gus mus dan mbah maimoen

100 Hari Mbah Moen, Gus Mus: Hati Bergetar Memandang Wajahnya yang Bersinar

Posted on

Ribuan manusia hadir dalam acara peringatan 100 hari wafatnya Simbah KH Maimoen Zubair di lingkungan Pesantren Al-Anwar Karangmangu Sarang Rembang, Rabu 13 November 2019. Para kiai juga hadir dari berbagai daerah, diantaranya KH Ahmad Mustofa Bisri, KH Miftachul Akhyar (Rais Aam PBNU), KH Abdullah Kafabihi Mahrus Lirboyo, Gus Baha’ dan lain sebagainya.

Yang termasuk memberikan mau’idhoh hasanah adalah KH Ahmad Mustofa Bisri. Gus Mus, sapaan akrabnya, menegaskan bahwa kalau kita hendak memandang atau bahkan membayangkan wajah mulia Kanjeng Nabi Muhammad Saw kok terlalu ketinggian. Cukup kita bersyukur dengan memandang wajah mulia Mbah Maimoen Zubair.

“Saya punya kebiasaan mengajak keluarga saya dan santri untuk sowan Mbah Maimoen. Sebenarnya banyak yang ingin saya haturkan, bahasa sekarangnya curhat, tapi ketika sudah berada di hadapan beliau, memandang wajah teduh Mbah Maimoen semua uneg-uneg seketika hilang semua,” tegas Gus Mus.

Bagi Gus Mus, Mbah Maimoen adalah pribadi yang sempurna. Bukan hanya alim, tapi juga amil (mengamalkan ilmu), serta memiliki akhlak yang sangat mulia.

“Dalam hal da’wah, pribadi Mbah Maimoen sendiri adalah da’wah. Bahasa sekarangnya adalah pribadi yang menarik. Mbah Maimoen itu loman (dermawan), bukan hanya materi, tapi juga loman ilmu,” lanjutnya.

Gus Mus juga berpesan kepada semua yang merasa menjadi santrinya Mbah Maimoen agar terus melestarikan ajaran dan tuntunan Mbah Maimoen.

“Yang alim, maka jadilah seperti alimnya Mbah Maimoen. Yang ahli dakwah, maka berdakwalah seperti da’wahnya Mbah Maimoen. Yang kebetulan jadi manusia biasa, maka tirulah akhlak Mbah Maimoen dalam memanusiakan manusia. Meskipun Mbah Maimoen sebagai pribadi yang sempurna, tapi beliau menerima siapa saja yang bertamu, sowan di ndalem beliau. Tidak pilih-pilih,” lanjut Gus Mus.

Baca Juga >  KH MA Sahal Mahfudh, Sosok Kiai Pendekar Tradisi Sanad

Sebagai seorang kiai, lanjut Gus Mus, Mbah Maimoen itu kiai paket lengkap, yakni mengabadikan diri (ilmu) dengan tulisan. Banyak kitab karya Mbah Maimoen. Kemudian mengabdikan diri dengan sukses mengkader santri di pesantren.

“Sebagai tokoh politik, Mbah Maimoen adalah tauladan, guru yang mengajarkan kita semua cara berpolitik yang beretika. Ketika kita masih sibuk dengan urusan pilkada, pilpres. Mbah Maimoen sudah maju lebih jauh dengan mendoakan Indonesia menjadi pemimpin dunia. Saya heran, ketika orang-orang luar banyak yang belajar terhadap Indonesia, kenapa orang-orang kita malah banyak yang belajar ke luar?,” tegas Gus Mus.

Gus Mus mengajak semua masyarakat untuk membumikan nilai desa di kota, atau ‘Ndesakno kutho-kutho’ dengan cara membawa nilai-nilai kebaikan masyarakat desa ke kota-kota. Bukan sebaliknya.

“Jangan tergiur dengan gebyar kehidupan kota, gaya hidup orang kota, lalu lupa nilai kebaikan kehidupan masyarakat desa,” tegas Gus Mus. (Abu Umar/Bangkitmedia.com)