KISAH pertama, Suatu ketika, KH Ali Maksum, pengasuh Pesantren Krapyak Yogyakarta tengah menyampaikan ceramah pada sebuah acara peringatan haul. Di tengah ia ceramah, tiba-tiba muncul orang yang membawa sesuatu yang dibungkus kain surban berwarna putih, naik ke atas panggung. Secara cepat pula, orang tersebut memukulkan benda yang ternyata linggis itu ke Mbah Ali dengan membabi buta.
Kurang jelas, apa motif orang tersebut sehingga berani memukul tokoh yang dihormati tersebut, di depan publik. Yang terjadi setelah peristiwa pukulan linggis tadi, membuat Mbah Ali jatuh tersungkur dan mengalami luka yang parah. Bahkan, Ketika itu, kiai yang pernah menjadi Rais ‘Aam PBNU itu mesti opname hampir dua bulan karena luka parah.
Namun, justru di sinilah letak kekuatan (baca: karamah) Simbah Kiai Ali, usai menerima serangan pukulan linggis. Ketika dirawat di rumah sakit, salah satu santrinya yang kala itu ikut menunggu, KH Abdul Karim, masih ingat pesan yang disampaikan oleh Kiai Ali.
“Beliau berkata : “kabeh anak-anak ku lan santriku ora keno dendam lan ora keno anyel (semua anakku dan para santriku, tidak boleh dendam dan benci),” kenang kiai yang akrab disapa Gus Karim itu, menirukan ucapan dari sang guru.
Kekuatan yang diperlihatkan KH Ali Maksum, bukanlah kekuatan kebal menerima pukulan linggis, melainkan kekuatan meredam amarah dan kebencian kepada sang pelaku. Kekuatan memaafkan inilah yang lebih “ampuh”, daripada sekedar kekuatan fisik. Teladan sikap memaafkan KH Ali Maksum ini pula, barangkali yang kemudian ikut mengalir dan mengilhami kepada para santrinya, yang termasuk di antaranya yakni KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus). (NU Online/2016).
Menolak Menjadi Rais Aam PBNU
Kisah ini diceritakan oleh KH Munawir AF, Mustasyar PWNU DIY, yang juga santri Kiai Ali Maksum Krapyak Yogyakarta, Rais Aam PBNU 1981-1984. Tahun 1984, sewaktu hendak berangkat menuju Muktamar Situbondo, Kiai Ali Maksum menjanjikan sejumlah uang kepada santrinya bernama Fadholi muda, kalau nanti tidak lagi terpilih menjadi Rais Aam di Situbondo.
Dalam arena Muktamar, Kiai Ali adalah Rais Aam yang memang akan dipilih lagi oleh para kiai sepuh. Karena Kiai Ali terbukti mampu membawa NU menjaga keseimbangan dalam diri NU, disamping kapasitas keilmuan yang sudah diakui publik. Saat itu akhirnya disepakati Ahlul halli wal aqdi (AHWA), Kiai Ali ada di dalamnya bersama Kiai As’ad Syamsul Arifin, Kiai Mahrus Ali, dan Kiai Masykur.
Dalam AHWA ini, Kiai Ali tidak bersedia melanjutkan kepemimpinannya sebagai Rais Aam. Kiai Ali malah mengharapkan NU dipimpin yang lebih muda, sehingga regenerasi di tubuh NU berjalan dengan baik. Akhirnya, terpilih KH Ahmad Siddiq sebagai Rais Aam dan KH Abdurrahman Wahid sebagai Ketua Umum. Seusai Muktamar, Kiai Ali kembali ke pesantren, fokus mengaji dengan para santri dan masyarakat.
Kiai Ali fokus membangun generasi NU yang kelak siap memimpin NU dan bangsa di masa depan. Tidak lupa, Kiai Ali memenuhi janjinya memberikan sejumlah uang kepada santrinya bernama Fadholi. Sekali lagi, Kiai Ali malah memberikan sejumlah uang kepada santrinya ketika tidak terpilih lagi menjadi Rais Aam.
Kisah ketidaksediaan Kiai Ali akhirnya ditiru santrinya bernama KH A. Mustofa Bisri (Gus Mus), walaupun sudah ditetapkan AHWA sebagai Rais Aam, tetap saja Gus Mus menolaknya. Inilah akhlak yang dimiliki Kiai NU, sangat tepat menjadi pembelajaran bagi bangsa dan negara dalam berbagai agenda demokrasi. Akhlak para kiai NU menjadi referensi yang sangat tepat untuk membangun peradaban Indonesia dan dunia. (Muhammadun: NU Online/2015)
Berikut adalah 5 pesan atau wasiat KH. Ali Maksum (Krapyak), Rais Aam PBNU periode 1981–1984, untuk warga dan kader Nahdlatul Ulama (NU):
- Al-Ma’rifatu bi Nahdlatil Ulama(Mengetahui dan Mempelajari NU)
Warga Nahdliyin harus mengerti, mempelajari, dan memahami secara utuh apa dan bagaimana NU itu sebenarnya, bukan sekadar ikut-ikutan secara turun-temurun atau alamiah. - Ats-Tsiqatu bi Nahdlatil Ulama (Memiliki Keyakinan yang Mantap pada NU)
Warga NU harus tumbuh rasa percaya yang kuat terhadap NU sebagai wadah perjuangan dan tuntunan hidup yang selaras dengan ajaran Islam Ahlussunah wal Jamaah. - Al-Amalu bi Ta’limi NU(Mengamalkan Ajaran NU)
Warga NU dianjurkan untuk mengamalkan serta mengajarkan tuntunan Islam ala Ahlussunah wal Jamaah yang berpedoman pada Al-Qur’an, Hadis, Ijma’, Qiyas, serta bimbingan para kiai dan muktabar mazhab. - Al-Jihadu fi Sabili NU(Berjihad Bersama dan Memperjuangkan NU)
Warga dan pengurus harus aktif berjuang memajukan dan menjaga NU dengan niat ikhlas—bukan untuk mencari keuntungan pribadi, melainkan demi kemaslahatan umat (rahmatan lil ‘alamin). - Ash-Shabru fi Sabili NU(Sabar dalam Ber-NU)
Dalam menjalankan khidmah atau perjuangan di NU, diperlukan kesabaran yang tinggi: sabar dalam menjalankan tugas organisasi serta sabar menghadapi berbagai ujian maupun bujukan duniawi yang tidak selaras dengan nilai-nilai NU.
Dari nukilan kisah-kisah tersebut di atas, pertama, kita sangat merindukan keteladanan seorang kyai yang rendah hati dan tak pernah dendam kepada siapa pun yang telah melukai fisiknya. Kekuatan dan karamahnya tampak kala bisa meredam amarah dan dendam.
Kedua, pengajari kita untuk tidak pernah merebut jabatan dunia, ditawarin pun menolak untuk menjadi Ketua Rais Aam PBNU pada periodenya, karena sadar akan pentingnya regenerasi organisasi di NU.
Ketiga, Penting warga nahdliyyin terutama para pengurusnya baik dari PBNU sampai Kelompok Anak ranting di kampung-kampung harus memegang lima wasiat Kyai Ali tersebut di atas agar menjadi warga nahdliyyi yang berkualitas.(*)
Arief Fauzi Marzuki, S.Ag., M.H
Santri Krapyak, Penyuluh Agama Islam KUA Piyungan Bantul, DIY








