Pernah Menjadi Rois Syuriah PWNU DIY Dua Periode, KH Asyhari Abta Tutup Usia

Pelayat mensholatkan jenazah Almarhum KH Asyhari Abta di masjid Ponpes Tegalsari. (Foto: Febriyanto)

Bangkitmedia.com, SLEMAN – Pengasuh Pondok Pesantren Tegalsari Wedomartani Ngemplak Sleman, KH Asyhari Abdullah Thamrin atau yang akrab disapa KH Asyhari Abta meninggal dunia di usia 74 tahun, Kamis (24/9/2026) pukul 04.00 WIB. Jenazah dimakamkan di Kompleks Ponpes Tegalsari Wdomartani Ngemplak Sleman di hari yang sama pukul 15.30 WIB.

Ribuan pelayat memadati rumah duka sejak pagi. Berbagai pesan duka dan status duka cita juga terus berseliweran di media sosial mengiringi kepergian ke pangkuan Illahi mantan Rois Syuriah PWNU DIY yang sempat menjabat dua periode tersebut.

“Telah wafat pada pagi ini guru saya, Bapak KH. Asyhari Abdullah Tamrin. Beliau dikenal sebagai dai, pengasuh pesantren dan pejuang NU,” tulis Dr KH Hilmy Muhammad di media sosial miliknya.

Menurut pria yang akrab disapa Gus Hilmy tersebut, sebagai dai, almnarhum sering kali keliling ke pelosok desa sejak masih menjadi guru di Ponpes Krapyak. Banyak majelis yang diinisiasi dan diampu almarhum selama memimpin Korps Dakwah Mahasiswa (Kodama) di seputaran Kabupaten Bantul.

“Beliau bahkan punya rutinan di Muntilan Magelang. Dan selama bertahun-tahun beliau menjadi badal Allahuyarham Simbah KH Mufid Mas’ud bila berhalangan dan mendampingi Allahuyarham Pakde KH Atabik Ali mengasuh pengajian Jum’at Legi di Krapyak, peninggalan Allahuyarham Simbah KH Ali Maksum,” urai Gus Hilmy.

Almarhum KH Asyhari Abta. (Foto: Istimewa)

Masih ditambahkan Gus Hilmy, ceramah almarhum selalu renyah, ringan, tanpa kehilangan bobot. Materinya soal akhlaq dan ajaran Ahlus Sunnah wal Jama’ah. “Dan antara yang sering beliau kutip adalah pangandikan dan pelajaran dari Allahuyarham Simbah KH Ali Maksum,” sebutnya.

Selama ini, KH Asyhari Abta dikenal memiliki perjuangan yang gigih di lingkungan NU. Almarhum pernah menjadi Rois Syuriah PCNU Bantul dan Rois Syuriah PWNU DIY masing-masing selama dua periode. Sesudah tidak menjadi Kepala Madrasah Aliyah di Krapyak, almarhum lebih banyak tinggal dan membesarkan pesantren rintisan yang diberi nama sama dengan nama dusun tempat tinggalnya, yaitu Pesantren Tegalsari di Desa Wedomartani Ngemplak Sleman.

“Beliau mengasuh teman-teman mahasiswa dan membuka pengajian untuk kasepuhan dan tokoh masyarakat, khususnya di Sleman. Yang luar biasa, meskipun beliau sudah menetap di Sleman, dan selama bertahun-tahun kondisi kesehatan mengharuskan cuci darah, tapi hingga akhir hayat masih memiliki jam mengajar di Madrasah Aliyah Krapyak. Subhanallah, satu hal yang menunjukkan kecintaan luar biasa terhadap Krapyak,” tegas Gus Hilmy. (*)

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *