Patung Gus Dur Kecil Sedang Membaca Buku
Patung Gus Dur Kecil Sedang Membaca Buku

Gus Dur dalam Memoriam Dunia Literasi Gus Zainal

Opini 

Literasi merupakan pendidikan melek huruf (aksara) yang didalamnya meliputi kemampuan membaca dan menulis. Menurut UNESCO menjelaskan, “kemampuan literasi merupakan hak setiap orang dan merupakan dasar untuk belajar sepanjang hayat”.

Pengertian literasi adalah kemampuan seseorang dalam mengolah dan memahami informasi saat melukan proses membaca dan menulis. Secara bahasa literasi adalah keberaksaraan, yaitu kemampuan menulis dan membaca. Dalam bahasa Inggris literacy artinya adalah kemampuan membaca dan menulis (the ability to read and write) dan kompetensi atau pengetahuan di bidang khusus (competence or knowledge in a specified area).

Mengapa Indonesia harus menegakkan budaya literasi? Menginggat angka buta aksara yang berada diatas rata-rata nasional masih ada di sejumlah provinsi. Provinsi itu meliputi Papua (28,75 persen), NTB (7,91 persen), NTT (5,15 persen), Sulawesi Barat (4,58 persen), Kalimantan Barat (4,50 persen), Sulawesi Selatan (4,49 persen), Bali (3,57 persen), Jawa Timur (3,47 persen), Kalimantan Utara (2,90 persen), Sulawesi Tenggara (2,74 persen), dan Jawa Tengah (2,20 persen).

Muhadjir Efendy Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), 08 September 2017, mengatakan, tidak ada negara di dunia yang bebas dari buta huruf, termasuk negara maju seperti Amerika Serikat sekalipun. “Di Amerika buta huruf sebanyak satu persen, sementara kita 2,07 persen. Maka membutuhkan kerja keras untuk memberantasnya,”. Hal inilah tugas para guru dan para orang tua dalam mengentaskan buta aksara.

Tanpa gerak bersama dan bertahap, program budaya baca hanya terasa hangatnya di awal. Komitmen dan teladan guru serta kepala sekolah merupakan kunci pembuka gerbang literasi sekolah. Ia harus berdiri terdepan dan menunjukkan ia membaca dan menulis. Tentu, niat geraknya bukan hanya karena memenuhi tuntutan Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 tentang pembiasaan membaca pada siswa, tetapi lebih kepada niat investasi pendidikan siswa melalui pembiasaan membaca. Para guru bisa belajar dari guru bangsa literasi yaitu Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Gus Dur Melalap Buku

 Gus Dur cucu KH. Hasyim Asy’ari pendiri ormas keagamaan terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama ini sejak kecil memang fenomenal. Zainal Arifin Thoha dalam Jagadnya Gus Dur (2003) menyebut Gus Dur adalah enigma. Gus Dur merupakan satu-satunya sosok yang sepanjang sepak terjang hidupnya selalu dikawal teka-teki dan diselubungi misteri. Acapkali perkataan dan perilakunya membuahkan kontroversi. Tetapi diam-diam tak sedikit yang mengamini bahwa Gus Dur dianugerahi kecerdasan futuristik. Sehingga, apapun kontroversi yang sempat mengemuka diyakini perlahan-lahan kelak terkuak kebenarannya.

Baca Juga >  Banyak Gagal Paham atas NU, Untung Ada Jasa Gus Dur!

Bila dirunut ke belakang, enigma Gus Dur bermuara pada keleluasan pengetahuan dan wawasan keilmuan dari hasil pergulatannya dengan buku. Gus Dur dan buku bertumpu menjadi satu. Ibarat dua gambar dalam sekeping mata uang logam yang nyaris tak bisa dipisahkan. Saat ditegur ibunya agar sering-sering bermain bersama teman, tidak melulu berkarib dengan buku, sontak Gus Dur berseloroh: dengan membaca buku, kelak temanku seantero dunia. Maka, tepatlah jika Gola Gong (2006) menilai bahwa hanya dengan bukulah dunia bisa ditaklukkan dengan mudah.

Gus Dur berkenalan dengan buku-buku kiri berbahasa asing. Dari buku berukuran tambun hingga berhalaman ramping. Misalnya, novel Captain’s Daughter karangan I. Turgenev, For Whom The Bell Voice tulisan Ernest Hemingway, atau La Porte Etroite karya Andre Gide. Selain novel, Gus Dur juga melahap habis buku politik-sosialis seperti Romantisme Revolusioner buah pena Lenin Vladimir Iliech, Das Kapital karya Karl Marx, senarai pemikiran Lenin bertudung What is To Be Done?, serta beberapa jilid buku The Story of Civilization karya Will Durant. Membaca buku-buku tersebut tak berarti tiada kesulitan menghadang. Beberapa kamus bahasa asing tebal selalu setia mengawal.

Dari membaca Gus Dur mampu mewarisi pemikiran banyak penulis besar dunia. Misalnya, Gramsci, William Faulkner, Ortega Y. Gasset, John Steinbeck, Johan Huizinga, Andre Malraux, William Bochner, Mao Ze Dong, Aristoteles, Plato, Socrates, A.S. Pushkin, Dostoyevsky, Trotsky, Leo Tolstoy, Mikhail Sholokov, dan sebagainya. Dengan bekal wawasan pengetahuan yang makin membuhur, keterampilan mengolah kata dan menggerakkan pena Gus Dur kian lincah. Membaca dan menulis selalu disetimbangkan. Membaca ibarat makan, dan menulis adalah sambalnya.

Buku-buku itu pula yang membentuk kepribadian Gus Dur. Sekadar tamsil, penghayatan terhadap sosok biarawati Alissa, lakon utama novel La Porte Etroite karya Andre Gide yang menyerahkan diri kepada Tuhan dan menghambakan hidup untuk menolong orang banyak, menginspirasi Gus Dur bersikap serupa. Gus Dur hidup bukan untuk diri dan keluarganya, melainkan sepenuhnya untuk kepentingan rakyat dan membela hak-hak kaum minoritas yang tertindas.

Baca Juga >  Ramadan Sebagai Madrasah, Syawal Bulan Peningkatan

Bahkan dalam kondisi kritis sebelum meninggal pada Rabu, 30 Desember 2009, ia masih sempat merajuk buku. Tapi, karena fungsi indera penglihatan jauh berkurang, Gus Dur minta diperdengarkan audio book. Kisah sosok Gus Dur yang gandrung dengan buku ini menjadi hikmah bagi bangsa ini.

Literasi Penangkal Radikalisme

Tokoh penulis muda yang wafat di usia 35 tahun yaitu Gus Zainal (Zainal Arifin Toha) memberikan motivasi besar kepada para santri untuk mulai berlatih menulis, mengikuti sejak ulama-ulama kita yang telah meninggalkan jutaan kitab sebagai peninggalan yang sangat berharga. Tulisan dalam bentuk apapun, artikel, essai, puisi, novel, buku, kitab, dan apapun namanya sangat berguna bagi generasi sesudahnya, ia senantiasa kekal abadi, tidak lekang dimakan usia. Imam Ghozali berkata “Kalau engkau bukan anak raja dan engkau bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis.” (Zaenal Arifin Thoha, Aku Menulis Maka Aku Ada, Kutub, 2005).

Gus Zainal (Allahu Yarham) terinpirasi para ulama-ulama besar pada zaman Rosullulah. Ulama pada zaman itu tidak lepas dari dunia tulis dan baca. Seperti, Zaid bin Tsabit yang kekal namanya karena menulis kitab Al-Qur’an. Sangatlah relevan peryataan Gus Zainal bahwa dengan menulis maka keberadaan kita juga akan diabadikan oleh sejarah. Jikalau kita bukan keturunan ulama, raja atau tokoh terkenal kunci supaya keberadaan kita diakui maka caranya dengan menorehkan karya tulisan.

Menulis suatu karya tulisan bukan muncul begitu saja. Tulisan muncul dari bacaan-bacaan yang pernah dilalap seperti layaknya dalam dunia literasi Gus Dur. Literasi memberi pengetahuan yang sangat luas. Dengan adanya budaya literasi masyrakat Indonesia dapat menyaring berita hoax dan berbau radikalisme.

Oleh : Sholikul HadiAktif menulis opini dan kolom di media cetak maupun online