Islam Barat

Pengetahuan tentang Islam dan Alquran di Barat

Oleh: Rohmatul Izad. Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Filsafat UGM, Ketua Pusat Studi Islam dan Ilmu-ilmu Sosial Pesantren Baitul Hikmah Krapyak Yogyakarta.

Abad ke-20 hingga ke-21 M, menandakan sebuah awal dari kegemilangan kajian keislaman di dunia Barat, khususnya era pascakolonial. Sebelum itu, orientalis, di mana mereka sangat konsen dengan penelitian tentang Islam dan dunia Timur, terbelah menjadi dua kubu yang oleh Edward Said disebut orientalisme yang memiliki kecenderungan politis dan akademis. Ada semacam relasi kekuasaan yang mendukung kekuatan orientalis dalam melakukan studi ketimuran.

Pada pertengahan abad ke-20, keterbelahan orientalisme di antara dua kubu ini seakan sudah tidak relevan. Kajian tentang Islam telah menjadi bidang ilmu pengetahuan di Barat yang amat signifikan dan cukup berkembang. Pada periode ini, ploriferasi ilmu pengetahuan Barat tentang Islam dan Alquran cukup maju dan menandakan sebuah awal baru dari kajian keislaman yang lebih objektif dan netral.

Pasca perang dunia kedua, kajian Islam berkembang di berbagai universitas di seluruh dunia Barat, yang mencakup berbagai program studi yang kemudian diperluas lagi. Misalnya, ketertarikan yang meningkat di bidang bahasa, sejarah dan ilmu-ilmu sosial dalam dunia Islam.

Meningkatnya studi Islam ini, di antaranya, akibat dari ledakan penduduk Muslim yang hidup dan bekerja di Barat. Tak heran, pemahaman para sarjana Barat tentang Islam dan Alquran meningkat secara tajam. Meskipun ada semacam kesenjangan antara Barat dan dunia Islam perihal cara dan pendekatan dalam studi Islam. Di dunia Islam sendiri, pendekatan tradisional lebih banyak diutamakan, sementara di Barat, mereka lebih menekankan pada pendekatan sosial-humaniora dalam studi Islam. Fakta ini justru makin menjadikan studi Islam lebih kolaboratif dan berkembang, baik di dunia Islam sendiri maupun di Barat.

Selama abad ke-20, ilmu pengetahuan tentang Islam di Barat telah menjadi proyek besar dan serius. Misalnya, adanya pengembangan studi Alquran dengan berbagai macam pendeketan. Banyak sarjana melakukan ekspresimentasi pada aspek-aspek umum Alquran tanpa menghiraukan pandangan umat Islam tentang asal-usul kitab suci itu, sehingga mereka lebih bersikap netral dan objektif terhadap kajiannya.

Baca Juga >  Bolehkah Mengikuti Sahabat Nabi?

Malahan, seorang pengkaji Alquran dari Barat, Montgomery Watt (w. 2006), meyakini bahwa Alquran adalah Firman Allah untuk waktu dan tempat tertentu. John Wansbrougt (w. 2002), misalnya, telah mengadopsi sebuah pendekatan historis kritis dalam studi Alquran, yang saat ini juga menjadi norma dalam studi Alkitab.

Perlu disampaikan bahwa banyak umat Islam menolak penggunaan studi ini, dalam Islam, Alquran memiliki kedudukan yang amat tinggi-dan jika dibandingkan-memiliki kedudukan yang sama dengan Yesus Kristus. Yakni sebuah manifestasi dari ruh ketuhanan berupa firman-firman. Artinya, bagi sebagian umat Islam, mempertanyakan asal-usul Alquran sama halnya dengan mempertanyakan asal-usul Yesus.

Namun demikian, sebuah penelitian hanyalah produk dari apa yang dihasilkan oleh manusia. Baik umat Islam atau sarjana-sarjana Barat, mereka memahami Alquran berdasarkan sejarah dan kebudyaan yang mereka alami. Sehingga cara pandang tentang Alquran tersebut bisa sama sekali berbeda dan tentu menjadi semacam kekayaan perspektif dalam pengkajian Alquran.

Yang lebih penting dari semua itu, adanya semacam kesadaran intelektual yang dibangun oleh orang-orang Barat tentang pentingnya mengkaji dan memahami agama-agama lain. Jane Dammen McAuliffe, misalnya, seorang editor Ensiklopedi Alquran, mengajak umat Islam dan orang-orang Barat yang non-Islam, untuk berpikir bersama tentang Alquran.

Hal yang amat tak bisa diabaikan juga adalah, mereka sangat menghargai setiap kekayaan tradisi dan keilmuan dalam Islam. Di Barat, secara kuantitatif, ilmu pengetahuan meningkat secara tajam, mereka lalu menjadikan studi Islam sebagai sesuatu yang sangat penting secara akademis dan studi Islam menjadi bidang keilmuan yang indendepden.

Akibatnya, berbagai macam hasil penelitian tentang Islam menjadi mengemuka. Adanya publikasi besar-besaran di bidang sejarah Islam, budaya, bahasa Arab, politik dan kajian Islam menjadi semakin luas dan dikenal. Sarjana-sarjana Barat menjadi makin banyak yang ahli di bidang keislaman.

Baca Juga >  Gus Yahya, Israel dan Palestina

Menurut Edward Said dalam bukunya Culture and Imperialism, setiap karya ilmiah tentang Islam akan selalu mencerminkan pemahaman budaya, subjektifitas, dan pandangan umum dari yang mengkajinya. Subjektifitas memang tidak bisa dihindari, tetapi suatu kesadaran ilmiah yang kolektif, akan selalu mengendalikan sejauh mana hasil dari apa yang sedang menjadi bahan penelitian tentang studi Islam tersebut.

Kita tak mungkin berharap banyak dari seorang, katakanlah outsider, dalam menghasilakn sebuah karya Islam yang berbobot dan objektif. Sebab mereka tidak mengalami keyakinan keagamaan sebagaimana umat Islam pada umumnya, tetapi berlaku objektif dan netral terhadap sesuatu yang tidak pernah mereka yakini, merupakan sebuah langkah yang sangat luar biasa dan sulit ditiru oleh umat Islam pada umumnya. Seperti lemahnya kajian oksidentalis (orang Timur mengkaji Barat) yang hampir-hampir tidak berkembang.

Kita perlu menghargai kerja keras dan keseriusan mereka dalam mengkaji Islam. Sebab yang membesarkan Islam adalah ilmu pengetahuan dan pengakajian ilmiah secara terus menerus, bukan politik atau hal-hal lainnya yang justru terkesan agak merendahkan. Sikap keterbukaan sangat diperlukan, tak perlu memandang sebelah mata seorang outsider yang memiliki minat kajian Islam. Dan, sudah menjadi tanggungjawab dari sebuah agen intelektual Muslim, untuk bersikap saling kolaboratif dalam memandang perkembangan pengetahuan tentang Islam, baik di dunia Barat atau di dunia Islam sendiri.