Oleh: Jamal Ma’mur Asmani, Santri KH. Ahmad Fayumi Munji dan Dosen di IPMAFA Pati
KH Ahmad Fayumi Munji merintis pondok pesantren Raudlatul Ulum pada tahun 1974 dengan santri kurang lebih 5 anak. Saat itu beliau belum punya rumah yang dibangun dari batu bata. Rumah beliau masih terbuat dari bahan pring (bambu-red) yang dikenal dengan gedek (anyaman yang terbuat dari bambu-red)
Tapi karena ada beberapa santri yang ingin mengaji kepada beliau, maka beliau buatkan tempat satu gotaan (kamar) untuk santri yang sangat sederhana karena terbuat dari gebyok apa adanya.
Nama روضة العلوم (taman ilmu) diambil dari hadis Nabi yang menjelaskan jika umat Islam melewati taman surga, maka ambillah gizinya. Taman surga yang dimaksud adalah majlis ilmu yang menjelaskan halal dan haram untuk mendekatkan diri kpd Allah.
Keilmuan dan haliyah KH Ahmad Fayumi Munji menjadi teladan bagi para santri dan umat Islam. Antara lain:
Pertama, beliau orang yang sangat sederhana dan hidup ada adanya. Ketika menjadi pegawai di lingkungan Pengadilan Agama Pati, beliau disarankan kredit sepeda motor, tapi beliau tidak mau. Beliau lebih suka naik Dokar dan transportasi umum. Beliau tidak ingin jika kredit sepeda motor, kemudian di tengah perjalanan Allah memanggilnya, memberikan beban hutang kepada keluarganya.
Kedua, beliau menekankan pentingnya menjalankan amanah (tanggungjawab) sekecil apapun. Jika yang kecil saja tidak dijalankan, apalagi yang besar. Ketika ada santri diberi amanah memberikan surat kpd Kiai Fayumi, tapi sampai hari yang ditentukan surat belum diberikan, lalu Kiai Fayumi diberitahu bahwa surat sudah dititipkan kepada santri, maka santri tersebut dipanggil dan diberi peringatan supya jangan meremehkan amanah yang sudah diberikan orang lain. Hal ini jika diteruskan, maka akan menjadi tabiat atau perangai buruk yang dibenci Islam. Misalnya, ketika diangkat menjadi pengurus organisasi, maka itu adalah amanah yang harus dijalankan dgn sepenuh hati, tidak asal-asalan, apalagi berkhianat.
Ketiga, ridla terhadap keputusan Allah (الرضي بما قضي الله). Dalam menjalani kehidupan ini, rukun iman yang terakhir ini harus menghiasi hati dan pikiran kita, sehingga ada rasa syukur terhadap apa yang diberikan Allah dan tidak punya rasa frustasi dan kecewa terhadap apa yang tidak bisa diraih.
Dalam konteks ini, KH Ahmad Fayumi Munji sering mengutip maqalah Imam Ibn Athaillah As-Sakandari المنع عين العطاء (mencegah tidak mendapatkan sesuatu hakikatnya adalah pemberian sejati). Jika manusia bisa meresapi dan mengamalkan ini, maka kehidupannya penuh dengan rasa syukur dan terhindar dari stress dan hal-hal lain yang memyengsarakan jiwa.
Keempat, menjalankannya perintah Allah dan menjauhi larangannya secara sungguh-sungguh. Kiai Fayumi selalu menanyakan kepada anak-anaknya, apakah sudah shalat apa belum? Pertanyaan ini untuk mengontrol kewajiban utama umat Islam yang harus dijalani kapanpun dan dimana pun.
Pernah suatu kali saya (Mbak Niswah) ikut rekreasi, tapi lupa tidak melakukan shalat karena tidak ada komando ketua rombongan. Maka sampai di rumah ditanya, apakah sudah melakukan shalat. Ketika dijawab belum, maka Kiai Fayumi menanyakan siapa ketua rombongannya dan beliau langsung menemui ketua rombongan untuk memberikan arahan dan peringatan agar menjaga shalat lima waktu dalam keadaan apapun dan dimana pun.
Dalam konteks shalat jama’ qashar, Kiai Fayumi sebagai ahli Falak juga mempunyai pemahaman yang mendalam terhadap jarak daerah yang memperbolehkan jama’ qashar shalat. Jika dari Kajen, maka ketika sampai Semarang atau Sarang Rembang sudah boleh meng-qashar shalat sesuai hitungan jarak Kiai Fayumi.
Kelima, mempunyai semangat mengkaji ilmu secara sungguh-sungguh. Beliau selalu meluangkan waktu membaca kitab bersama para santri. Ketika beliau sudah pensiun dari Pengadilan Agama, maka beliau membaca kitab-kitab besar sebagai wujud tabahhur (nyegoro) beliau dlm lapangan ilmu. Semangat membaca (مطالعة), Bahtsul Masail, dan kajian-kajian ilmiah sangat besar dari beliau.
Demikian sari teladan KH Ahmad Fayumi Munji yang disampaikan Putri beliau Hj. Niswah dalam forum Haul KH Ahmad Fayumi Munji yang ke -17.
Penulis sebagai santri juga melihat dan merasakan didikan langsung Kiai Fayumi. Beliau selalu ingin mengisi waktunya untuk membaca kitab-kitab kepada para santri. Meskipun kesehatan beliau menurun dan pita suara mengalami gangguan, beliau tetap membaca kitab tersebut, meskipun suaranya terganggu (serak) yang untuk ukuran ilmu medis harus digunakan untuk istirahat.
Para santri dibimbing secara serius untuk aktif dalam forum Bahtsul Masail. Kitab-kitab beliau dan ruang tamu beliau digunakan untuk muthalaah dan diskusi sampai larut malam untuk mempersiapkan santri dlm mengikuti forum Bahtsul Masail. Beliau senang dan bangga kepada para santri yang aktif dalam forum Bahtsul Masail. Beliau juga memberikan contoh dengan aktif menghadiri forum Bahtsul Masail tingkat kecamatan di MWCNU Margoyoso, meskipun level beliau sudah di Pengurus Wilayah NU Jawa Tengah.
Begitu teladan ulama-ulama zaman dulu yang sangat mencintai kitab kuning sampai akhir hayatnya, sehingga akan melakukan apapun untuk tetap membaca dan mengajari para santrinya kitab kuning sebagai permata paling berharga pesantren yang mengantarkan para santri sebagai tokoh dan pejuang di tengah masyarakat di masa depan.
الي روح شيخنا ومرب روحنا الشيخ العالم العلامة احمد فايومي منجي وزوجته الحاجة يوحانيد فايومي واصولهما وفروعهما واساتيذهما وتلاميذهما لهم الفاتحة … امين يا رب العالمين
Kajen, Ahad, 1 Juli 2018








