SEJAK dulu, sering kita dengar sebuah slogan di kalangan para santri: “Santri iku opo wae iso, iso opo wae.” Ungkapan ini bukan sekadar kata-kata penyemangat, melainkan lahir dari realitas bahwa santri memang memiliki potensi yang serba bisa. Slogan tersebut juga menjadi jawaban bagi sebagian pihak yang masih meragukan kemampuan dan kompetensi santri.
Pertanyaan seperti, “Kamu mondok di pesantren, nanti mau jadi apa?” atau “Memangnya santri bisa jadi apa?” sering terlontar dengan nada meremehkan. Bahkan tak jarang ada yang menilai bahwa santri itu kolot, tidak modern, dan sulit mengikuti perkembangan zaman. Padahal, justru di tengah derasnya arus perubahan dan tantangan global yang kian dahsyat, santri menunjukkan ketangguhannya. Nilai-nilai luhur yang mereka pelajari di pesantren—keikhlasan, disiplin, kesederhanaan, dan cinta ilmu—menjadi bekal nyata untuk menjawab tantangan zaman.
Kini, seiring berjalannya waktu, pertanyaan-pertanyaan skeptis itu terjawab dengan sendirinya. Dari ruang-ruang pesantren lahir para pemimpin, akademisi, pengusaha, ilmuwan, dan inovator. Dan jawaban tertinggi dari semua itu barangkali adalah: santri bahkan bisa jadi Presiden. Namun, kini muncul pertanyaan baru—bukan dari luar, melainkan dari kalangan santri sendiri: “What’s next?”
Setelah mampu menembus berbagai lini kehidupan, setelah menjadi pemimpin, akademisi, pengusaha, ilmuwan, bahkan Presiden—apa selanjutnya tugas seorang santri?
Apakah santri akan terus menjadi pengusung kemaslahatan sebagaimana peran sejatinya sebagai agent of change? Ataukah justru larut dalam arus sistem dan alur kerja yang belum tentu sejalan dengan nilai-nilai kemaslahatan yang dulu ia perjuangkan di pesantren?
Maka, menjadi santri di masa kini bukan lagi soal bisa jadi apa saja, melainkan bagaimana tetap menjadi siapa dirinya yang sejati di mana pun ia berada. Santri tidak diukur dari jabatan yang disandang, tetapi dari nilai yang ia bawa dan manfaat yang ia tebarkan.
Dunia hari ini tidak hanya membutuhkan orang pintar, tetapi juga orang yang benar. Tidak sekadar pemimpin yang berwawasan luas, tetapi pemimpin yang berhati bersih. Tidak hanya ilmuwan yang cerdas, tetapi ilmuwan yang jujur. Dan di titik inilah, nilai-nilai pesantren menemukan relevansinya yang paling dalam.
Santri harus terus menjadi penjaga nurani di tengah hiruk-pikuk dunia yang kian pragmatis. Ia harus menjadi penyejuk di antara panasnya ambisi, menjadi suara kebenaran di tengah riuhnya kepentingan, dan menjadi cahaya yang menuntun arah kemanusiaan. Sebab pada akhirnya, tugas santri tidak berhenti ketika ia berhasil “menjadi sesuatu”, melainkan ketika ia terus “menjadi berguna.” Dan selama santri menjaga keikhlasan serta amanah ilmu yang ia pelajari, maka di manapun ia berada—di kampus, di parlemen, di laboratorium, di pasar, bahkan di istana—ia tetaplah seorang santri.
Bukankah Gus Dur pernah mengajarkan kita bahwa, “Tidak ada jabatan yang perlu dipertahankan mati-matian“? (*)
Yusuf – Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris UNU Yogyakarta.








