Belajar Bercocok Tanam
Belajar Bercocok Tanam

Wali Berperan, Upaya Membrantas Kebodohan (ATASAN)

Posted on

Opini, BANGKITMEDIA.COM

Oleh: Muhlisin, Mahasiswa PGMI UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Pendidikan nasional di Indonesia ditandai lahirnya Tamansiswa. Tamansiswa lahir pada tanggal 3 Juli 1922, dalam artian sudah 96 tahun Tamansiswa membangun bangsa Indonesia dengan pendidikan. Pendidikan sangatlah besar perannya dalam merebut kemerdekaan. Genap 17 Agustus 2018 Indonesia berusia 73 tahun kemerdekaan.

Opini “Wali Berperan, Upaya Membrantas Kebodohan (ATASAN),” sebagai tanggapan untuk mewujudkan keberhasilan dalam mendidik anak. Sangat erat kemerdekaan bangsa Indonesia dengan hadirnya pendidikan. Menginggat pendidikan bukan hanya memberi kemerdekaan dari penjajahan. Tetapi dengan pendidikan bangsa Indonesia merdeka dari kebodohan. Alhasil, pada undang-undang dasar 1945 cita-cita luhur para pendiri bangsa dituangkan dalam alinea  ke 4 yaitu mencedaskan kehidupan bangsa.

“Waktu belajar di sekolah itu sangat terbatas, maka peran orang tua di rumah sangat menentukan karakter anak. Orang tua yang menjadi guru bagi anak anak ini,” kata Plt. Bupati Trengalek Mochammad Nur Arifin yang di beritakan Kompas.com Jum’at, 18 Mei 2018.

Mochammad Nur Arifin juga menegaskan, bahwa orang tua mesti lebih meningkatkan perannya dalam mengasuh anak, utamanya dalam bidang pendidikan.

Untuk menanggapi peryataan diatas bisa dengan cara mengimplementasikan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 30 tahun 2017 tentang Pelibatan Keluarga dalam Penyelenggaraan Pendidikan Pasal 1 poin 5 berbunyi, “Komite Sekolah adalah lembaga mandiri yang beranggotakan orang tua atau wali peserta didik, komunitas sekolah, serta tokoh masyarakat yang peduli pendidikan.” Komite Sekolah tentunya harus mengambil perannya sebagai wujud peduli pendidikan.

Binasa

Pembinaan Sikap dan Perilaku Siswa (Binasa), “Binasa” disini bukannya suatu upaya membinasakan. Tetapi Binasa yang dimaksud yaitu upaya menyatukan keluarga dan masyarakat. Apa yang disatukan?, yang disatukan adalah peran keluarga dan masyarakat terhadap pembinaan sikap dan prilaku anak.

Dalam buku “The National Study on Family Strength”, Nick dan De Frain mengemukakan beberapa hal tentang pegangan menuju hubungan keluarga yang sehat dan bahagia, yaitu: 1) Terciptanya kehidupan beragama dalam keluarga, 2) Tersedianya waktu untuk bersama keluarga, 3) Interaksi segitiga antara ayah, ibu dan anak, 4) Saling menghargai dalam interaksi ayah, ibu dan anak, dan 5) Keluarga menjadi prioritas utama dalam setiap situasi dan kondisi anak.

Hadirnya keluarga sehat dan bahagia sangatlah memicu keberhasilan ataupun prestasi siswa dalam dunia pendidikan. Wajar saja bapak pendidikan nasional Ki Hadjar Dewantara dalam ajaran Tamansiswa memiliki salam yaitu “Salam dan Bahagia”. Dalam artian dengan keselamatan dan kebahagian upaya belajar mengajar dapat berproses secara ilmiah. Pada akhirnya anak mampu berkembang sesuai bakatnya dan berprestasi.

Ditarik lebih luas dalam peranan Komite Sekolah terhadap penyelenggaraan sekolah memiliki tugas untuk melakukan pembinaan sikap dan perilaku siswa. Membantu usaha pemantapan sekolah dalam mewujudkan pembinaan dan pengembangan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, pendidikan demokrasi sejak dini (kehidupan berbangsa dan bernegara, pendidikan pendahuluan bela negara, kewarganegaraan, berorganisasi, dan kepemimpinan), keterampilan dan kewirausahaan, kesegaran jasmani dan berolah raga, daya kreasi dan cipta, serta apresiasi seni dan budaya.

Bebas-Rika

Pembelajaran Berbasis Kearifan Lokal (Bebas-Rika) yakni; setiap seminggu sekali melakukan kelas wali mengajar yang tergabung dalam paguyuban. Tentunya wali yang tampil mengajar memiliki kopetensi atau keterampilan. Wali mengajar di sini terkait kebudayaan, seperti tari, cerita rakyat, musik, maupun olahraga. Menginggat para orang tua wali memiliki background yang beragam keterampilan dan kebudayaan. Kelas wali mengajar di sini tujuannya mengenalkan anak pada budaya Indonesia.

Prakteknya wali mengajar di kelas anak usia dini yaitu dimana orang tua wali di jadwal untuk tampil dan membimbing anak-anak terkait kebudayaan Indonesia. Apa yang di tampilkan dari wali mengajar? Tentunya yang di tampilkan seperti seni pertunjukan, wali yang berasal dari Jateng (Jawa Tengah) menampilkan cerita rakyat Jateng seperti Timun Mas, Joko Kendil, Jaka Tingkir, wali yang dari Jatim (Jawa Timur) menampilkan permainan Cublak-Cublak Suweng, Jamuran, Petil Lele, Gobak Sodor dan lainnya. Mungkin semua itu amat terasa asing buat anak sekarang. Tetapi justru ini menjadi tugas bersama bagi orang tua. Hal ini untuk mengasah kemampuan anak berbahasa daerah, mengenal permainan daerah dan budaya daerah yang ada di Indonesia supaya cinta tanah air tertanam sejak dini.

Baca Juga >  Problem Umum Peneliti Pemula, Bagaimana Solusinya?

Peta-Laku

Pendidikan Pengetahuan Alam dan Pengenalan Lingkugan (Peta-Laku) sekolah melakukan kelas lingkungan. Kelas lingkungan ini pihak sekolah bekerjasama dengan masyarakat atau wali murid yang memiliki kebun, sawah dan kolam. Prakteknya di sini bisa setiap 2 minggu sekali, 1 bulan sekali atau sesuai kesepakatan,  anak didik diajak pergi ke sawah, kebun, atau kolam untuk mengenal lingkungan.

Anak-anak bisa diajarkan menanam tumbuhan. Merawat dengan memupuk, menyiram dan membersihkan tanaman. Selain itu juga anak bisa memberi makan ayam, kambing, sapi, ikan dan hewan yang lain. Semua itu sebagai upaya pengenalan dalam konteks pembelajaran yang mengasikkan.

Harapannya dengan kelas lingkungan anak senang, terhibur dan cinta lingkungan sejak dini. Kelas lingkungan juga melatih berkomunikasi, antara anak didik dengan tukang kebun, penjaga kolam, petani sawah, walau sekedar tanya-tanya jenis-jenis tumbuhan dan hewan, hal ini mampu mendidik anak-anak hidup aktif bersosial sejak kecil.

Mengenal flora dan fauna bagi anak usia dini menjadi motivasi belajar. Dari Peta-Laku anak-anak memiliki rasa cinta pada alam dan mahluk hidup disekitarnya. Pola-pola pengenalan Peta-Laku bisa disesuaikan masyarakat dan lingkungan. Terpenting dari Peta-Laku yaitu kerjasama pihak sekolah, wali murid dan masyarakat. Syukur-syukur semua pihak mendukung.

Kelapa

Pihak sekolah juga mengadakan Kelas Menyapa (Kelapa). Belajar dari falsafah pohon kelapa, dimana semua unsur dari kelapa berfungsi semua. Kelas menyapa disini sekolah berkunjung silaturahmi ke Sesepuh Desa, Perangkat Desa dan Kepala Suku. Hal ini untuk membekali anak sikap sopan santun, sikap hormat-menghormati kepada orang yang di tuakan, sebagai manifestasi pendidikan karakter. Kelas menyapa bisa dilakukan sebulan sekali. Harapannya masyarakat juga membuka ruang dengan adanya program “Kelapa” dari sekolah.

Wali murid memiliki tanggung jawab dan peran dalam penyelenggaraan pendidikan di satuan pendidikan. Hal ini berarti peran serta masyarakat sangat dibutuhkan dalam peningkatkan mutu pendidikan, bukan hanya sekadar memberikan bantuan berwujud material saja, namun juga diperlukan bantuan yang berupa pemikiran, ide, dan gagasan-gagasan inovatif demi kemajuan suatu sekolah.

Marilah cintai anak kita, kasihi mereka, didiklah mereka dengan penuh kesabaran. Kelak sebagai orang tua, sebagai masyarakat akan mengunduh buah hasil dari generasi penerus. Mendidik anak anggaplah sebagai investasi dihari tua ataupun investasi dialam selanjutnya. Anak bukan hanya dibekali pendidikan formal, tetapi butuh pendidikan karakter, tingkah laku sampai pendidikan rohani terkait agama kepercayaan. Semoga generasi bangsa Indonesia menjadi generasi cerdas, santun dan cinta tanah air sesuai harapan para pahlawan yang telah memperjuangkan kemerdekaan.