Pangeran Diponegoro

Perang Diponegoro, Pesantren dan “Jihad” Zaman Now

Posted on

Perang Diponegoro terjadi pada tahun 1825-1830 M. Perang yang juga dikenal sebagai Perang Jawa ini tercatat sebagai salah satu perang besar yang mampu membuat Belanda hampir “bangkrut”. Dalam tempo lima tahun, perang yang dipimpin langsung oleh Pangeran Diponegoro ini menguras kas Belanda dan menyebabkan defisit anggaran negara. Hingga akhirnya Belanda menerapkan sistem tanam paksa untuk menutupi defisit tersebut.

Tahun 1830, Pangeran Diponegoro ditangkap oleh Belanda yang menandai berakhirnya Perang Diponegoro secara “fisik.” Pasca tertangkapnya Pangeran Diponegoro, perang secara fisik melawan Belanda memang berakhir. Tapi bukan berarti perlawanan terhadap Belanda padam. Zainul Milal Bizawie dalam bukunya yang berjudul Laskar Ulama-Santi dan Resolusi Jihad menjelaskan bahwa para mantan pengikut Diponegoro tetap mengobarkan semangat melawan penjajah dengan jalur yang berbeda. Mereka mundur ke pedalaman-pedalaman dan membangun basis-basis perjuangan dengan mendirikan mushola dan pesantren.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Banyak sekali pesantren-pesantren di Jawa yang didirikan oleh para mantan pengikut Pangeran Diponegoro. Sebut saja Pesantren Tambak Beras Jombang yang didirikan oleh Kiai Abdussomad, pengikut setia Diponegoro. Pesantren yang didirikan oleh Kiai Abdussomad inilah yang menjadi cikal bakal berdirinya pesantren-pesantren besar di Jombang seperti Tebuireng, Rejoso, Denayar, dan sebagainya. Selain Kiai Abdussomad, tentu masih banyak lagi para pengikut Diponegoro yang mendirikan pesantren dan lembaga pendidikan lainnya sebagai kawah candradimuka para pejuang dari kaum santri.

Dari rahim pesantren-yang didirikan oleh para mantan pengikut Pangeran Diponegoro-lahir para pejuang yang tiada lelah menggelorakan perlawanan terhadap penjajah Belanda. Mereka terus menjaga api “jihad” agar tidak padam, hingga kemudian Belanda enyah dari bumi pertiwi dan Indonesia merdeka tahun 1945.

“Jihad” Zaman Now

Indonesia memang telah merdeka dan Belanda sudah lama meninggalkan negeri ini. NKRI sebagai sebuah negara kesatuan telah menunjukkan eksistensinya selama tujuh puluh tahun lebih. Akan tetapi, hari ini, di era perkembangan teknologi yang demikian pesatnya, muncul berbagai wacana dan gagasan untuk mendirikan negara Islam atau khilafah di Indonesia. Gagasan tersebut secata masif disebarkan lewat ribuan website dan akun media sosial. Mereka (baca: kelompok pengusung khilafah) begitu militan dalam menyebarkan gagasan tersebut.

Baca Juga >  Kasus PKI di Madiun, Kyai Umar Tumbu Saksikan Langsung Pembantaian Ulama

Tentu, hal itu adalah ancaman yang sangat nyata bagi NKRI dan keberagaman di negeri ini. Indonesia adalah negara yang terdiri dari macam suku bangsa, tidak hanya Islam. Gagasan pendirian Negara Islam Khilafah tentu sangat berbahaya bagi keberlangsungan NKRI di masa depan. Oleh karenanya, sekali lagi pesantren harus ambil bagian untuk “berjihad” melawan propaganda tersebut

“Jihad” yang dimaksud adalah ikut andil menciptakan lulusan-lulusan yang siap beradu gagasan di dunia maya. Santri tidak hanya bisa mengaji, tapi juga melek teknologi. Dengan begitu, santri akan mampu menciptakan berbagai konten untuk mencounter balik gagasan pendirian negara Islam. Karena jika tidak, gagasan pendirian Negara Islam bisa meracuni generasi muda bangsa ini yang akrab sekali dengan gadget dan perangkat teknologi yang lain. Pesantren harus menjadi kawah candra dimuka seperti di era penjajahan, yang mampu menciptakan santri-santri yang dengan gigih melawan penjajah. Jika dulu para santri mengangkat senjata melawan Belanda, maka saat ini, para santri harus menggunakan teknologi sebagai senjata untuk melawan propaganda pendirian negeri Islam di dunia maya.

(Nur Rokhim, Alumnus SKI UIN Sunan Kalijaga)

 

 

.