Quran secara tekstual, melainkan juga kontekstual.

Saking cintanya pada semua ilmu, KH. Ali Maksum selalu mendiskusikannya tiap kali bertemu dengan para kiai, terutama yang semasa, seperti KH. Makhrus, KH. Musthafa dan lain-lain. Apa yang diutarakan KH. Ali Maksum saat bertemu mereka tidak pernah lepas dari diskusi tentang ilmu. Hal ini jarang dilakukan oleh para kiai yang lain. Biasanya mereka justeru berdiskusi mengenai keluarga atau hal-hal lain di luar keilmuan.  Beginilah semangat keilmuan yang dibangun oleh KH. Ali Maksum. Dia menganggap bahwa semua ilmu milik Allah. Hanya Dialah Dzat yang maha berilmu (aliim).

Semangat keilmuan itu juga telah ditularkan KH. Ali Maksum kepada para santrinya. Ketika sedang mengajar mereka, KH. Ali Maksum tak hanya menyampaikan isi yang ada dalam kitab kuning semata, melainkan juga menambahkan gagasan-gagasan filsafat Yunani kuno, seperti Plato dan Aristoteles.

Semangat Karya Tulis

Semangat keilmuan yang dimilikinya itu telah mengantarkan KH. Ali Maksum menjadi sosok ulama’ yang  produktif dalam menghasilkan karya tulis. Seperti kitab Hujjah Ahlussunnah yang merupakan karya fenomenal hingga sekarang. Kitab tersebut akhirnya dijadikan sebagai sumber pengajian setiap ahad wage di PWNU DIY. Meski demikian, karya tersebut sebenarnya belum mewakili atau merepresentasikan sosok kealiman KH. Ali Maksum sendiri.

KH. Ali Maksum memulai dunia tulis-menulisnya itu melalui serpihan-serpihan kertas yang berserakan. Apapun serpihan kertas yang ditemui seringkali digunakan untuk menulis gagasannya. Seperti kertas bekas wadah obat nyamuk. Dia menulis gagasanya itu secara berulang-ulang di berbagai serpihan kertas. Hal ini dilakukan karena pada saat itu belum ada mesin fotokopi seperti sekarang. Setelah selesai menulis, KH. Ali Maksum memberikan tulisannya itu kepada para santri dan rekan kiai semasanya, seperti Kiai Abdullah.

Dalam serpihan kertas itu, KH. Ali Maksum seringkali menulis syair Manaqib dari Syaikh Abdul Qadir Jailani. Bunyi syair itu adalah sebagai berikut:

“’Ala man yatashadda….ilmul ulama’ wa siyasatul muluk wa hikmatul  hukama’“ .

Syair ini sepertinya tercatat kuat di dalam memori KH. Ali Maksum. Sebab opini ulama’ waktu itu, bahkan hingga sekarang memandang bahwa Syaikh Abdur Qadir Jailani itu adalah sosok ulama’ yang sebatas ahli wirid saja. Padahal sebenarnya tidaklah demikian. Seperti yang terlihat dalam syair Manaqib tersebut. Meski banyak orang yang hafal Manaqib, namun dalam kenyataanya belum faham mengenai isi yang terkandung di dalamnya. Syair Manaqib itu jika diterjemah maknanya seperti berikut:

Baca Juga >  Ketika Syaikhona Kholil Bangkalan Minta Do'a Kepada Muridnya

“Bagi orang yang sudah siap untuk memandu (memimpin) manusia, maka sebaiknya ia memiliki pemahaman tentang ilmu ulama’, mempunyai pemahaman tentang siasat penguasa, dan memiliki daya hikmah atas segala sesuatu dan peristiwa yang Allah ciptakan”.

Itulah pesan yang sering disampaikan KH. Ali Maksum dalam bentuk tulisan melalui serpihan-serpihan kertas.

Selain itu, KH. Ali Maksum juga tercatat sebagai sosok pionir yang mendorong lahirnya Majalah Bangkit.  KH. Ali Maksum pernah menuliskan gagasannya dalam Majalah Bangkit untuk edisi perdana. Pada saat itu (tahun 1980-an) belum dikenal yang namanya majalah di kalangan NU, bahkan di Jawa Timur – wilayah lahirnya NU- sekalipun.

Kata-kata Motivasi

KH. Ali Maksum adalah sosok yang banyak memberikan motivasi. Dia pernah menggambarkan bentuk kanjeng Nabi. Tidak seperti pandangan banyak orang. Mereka biasa melarang penggambaran sosok kanjeng Nabi. KH. Ali Maksum justeru memiliki keberanian untuk menggambarkannya. Dia menggambarkan bahwa Nabi itu tidak seperti simbah-simbah. Secara fisik kanjeng Nabi itu tidak tampak tua renta,bungkuk dan sering batuk-batukan. “Tindak pundi njeng nabi? Uhuk-uhuk ajeng teng masjid”. Kanjeng Nabi bukan seperti itu. Kanjeng Nabi itu gagah, intelek dan berwibawa layaknya kepala Negara. Dari sini KH. Ali Maksum ingin membuka pandangan kita bahwa kita harus meneladani kanjeng Nabi sebagai sosok yang gagah dan cerdas serta jangan memahaminya sebagai tokoh parsial.

KH. Ali Maksum juga sering melontarkan istilah-istilah yang mengandung motivasi tinggi. Istilah yang mengandung pesan untuk menaklukkan tantangan dan meraih cita-cita yang besar. Seperti “wong NU iku yo kudu ngerti dunyo, wong simbule ae jagad kok” (Orang NU itu harus tahu dunia, sebab simbolnya saja jelas dunia). Jadi kalau ada orang NU tidak tahu perkembangan apa-apa, KH Ali Maksum biasa mengatakan “Wong NU kok gak ngerti dunyo. Iyo nak simbule kar (peta) Bantul iku yo ra popo, la wong simbule jagad lo” (Bagaimana mungkin orang NU tidak tahu dunia. Kalau simbolnya peta Bantul gak masalah tak tahu dunia. Kenyataanya simbol NU adalah dunia).

Contoh lainnya, KH. Ali Maksum juga pernah memberi semangat dan cita-cita besar saat sekretaris pondok ingin mencari alamat seorang santri melalui buku stanbuk yang tebal. Dia melihat sekretaris itu lamban dan kesusahan mencarinya. Sambil memegang buku tipis KH. Ali Maksum mengatakan: “iku buku opo jane? Mbok yo koyok bukuku iki. Sak mene iki, iku wis ono kiai sak alam dunyo. Kiai Amerika, Eropa wis kecatet kabeh” (Itu buku apa? Cobalah lihat bukuku ini. Buku ini sudah memuat seluruh kiai seluruh penjuru dunia. Kiai Amerika, Eropa sudah tercatat semua).

Baca Juga: KH. Ali Maksum: Membangun Fondasi, Merawat Tradisi

Suatu ketika KH Ali Maksum juga pernah menemui santrinya bernama Warson. Waktu itu dia sedang menulis kamus. KH Ali Maksum berpesan, “Warson gawe opo cung? Kowe gawe kamus sing tenanan yo. Ora kena gawe kamus mung elek-elekan. Mbok cetak terus kok dol. Kudu sing apik tenan. Ngko nak ono sing ra ngerti takoko aku” (Warson kamu sedang membuat apa? Kamu kalau membuat kamus yang sungguh-sungguh. Jangan tangung-tanggung. Kamu cetak terus dijual. Kamu harus membuat dengan bagus. Nanti kalau ada yang tidak tahu, tanyakan padaku). Pada saat itu KH. Ali Maksum memang juga dikenal sebagai kamus berjalan.

Demikianlah KH. Ali Maksum memberikan motivasi bagi setiap orang yang ditemuinya. Sebuah motivasi yang mendorong seseorang untuk meraih cita-cita besar sesuai apa yang diinginkannya.

Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Bangkit Edisi 03/TH.III.Khusus/2014, edisi Khusus KH. Ali Maksum tahun 2014. Tulisan ini disarikan dari wawancara dengan santri Kiai Ali Maksum,  alm. Kiai Aly As’ad Plosokuning yang sudah wafat tahun 2016 silam. Penulis Aris Anwaril dan Joko.