Bangkitmedia.com, SLEMAN – Sejumlah pengasuh pondok pesantren dan para kyai yang tergabung dalam Himpunan Alumni Santri Lirboyo (HIMASAL) dan Aliansi Pondok Pesantren Yogyakarta, Selasa 21 Oktober 2025, melakukan aksi damai atas terjadinya video provokatif yang ditayangkan Trans7 dalam progran Xpose Uncensored. Aksi damai tersebut tidak berupa turun ke jalan, tetapi dilaksanakan di aula pondok pesantren Asslafiyyah Mlangi Sleman Yogyakarta.
Koordinator pelaksanaan KH. Irwan Masduki mengatakan, meskipun benar-benar sangat kecewa terhadap tayangan Trans7, namun kita melakukan aksi yang berbeda, yaitu dengan melakukan dialog dan orasi ilmiah mengenai sejarah, budaya, dan tradisi tabarukan ala pesantren. Meskipun dilakukan tidak di depan Trans7, tidak di depan DPRD, dan tidak di depan kantor KPID, namun aksi kegiatan berupa diskusi tersebut tidak mengurangi makna protes ke Trans7. Karena dalam diskusi ini juga dibacakan beberapa pernyataan sikap dari para pengasuh pesantren alumni Lirboyo dan aliansi Pondok Pesantren Yogyakarta yang ditujukan kepada Trans7 dan aparat berwajib.
Prof. Dr. Abdul Mustaqim selaku akademis mengatakan dalam orasinya, konten video yang diputar di Trans7 menunjukkan ketidaktahuan dan ketidakfahaman dari pihak pengelola terhadap pesantren. Bisa dikatakan jahil murokab, yaitu kebodohan terhadap dirinya bahwa dia tidak tahu kalau dirinya bodoh, sehingga muncullah konten tersebut tanpa adanya penelitian dan klarifikai. Abdul Mustaqim menganggap bahwa itu suatu kesengajaan dari pihak Trans7 untuk mendegradasi pesantren dan kyai. Mereka lupa bahwa pesantren dan kyainya mempunyai peran besar, baik dalam kemerdekaan bangsa Indonesia dan pembangunan SDM masyarakat Indonesia.
Di sisi lain KH. Hasan Abdulloh yang mewakili PWNU DIY mengatakan, konten yang memicu gelombang protes tersebut menunjukkan Trans7 tidak butuh bahkan menganggap pesantren tidak layak ada sehingga bisa dilecehkan seenaknya. Jika Trans7 tidak menganggap pesantren ada dan layak dihormati, maka pesantren juga punya hak untuk tidak menganggap keberadaan Trans7 alias memboikot Trans7 berikut hal-hal yang masih ada korelasinya dengan Trans7.
Aksi damai diskusi tersebut diakhiri pembacaan sikap bersama yang dibacakan oleh Kyai Fajar Abdul Bashir Ichwan. Berikut beberapa poin penyataan sikap yang pokok:
- Mengutuk keras terhadap video tersebut, karena berisikan konten yang mendeskriditkan pesantren dan menghina sosok Kyai yang masyhur dan karismatik KH. Anwar Manshur Lirboyo.
- Menuntut pihak aparat agar segera menindaklanjuti secara hukum atas laporan-laporan kepolisiannyang telah ada.
- Menuntut Trans7 dan Pemilik Induk Trans Media untuk meminta maaf kepada KH. Anwar Mashur dan kepada pesantren-pesantren se Indonesia, dan menyiarkan di media Nasional serta menjelaskan bahwa apa yang diXPose merupakam kekeliruan fatal.
- Menuntut KPI untuk mengambil langkah konkrit berupa saksi keras berupa pencabutan izin tayang televisi Trans7.
- Mengajak masyarakat agar tetap tenang tidak terprovokasi atas video kontraversi yang ditayangkan Trans7 tersebut, dan juga tidak terpengaruh terhadap issu-issu miring terhadap pesantren.
Acara dihadiri KH. Habub Abdus Syakur (Ketua MUI Bantul dan Wakil Syuriah PWNU DIY), KH. Hasan Abdulloh (Wakil Ketua PWNU DIY dan pengasuh PP. Assalafiyyah Mlangi), Prof. Dr. Abdul Mustaqim (Akademisi UIN Suka), Hj. Ida Rufaida Ali (Pengasuh PP. Ali Maksum Krapyak), KH. M. Nilzam Yahya (Ketua RMI PWNU DIY), KH. Fahruddin Barmawi, KH. Nuruddin Barmawi, dan lain-lain. (*)








