tokoh muda kalimantan

Merah Johansyah Ismail, Tokoh Muda Kalimantan Pejuang Advokasi Kasus Pertambangan

Posted on

Merah Johansyah Ismail, Nahdliyin muda dari Kaltim, pegiat advokasi dalam kasus-kasus eksploitasi pertambangan. Hadir sebagai wakil dari Kalimantan, dalam pembentukan awal FNKSDA di Yogyakarta, yang dihadiri aktivis-aktivis Nahdliyin yang bergerak di bidang ini, dan (atau) konsen di bidang penelitian dan perhatian dalam soal eksploitasi pertambangan, yang saat itu ada Bosman Batubara, Heru Prasetia, Aan Ansori, Markijok, Hairus Salim, Ubaidillah, NKR, dan beberapa yang lain.

Kiprahnya diperhitungkan di kalangan aktivis-aktivis yang bergerak di bidang ini, bukan hanya di kalangan Nahdliyin, aktivis Kalimantan, dan FNKSDA, tetapi juga di tingkat nasonal, JATAM (Jaringan Advokasi Tambang).

Merah Johansyah lahir di Balikpapan, Kalimantan Timur, 27 Januari 1983. Orang tuanya bernama H. Abdul Hamid Ismail dan Hj. Mardiani; ayahnya menjadi PNS di Kementerian Agama (dulu bernama Departemen Agama) di kota Balikpapan, Kalimantan Timur; dan ibunya seorang ibu rumah tangga yang berwiraswasta. Kakeknya berdarah suku Banjar, dan buyut ke atas ada campuran India, dan ibunya berdarah Dayak Kapuas Kalimantan Tengah.

Buyutnya dari pihak ibu, bernama H. Ardi adalah Pejuang Kemerdekaan berasal dari Kalimantan Selatan. Sementara kakeknya dari pihak ibu, bernama H Budianoer, adalah seorang ulama di kampungnya, dan salah satu pendiri dan pendukung utama Majelis Ta’lim dan Sholawat. Kakeknya ini, ikut membangun Pondok Pesantren Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, bersama Syeikhuna KH. Ahmad Syarwanie Zuhri. Syekhuna ini, begitu Merah Johansyah sering menyebutnya, adalah ulama tersohor di Kalimantan Timur, yang lahir di Sungai Gampa, Kalsel tahun 1950 (8 Agustus 1980); dan meninggal di Balikpapan tahun 2019 (26 Maret 2019).

Guru Tuha, KH. Ahmad Syarwanie Zuhri, ini pernah belajar kepada KH. Abdul Qadir Hasan dan KH. Anang Sya’rani Arif (Darussalam Martapura), KH. Syarwani Abdan (Pasuruan), dan kemudian belajar ke Mekkah selama kurang lebih 12 tahun, dan menjadi murid dari Sayyid Muhammad Amin Quthbi, Syaikh Yasin a-Fadani, Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki, dan banyak lagi yang lain. Pondok Pesantren Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari yang didirikannya itu berlokasi di Km 19, Balikpapan Utara. Pondok ini adalah berhaluan Ahlussunnah Waljamaah dan terbesar untuk Masyarakat Kaltim. Para santri berasal dari warga Banjar, Kutai, Jawa, dan suku-suku lainnya.

Nama Pondok yang menggunakan nama ulama besar Kalimantan, Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, menunjukkan bahwa keluarga besar Pondok Pesantren ini terhubung dengan segala tradisi Islam di tanah Banjar, Kalimantan Selatan; di samping ngalap berkah dengan nama tokoh ini. Tradisi yang dipakai di Pondok ini, di antaranya penghormatan kepada Syekh Samman Al-Madani (Muhammad bin Abdul Karim as-Samman, pendiri tarekat Sammaniyah), pengajian rutin Manaqib, hingga penyelenggaraan haul-haul penting para ulama, terutama Haul Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari, hingga haul Tuan Guru Ijai (KH. Zaini Abdul Ghani), atau Tuan Guru Sekumpul; dan mengkaji kitab-kitab Ahlussunnah Waljamaah.

Merah Johansyah kecil, hidup dilingkungan pesantren yang demikian tersebut, dan belajar dasar-dasar agama kepada ayah dan ibunya; dan mendalami dengan menjadi santri di Majelis Pengajian yang diasuh kakeknya. Selain itu Merah Johansyah juga mengikuti pengajian rutin yang diisi oleh Abah KH. Syarwanie Zuhri semasa beliau hidup dan ngaji di Pondoknya.

Beberapa kitab yang pernah dipelajari ketika ngaji adalah kitab Ad-Durunnafis karya syekh Muhammad Nafis Al-Banjari, dan kitab fikih, Sabilul Muhtadin karya Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari

Pendidikan formalnya, ditempuh mulai dari TK Islam Istiqomah, Madrasah Ibtida’iyah Nahdlatul Ulama (MI. NU), Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 (MTs.N) hingga Madrasah Aliyah Negeri 1 (MAN) di Kota Balikpapan. Setelah itu, Merah Johansyah, melanjutkan kuliah di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN), yang sekarang bernama IAIN Sultan Sulaiman Samarinda (selesai pada tahun 2008). Merah Johansyah kemudian menempuh pendidikan Pascasarjana di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Jurusan Kebijakan Publik di Universitas Mulawarman, Samarinda.

Sejak ketika mahasiswa, Merah Johansyah sudah mulai aktif berorganisasi. Merah Johansyah aktif di organisasi mahasiswa, baik di Internal kampus maupun eksternal kampus. Di organisasi internal kampus, Merah aktif di Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) F. Syariah dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STAIN Samarinda; dan pada 2005-2006, Merah Johansyah terpilih menjadi Presiden Mahasiswa BEM STAIN. Sementara di organisasi mahasiswa, Merah Johansyah bergiat dan ikut Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) di Samarinda. Waktu di PMII pernah menjadi Kepala Advokasi PKC Pengurus Koordinator Cabang Kalimantan Timur.

Selain itu, Merah Johansyah juga aktif di berbagai lembaga dan badan otonom NU Samarinda, seperti di GP ANSOR, PW Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama, dan PW Lakpesdam NU Samarinda. Merah Johansyah juga aktif bersama beberapa anak muda NU lainnya di kota Samarinda, bergabung dalam berbagai lembaga riset dan kajian, dan intens dalam kajian kebudayaan-ekologi Kalimantan. Hal ini yang kemudian membawa Merah Johansyah, bergabung dengan beberapa anak muda NU lainnya dalam Komunitas Naladwipa Institute, yang banyak mengkaji kritik wacana agama dan kritik wacana kebudayaan. Naladwipa Institute ini banyak bersinergi dengan Desantara Institute, di samping dengan banyak jaringan lainnya.

Baca Juga >  Etika Menyembelih Hewan Kurban dari Mbah Maimoen Zubair

Kegiatannya di bidang advokasi, riset, dan kajian soal ekologi, menghantarkan Merah Johansyah, pada tahun 2014, terpilih sebagai Koordinator Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) Kalimantan Timur. Sebelum menjadi koordinator JATAM Kalimantan Timur, Merah Johansyah telah banyak terlibat dalam kerja-kerja advokasi korban pertambangan, di berbagai tempat di Indonesia, dan Kalimantan sendiri. Merah Johansyah, menemukan dalam berbagai kegiatannya itu, bahwa petani-petani kecil, termasuk Petani dari kalangan Nahdliyin, banyak menjadi korban industri ini. Merah Johansyah menjelaskan, polanya, diawali dengan pertambangan masuk berekspansi ke kampung dan desa, lalu merampas lahan pertanian para Nahdliyin. Atas kenyataan yang dilihat itu, Merah tergerak untuk lebih dalam lagi terlibat dan konsen di bidang ini; dan melakukan berbagai pembelaan, sehingga tidak hanya pada bidang lingkungan hidup saja.

Bagi pemerhati lingklungan hidup dan eksploitasi pertambangan, tentu akan mengenal JATAM. Organisasi ini adalah non pemerintah berskala nasional dan dikenal kritis terhadap kebijakan pertambangan. Sejak tahun 2005, JATAM memiliki jejaring luas di regional maupun internasional, dan terlibat dalam mempengaruhi reformasi kebijakan pertambangan nasional.

Ketika Merah Johansyah bergiat di JATAM Samarinda ini, pada saat yang sama di Jawa muncul kegelisahan banyak ekskploitasi pertambangan dilakukan di kantong-kantong masyarakat bawah yang kebanyakan Nahdliyin di sepanjang pulau Jawa. Sekumpulan anak muda melakukan diskusi-diskusi kecil di Yogyakarta, yang saat itu dimotori Bosman Batubara dan Heru Prasetia. Bosman Batubara dan Heru Prasetia mengajak diskusi berbulan-bulan untuk meyakinkan gerakan semacam ini dengan beberapa senior, termasuk dengan Hairus Salim HS, NKR, dan beberapa yang lain, dalam merespon isu-isu pertambangan.

Pada saat itu, Bosman Batubara dan Heru Prasetia, kemudian mengorganisir jaringan-jaringan yang mungkin dihubungi, sampai mereka berkumpul pada tahun 2013, di LKiS. Merah Johansyah dari Kalimantan, saat itu hadir di samping datang juga jaringan-jaringan lain, seperti Ubaid Kebumen, Shobirin, Aan Anshori, Yoyok Markijok, Ahmad Shidqi, Hairus Salim, NKR, dan beberapa yang lain. Mereka kemudian mendirikan FNKSDA, dan ketika pertemuan di Jawa Timur, kemudian bergabunglah Roy Murtadlo, Gus Muhamamd Al-Fayyadl, Gus Syathori Cirebon, dan beberapa Gus Muda dari banyak pesantren. Koordinator pertama diangkat Gus Ubaid Kebumen, lalu dilanjutkan Gus Muhamamd Al-Fayyadl, terus Roy Murtadlo, dan Muslih.

Atas kiprahnya di JATAM dan berbagai advokasi yang dilakukannya, pada tahun 2016, Merah Johansyah diamanahi oleh para peserta Pertemuan Nasional JATAM, untuk memegang kendali organiasasi ini di level lebih luas, yaitu di tingkat Nasional. Merah Johansyah didaulat menjadi Koordinator Nasional JATAM untuk periode 2016 – 2020. Dengan posisinya sebagai Koordinator Nasional JATAM, Merah Johansyah mendapat kesempatan lebih luas untuk mendorong advokasi lingkungan hidup, pembelaan kepada korban tambang dan Nahdliyin petani yang kehilangan tanah, dalam skala yang lebih luas lagi.

Selain itu, Merah Johansyah, juga menjadi salah satu produser film Sexy Killers (yang disutradarai Dandhy Laksono), yang cukup terkenal itu, bersama produser lain. Film ini adalah Film Dokumenter Investigatif, yang sempat mengguncang lanskap politik Pemilu dengan menyodorkan fakta dan data hasil investigasi JATAM, bersama organisasi lainnya tentang perusakan tambang dan hubungannya dengan Pemilu. Film ini viral dan telah disaksikan 27 juta penonton melalui kanal youtube.

Dengan keterlibatannya yang intens di bidang advokasi pertambangan dan jaringan FNKSDA, Merah Johansyah sering diminta menjadi pembicara di tingkat nasional. Misalnya, Merah Johan pernah diminta menjadi narasumber utama United Nation on Environment Programme (UNEP); dan juga mengikuti sejumlah forum internasional dan regional. Merah Johansyah juga diberi kesempatan mengikuti berbagai Beasiswa Short Course mengenai HAM dan Ekologi, selain mengikuti secara kritis negosiasi Perubahan Iklim di berbagai Negara, mulai di Thailand, Kamboja, hingga Bonn (Jerman).

Pandangannya, yang mengaitkan tentang tanah, Aswaja, dan Syaikh Arsyad, misalnya dapat dilihat dalam “Ekologi Pesantren ala Syekh Arsyad Al-Banjari (dimuat di NU Online, 2015). Dalam tulisannya ini, Merah Johansyah menegaskan bahwa pembelaan terhadap NKRI, seharusnya tidak hanya pada batas-batas kaku NKRI, namun juga pada aspek tanah dan isinya. Menurutnya, tanpa kedaulatan atas tanah dan air, tak akan mungkin Islam dan Aswaja dapat bertumbuh dengan baik.

Dalam berbagai kegiatan yang dilakukannya itu, Merah Johansyah, masih terus memelihara wirid yang diterima dari ayah, kakek dan gurunya, di antaranya wirid yang terkumpul dalam Kitab Perukunan Melayu, Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari. Merah menikah dengan Nurul Hanisa pada tahun 2012.

Semoga sehat selalu, panjang umur, dan berkah.

[Penulis: KH Nur Khalik Ridwan, Pengasuh Pesantren Bumi Aswaja Sleman]