Bangkitmedia.com, SLEMAN – Sebuah buku yang mengupas KH Wahid Hasyim (Kiai Wahid) dan istrinya, Nyai Sholihah, diterbitkan. Buku ini berisi catatan pribadi yang ditulis salah satu putra Kiai Wahid, dr KH Umar Wahid. Buku yang diberi judul ‘Teladan dari Rumah Ulama’ ini, Selasa (21/10) diluncurkan dalam sebuah bedah buku di aula utama Pondok Pesantren Minggir Sleman, asuhan KH Ahmad Muwafiq.
Saat memberikan sambutan, Gus Muwafiq menilai, buku ‘Teladan dari Rumah Ulama’ sangat inspiratif. “The last wahid ini berisi penuturan dan pelajaran dari rumah ulama yang mampu melahirkan orang-orang terpilih dan menjadi panutan,” ungkap Gus Muwafiq.
Gus Muwafiq berterima kasih, karena pesantren yang dipimpinnya menjadi tempat perdana yang dipilih untuk membedah buku ini. Harapannya, buku ini mendukung gerakan literasi dan menjadi teladan para santri dan masyarakat.
Buku ‘Teladan dari Rumah Ulama’ ini mengangkat kisah keluarga besar KH Wahid Hasyim dan Nyai Sholihah, pasangan ulama yang menanamkan nilai cinta, ilmu dan pengabdian di rumahnya.
Dokter Umar Wahid yang kini sudah 80 tahun ketika menjelaskan ihwal buku tersebut menyebutkan, idenya muncul ketika ia menjadi Ketua Tim Pemenangan Andika Perkasa-Hendrar Prihadi di Pilkada Jateng, 2024 lalu. Dalam perjalanan selama kampanye di 22 titik, ia banyak berinteraksi dalam suasana informal dengan para kiai yang sangat mengapresiasi nilai-nilai yang diajarkan ayahandanya, KH Abdul Wahid Hasyim.
Sedang mengenai judul yang dipilih, Umar Wahid menjelaskan, rumah ulama yang dimaksud yakni rumah di Jalan Tjokroaminoto (dulu Jalan Jawa) dan Jalan Taman Matraman Barat No 8 (sekarang Jalan Taman Amir Hamzah). “Di kedua rumah itu Bapak dan Ibu mendidik kami menjadi pemimpin dalam ruang lingkup masing-masing,” katanya didampingi Ning Alisa Wahid.
Hal yang membuat trenyuh, ayahnya, yang pernah menjadi Menteri Agama itu, wafat dalam usia yang masih muda yakni 39 tahun. Sedangkan, Ny Sholihah ketika itu baru 31 tahun dan harus mengasuh 6 anak yang masih kecil-kecil. “Setelah Bapak tidak menjadi Menteri, harus keluar dari rumah dinas dan kontrak,” kenang dr Umar.
Dalam bedah buku ini, Umar Wahid dengan rinci mendiskripsikan peran, kiprah dan karakter kelima saudaranya, yaitu KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Ny Aisyah Hamid Baidlowi, Nyai Lili Chadijah Wahid, KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah) dan KH Hasyim Wahid (Gus Im). Mereka lebih banyak tinggal di Jakarta, sehingga karakter Betawi banyak mewarnai keluarga ini. “Porsi Jombangannya hanya sedikit,” selorohnya.
Diakui Umar, dalam buku yang editornya dikerjakan Dr Imam Anshori Shaleh ini, Gus Dur mendapat porsi penuturan paling banyak. Hal ini dianggap wajar, karena Gus Dur kakak sulung dan Dokter Umar juga kebetulan menjadi dokter pribadinya hingga Gus Dur diangkat menjadi Presiden. Selain itu, ujarnya, Gus Dur sangat colorful, melintas dari kehidupan keluarga, berbagai organisasi, lintas budaya, lintas bangsa dan negara.
Imam Anshori Saleh mengaku tak banyak kesulitan ketika diminta mengerjakan buku ini. Apalagi, mantan wartawan ini, termasuk dekat dengan keluarga Bani Wahid. “Khusus Kiai Wahid, saya banyak mendengar cerita dari ayah saya. Ibu Nyai Sholihah, saya sempat bertemu dan berinteraksi langsung. Begitu pula dengan keluarga yang lain, sering bertemu,” ucap Imam. (Sobirin)








