mbah marzuqi dan mbah munawwir krapyak
Mbah Marzuqi (kanan) dan Mbah Munawwir (kiri)

Bukti Ta’dzim Kiai Marzuqi kepada Mbah Munawwir Krapyak

Posted on

Kiai Marzuqi Giriloyo adalah santri generasi awal KH. Muhammad Munawwir Krapyak Yogyakarta. Beliau nyantri di Krapyak selepas pulang dari ibadah haji di tanah suci, yakni tahun 1927. Di Krapyak, Kiai Marzuqi menghabiskan waktu 4 tahun, yakni sampai tahun 1931. Dibawah bimbingan KH. Munawwir, beliau dididik dengan disiplin tinggi dan gemblengan yang matang sehingga bisa menghafal Al-Qur’an 30 juz.

Sebagai seorang santri, Kiai Marzuqi memiliki keta’dziman yang besar kepada gurunya. Hal ini memang menjadi kewajiban setiap santri, sebab santri meyakini bahwa dengan ta’dzim kepada guru, maka ilmu yang diperoleh akan mendatangkan kemanfaatan di kemudian hari. Keta’dziman kepada guru juga merupakan bagian dari syarat mencari ilmu yang ditanamkan di pesantren.

Info Peluang Usaha Depot Air Minum Isi Ulang by INVIRO

Rasa ta’dzim Kiai Marzuqi kepada Mbah Munawwir ditunjukkan bukan hanya di saat Kiai Munawwir masih hidup. Bahkan ketika sudah wafat sekalipun, Kiai Marzuqi tetap berkhidmat kepada gurunya. Diantara bukti keta’dziman Kiai Marzuqi kepada Mbah Munawwir adalah, dalam setiap momen haul Mbah Munawwir, Kiai Marzuqi membantu mencukupi kebutuhan mulai dari beras, kayu untuk memasak, dan keperluan-keperluan lain.

Bagi Kiai Marzuqi, tentu ini menjadi kebanggaan. Apalagi harta kekayaannya bisa digunakan untuk berbakti kepada gurunya. Santri meyakini bahwa keberkahan harta akan diperoleh jika ditasharrufkan di jalan kebaikan. Jalan berkhimad kepada guru adalah jalan kebaikan yang barokah, sehingga Kiai Marzuqi tidak ragu untuk membantu kegiatan haul Mbah Munawwir.

Baca Juga >  Pesan Gus Dur kepada Kang Husein: Sampeyan Bukan Politisi!

Selain itu, dulu dalam setiap momen haul Mbah Munawwir, juga kiai-kiai yang lain, belum menggunakan istilah “haul”. Kiai Marzuqi inilah yang mengusulkan nama “haul” digunakan sebagai kegiatan memperingati wafatnya seorang kiai. Maka sejak saat itu, istilah haul menjadi familier di kalangan masyarakat.

Baca juga : Ketika Kiai Marzuqi Giriloyo Berdialog dengan Sunan Cirebon

Pada awalnya, haul Mbah Munawwir diperingati sederhana, hanya sebatas tahlilan dalam lingkup kecil di internal pondok Krapyak. Baru setelah Kiai Marzuqi siap membantu mencukupi kebutuhan akomodasi, kegiatan haul Mbah Munawwir dimeriahkan dengan skala yang lebih luas.

Itulah beberapa bukti betapa ta’dzimnya Kiai Marzuqi kepada gurunya. Meski beliau telah menjadi kiai yang dihormati masyarakat, beliau tetap menjaga akhlakul karimah. (rk/md/an)

*Tulisan ini merupakan hasil wawancara tim bangkitmedia.com dengan KH. Ahmad Zabidi Marzuqi, putra KH. Ahmad Marzuqi Romli, pada Senin (12/3/18)