najib
Muhammad Najib Murobbi (kanan) Bersama KH. Najib Abdul Qodir Krapyak

Sahabat Umar, Burung Empit, dan Pesan Kasih Sayang  

Posted on

عن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم الراحمون يرحم الرحمن ارحموا من في الأرض يرحمكم من في السماء

Dari sahabat Abdullah bin Umar dari Nabi Muhammad SAW, beliau bersabda:  Orang-orang yang memberi kasih sayang kepada siapapun maka akan diberi kasih sayang Allah SWT. Maka berbuat kasih sayanglah kalian semua kepada siapapun yang berada di bumi, niscaya kalian akan diberi kasih sayang pada siapapun yang berada di langit.

Dalam kitab al Mawaaizh al Ushfuriyah karya Syekh Muhammad bin Abu Bakar hadist pertama ini menceritakan tentang peristiwa yang sesuai dengan konteks hadist tersebut. Pada suatu hari sahabat Umar bin Khattab sedang berjalan ditengah kota yang panas. Terlintas dalam langkahnya ia melihat seorang anak kecil dengan burung emprit yang dimainkan olehnya. Tidak lama kemudian sahabat Umar menghampiri anak kecil itu lalu ia beli burung emprit itu dan ia lepaskan burung emprit itu.

Saat sahabat Umar bin Khattab wafat, mayoritas ulama seketika pernah bermimpi bertemu dengan sahabat Umar bin Khattab. Lalu terjadilah percakapan antara mereka.

“Apa yang Allah perbuat padamu?” tanya ulama. “Allah sudah mengampuni dan memafkan dosa-dosaku,” jawab Umar. “Lantas dengan apa Allah mengampuni dosa-dosamu? Apa dengan kebijaksanaanmu, kedermawananmu, keadilan yang engkau perbuat atau dengan sifat zuhudmu?”  Kau ingat ketika kalian meletakkanku ke dalam kubur lalu menutupku dengan debu dan tanah tidak lama kalian semua meninggalkan aku sendiri”? Diam sejenak sembari menatap para Ulama.

Lalu sahabat Umar bin Khattab melanjutkan perkatannya, “Tidak lama datang ada 2 malaikat masuk menemuiku yang kedua malaikat itu menakutiku hingga melayang daya alam pikirku. Bergetar tulang-tulang rusukku dari rasa takutnya diriku pada 2 malaikat. Mereka duduk diapit diriku hingga mereka hendak bertanya.”

Lalu sahabat Umar bin Khattab melanjutkan perkatannya, “Aku mendengar percikan suara yang halus tetapi seperti tidak ada suara, ‘Wahai malaikat pergilah dari hambaku, dan jangan kalian menakut-nakuti ia. Sesungguhnya ia telah aku beri rahmat dan aku ampuni dosa-dosanya. Karena ia telah memberi rasa kasih sayang terhadap sesekor burung emprit di dunia, maka patutlah sura untuknya’.”

Dalam hikayat ini kita bisa menyimpulkan bahwa sebagai sesama makhluk Allah hendanya kita saling mengasihi. Memberi rasa kasih sayang dengan sifat yang lembut sebagaimana sifat Allah SWT, ar-Rahmaan, ar-Rahiim. Terlebih sesama manusia dan lebih-lebih umat beragama. Kalau kita mengingat kata-kata Gus Dur “Tidak penting apa pun agama atau sukumu. Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak akan pernah tanya apa agamamu.”

Rasa-rasanya dari hikayat hadist diatas masih patut kita sejajarkan dengan peristiwa yang sedang melanda di Indonesia. Diantaranya adalah teror rusuh napi teroris disusul dengan 3 gereja di bom di Surabaya yang notabennya mereka adalah orang-orang Islam. Jihad sebagai iming-imingan simbol mereka dengan percaya dirinya mereka melakukan hal yang sama sekali di luar nilai-nilai agama. Ini adalah pemahaman yang sangat keliru.

Baca Juga >  Prof Musa Asy'ari: Ziarah Itu Penting dan Perlu

Agama yang seharusnya menebar rasa kasih sayang terhadap adapun dan siapapun. Saling memberi, menghormati dan mencintai mereka dengan penuh percaya diri mengatasnamakan agama melakukan hal itu. Sungguh terlalu, jika kata bang Roma Irama.

Agama Islam adalah agama yang membawa rahmat kasih sayang kepada semua. Bahkan Nabi Muhammad SAW diutus oleh Allah hanya semata-mata menjadi rahmat bagi semua alam. Tidak dibenarkan jika kekerasan menjadi ajaran yang patut dijadikan sebagai menebar rahmat. Seperti kisah sahabat Umar bin Khattab yang mendapatkan rahmat dan kasih sayang Allah hanya karena menyelamatkan seekor burung emprit. Dan itu semua semata-mata hanya karena ridho Allah SWT.

Oleh : Muhammad Najib Murobbi, Alumni Universitas Islam Indonesia, Santri Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta.