ainul yaqin

Terlalu! Alasan Taraweh di Monas Ternyata Instagramm-able

Posted on

Sandiaga Uno, Wakil Gubernur DKI Jakarta, menjelaskan kepada wartawan bahwa ide diadakannya taraweh bersama di Monas itu karena Monas Instagramm-able dan untuk menyatukan ummat. Untuk lebih jelasnya saya kutib pernyataan Sandiaga dari media online kumparan sebagai berikut;

“Rencana Pemprov DKI untuk menggelar tarawih bersama di Monas pada Sabtu (26/5) mendatang batal. Meski demikian, Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno menjelaskan dari mana ide tarawih bersama di Monas itu muncul.”

“(Monas) ini sangat instagram-able gitu. Mempersatukan (umat) dan sangat instagram-able,” ucap Sandi di Kantor Pusat Indosat, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Senin (21/5).”

Kalau benar ide dasar acara tersebut karena Monas instagrammable, maka itu sangat disayangkan karena alasan tersebut seperti mempermainkan ibadah taraweh dan tidak terkait sama sekali dengan alasan-alasan keutamaan ibadah.

Selain itu, alasan mempersatukan ummat juga seperti dipaksakan karena kalau mau mempersatukan ummat dengan taraweh, kenapa tidak di masjid saja karena salah satu fungsi masjid memang untuk mempersatukan ummat.

Sandiaga mengungkapkan dua alasan tersebut seperti sedang terdesak untuk memberi jawaban ke publik ketika rencana teraweh bersama tersebut diprotes banyak pihak termasuk MUI dan dua organisasi Islam besar berpengaruh; NU dan Muhammadiyah.

Baca Juga >  Sila Pertama itu "Amanu", Empat Sila berikutnya itu "Amilus Shalihat"

Banyak pihak mempertanyakan rencana sholat taraweh bersama di lapangan Monas itu karena Monas hanya berjarak kurang dari 300 meter dari masjid Istiqlal yang mampu menampung 200 ribu jama’ah.

Meski akhirnya acara tersebut dibatalkan, tetap perlu dipertanyakan apa sebenarnya alasan pemda DKI Jakarta berencana mengadakan taraweh di Monas itu? apakah ini bagian dari gerakan politik masa seperti demo 212?

Kalau misalkan demikian, maka itu amat disayangkan karena ada unsur mempolitisasi kegiatan keagamaan untuk tujuan politik. Semoga saja tidak, karena jika benar demikian, itu terlalu..!

(Penulis: Ainul Yaqin, Pengamat Pecel, Rawon, dan Lodeh dan Pengurus Lakpesdam PWNU DIY)