Bangkitmedia.com – 20 September 1926 lampau, Pesantren Gontor berdiri, didirikan tiga bersaudara Trah Ki Ageng Muhammad Besari (w. 1747 M). Adalah KH Ahmad Sahal ( 1905 – 1977 ), KH. Zaenudin Fannanie ( 1908 – 1967 ) dan KH. Imam Zarkasyi ( 1910 – 1985 ). Ketiganya di kenal sebagai Trimurti pendiri Pesantren Darussalam. Berlokasi di desa Gontor, Kecamatan Mlarak, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Namun kelak di kemudian hari nama Gontor lebih di kenal masyarakat dunia di banding nama Darussalam sebagai nama resmi pondoknya. 20 September 2026 mendatang, Gontor resmi berusia 100 Tahun. Selama satu abad ini, pesantren Gontor yang perjuangannya dalam mendidik umat di gerakan oleh para Kiai yang mukhlash, tak pernah berhenti mendidik kader umat, kader bangsa, kader pemimpin dan kader masyarakat.
Banyak tokoh terlahir dari rahim pendidikan pesantren Gontor. Dr. KH Idham Cholid salah satu pahlawan Nasional adalah alumni pesantren ini. Dan sekedar menyebut lainnya ada KH. Hasyim Mudzadi, Prof. Dr. Sirojudin Syamsudin, Prof. Dr. Nurcholis Majid, Dr. Hidayat Nur Wahid, M. Maftih Basyuni, Lukman Hakim Saefudin, Cak Nun ( Emha Ainun Najib ), Yudi Latief, dan sederet tokoh ormas, tokoh parpol, para kiai pimpinan pondok pesantren, birokrat, rektor perguruan tinggi, kecuali itu para penggerak dakwah di akar rumput pun banyak yang merasakan dinamisnya alam pendidikan Gontor. Di usianya yang ke-100 tahun, Gontor semakin besar, Gontor ikut menciptakan sejarah perjalanan bangsa ini, kiprah alumninya banyak melahirkan manfaat bagi masyarakat, agama dan bangsa. Sebagai alumni Darussalam Gontor, saya melihat, mengamati sekaligus membaca. Bahwa satu hal pondasi kebesaran Gontor yang tak boleh luput tertulis dalam lembaran emas sejarah perjalanan pondok ini, selain kurikulumnya dan pola pendidikan asramanya yang bernafaskan tajdid, adalah adanya Do’a yang kuat disetiap tekad perjuangannya.
Sebagai alumni tahun 2008, yang usia Gontor saat itu sudah 80 tahun, tentu saya tidak banyak tahu bagaimana Trimurti para Kiai pendiri Gontor melakukan tirakat, bermunajat kepada Tuhan Allah untuk kemanfaatan pesantrennya. Karena KH. Imam Zarkasyi, Trimurti terakhir wafat di tahun 1985. Bertahun sebelum saya lahir. Oleh karena itu, dua rujukan referensi saya ambil untuk mengungkap fakta sejarah dimana kekuatan Do’a merupakan pilar penting di balik kebesaran Gontor saat ini. Kedua referensi itu, Pertama buku bioghrafi dengan judul “KH. Imam Zarkasyi Dari Gontor Merintis Pesantren Modern, oleh Tim penulis dengan ketua Tim Drs. Amir Hamzah Wiryosukarto dan Drs. H. Ahmad Fuad Effendi, dimana cetakan pertamanya terbit pada September 1996, di terbitkan Gontor Press “. Kedua kumpulan tulisan dengan judul “Gontor Dari Dalam” di laman Walisantrigontor.Wordpress.com, karya TGH. Hasanain Juaini, Pendiri Pesantren Nurul Haramain, Lombok Barat, beliau Khadim KH Imam Zarkasyi, alumni Gontor tahun 1984. Dari kedua sumber ini tersingkap betapa kekuatan Do’a senantiasa mengiringi gerak perjuangan Gontor.
Munajat Kiai Gontor
Awal kisah, Ibu Nyai Sudarmi, ibu kandung Trimurti Gontor, selain memiliki tekad kuat agar puteranya menjadi orang ‘alim dengan cara dimana beliau menitipkan para Trimurti kecil di berbagai pondok pesantren dan lembaga pendidikan ternama saat itu saat itu, dari mulai Pondok Joresan, Durisawo, Silawan Panji, Tremas, Jamsaren, hingga Padang Panjang. Beliau juga tak lupa dimana tekad kuat itu selalu bernafaskan laku amal shalih serupa puasa senin-kamis dan memperbanyak dzikir ; Kalimah thayyibah, tasbih, Hamdalah dan takbir dimana pun beliau berada. Bibir beliau senantiasa basah dengan munajat pada Tuhan Allah swt.
Di kemudian hari selepas Trimurti pulang dari menuntut ilmu, munajat itu di lanjutkan putranya, di kisahkan bahwa KH. Imam Zarkasyi adalah sosok Kiai dengan taqarrub yang tinggi pada penciptanya. Beliau sering mendirikan solat malam diatas tanah di sudut-sudut pesantren Gontor. Jadi setiap jengkal tanah Gontor pernah menjadi tempat solat tahajudnya Pak Zar (Panggilan KH. Imam Zarkasyi). Menurut kesaksian alumni Gontor terdahulu, Pak Zar akan memasuki masjid untuk solat jum’at saat santri beliau masih olah raga kisaran jam 10.00 pagi dan beliau merupkan orang yang terakhir keluar dari Masjid selepas shalat Jum’at dibanding para santrinya. Jeda waktu panjang itu diisi Pak Zar dengan ibadah berupa puluhan rakaat solat sunnah. Apabila Pak Zar memiliki hajat besar atau mendo’akan putera-putrinya yang sedang fokus menghadapi ujian di jenjang formal akademik perguruan tinggi, atau saat membersamai santri-santrinya yang lagi menghadapi ujian kelas di Gontor, beliau akan memperbanyak shalat sunah hingga beratus rakaat. Di riwayatkan Pak Zar akan tirakat dengan 40 rakaat shalat sunnah untuk setiap satu orang putera beliau, padahal putera-putri beliau berjumlah 11 orang, ini berarti beliau akan munajat dengan 440 rakaat solat sunnah untuk putera-putrinya. Munajat Pak Zar untuk kebesaran Gontor diantaranya di ejawantahkan lewat memperbanyak amalan shalat sunnah.
Do’a Para Pencuri
Hal menarik lainnya yang membuat Gontor besar adalah do’a dari semua orang yang menginginkan kebaikan bagi Gontor, mulai do’a kiai, pejabat, orang biasa hingga para pencuri. Ya pencuri, begitulah sejarah merekamnya, pernah suatu kali, Nyai Sudarmi, janda KH Santoso Anom Besari ini berpapasan dengan seorang laki-laki yang di kenal sebagai “sampah” masyarakat waktu itu karena semua predikat maksiat melekat pada dirinya. Si ahli maksiat bertanya kepada Nyai Sudarmi tentang kabar kondisi putera beliau. Diakhir dialog Bu Nyai meminta kepada si tukang maksiat tadi agar bersedia mendo’akan kebaikan bagi Trimurti kecil. Dan pada akhirnya si ahli maksiat itu bersedia mendo’akan kebaikan bagi Trimurti kecil walau dengan perasaan malu dan heran sebab dirinya sendiri pelaku maksiat.
Lain lagi halnya dengan kisah KH. Ahmad Sahal yang terkenal dengan kekuatan tauhidnya, dimana suatu kali beliau berhasil meringkus seorang pencuri paling kawakan di wilayah Ponorogo. Konon pencuri ini ingin menguji kesaktian KH Ahmad Sahal, namun baginya apes. Ilmu kanuragannya lebih cetek, dia tertangkap dan dibawa kerumah Pak Sahal (Panggilan akrab beliau), setelah di beri makan dan minum, sang pesakitan disuruh duduk menghadap kiblat, lalu dawuh Kiai Sahal :
” Ayo doakan saya dan santri-santri saya biar selamat dunia akhirat”
Namun si pencuri menolak dan dengan sangat malunya, berkata :
“Doa saya orang jahat ini tidak lebih makbul dari doa ndoro Kiai. sayalah yang mohon di do’akan”.
Jawab Kiai Sahal:
“Mungkin doamu untuk dirimu tidak makbul, tapi doamu untuk orang lain akan makbul. ayo doa… doa.. doa…”. Sebelum dilepaskan, tak lupa Kyai Sahal menyuruhnya mengangkat tangan lalu beliau mendoakan mantan maling itu: ” Semoga doaku untukmu makbul, wis moleho”(sudah sana pulang).
Berdo’a, Mendo’akan, Minta Do’a
Do’a adalah ruh penyebab utama kebesaran Pesantren Gontor. KH. Hasan Abdullah Sahal, pimpinan Gontor saat ini sering mewejangi para santrinya terkait pentingnya hidup yang bernafaskan do’a, kata beliau diantara kunci kebaikan dan kesuksesan hidup adalah tiga hal do’a, yaitu berdo’a, minta do’a dan mendoakan. Dari irisan lembaran sejarah Gontor ini, ada nilai spiritual yang wajib di ambil teladan oleh para alumninya dan kaum muslimin. Bahwa di balik kebesaran Gontor saat ini, ada bangunan spiritual transedental yang kuat antara para Pendiri Gontor dengan Tuhan Allah swt, yaitu kekuatan dan kesungguhan dalam berdo’a.
Hingga detik ini pun oase Gontor tidak pernah kering dari mata air do’a, meminta do’a kepada siapa pun dan medo’akan siapa pun, untuk kebaikan dan keberkahan Gontor sekaligus kemanfaatan ilmu para alumninya. Seorang kawan sesama alumni Gontor pernah berkelakar dan sedikit bernasihat ; “Jadi santri Gontor gak usah banyak tirakat, sudah selesai di tirakati Kiainya”, yang utama kata dia, “setelah menjadi alumni niat ikhlas mengabdikan ilmu di masyarakat, apa pun profesi kita, dulu waktu masuk kelas kadang ngantuk-ngantuk, ada rasa malas, tapi pas pulang malah jadi Bupati, Mentri Agama, Kiai dan Tokoh Masyarakat, itu kalau bukan karena kuatnya Do’a para kiai Gontor untuk santrinya, mustahil terjadi”. Ujarnya sambil tertawa. Akhirul kalam, Kita berdo’a, rahimahumullah ajma’in bagi para muassis, kiai, guru dan pejuang Pondok Gontor, wa ushulihim, wa furu’ihim, wa azwajihim, wadzurriyatihim. Selamat milad Pondok Gontor yang ke- 100 Tahun.
Kota Metro, 18 Juli 2026
Arip Hidayat
Alumni Gontor 2008, Tinggal di Kota Metro, Lampung








