Al Fatihah Ustadzah Uyun

Kajian Surah Al Fatihah: Pertautan Antara Nilai Teologis, Humanis dan Eskatologis

Oleh: Ibu Nyai Wahyuni Shifaturrahmah, Ketua PAC Fatayat NU Banguntapan

Sebagai umat Islam, kita percaya bahwa surat Al Fatihah menjadi landasan spiritual yang luar biasa. Ayat demi ayatnya telah mengajarkan kita semua tentang nilai ketauhidan (teologis), nilai kemanusiaan (humanis), dan nilai-nilai eskatologis.

  1. Bismillahirrahmanirrahiim

Dengan Menyebut nama Allah Swt. berarti sebuah pengakuan tauhid sekaligus menyertakan Allah dalam setiap gerak dan perbuatan. Segala yang kita lakukan seyogyanya diorientasikan untuk mencapai ridho Allah Swt. Bukan semata-mata ingin dipuji atau mencari keutungan duniawi. Bahwa kasih sayang dan belas kasih Allah Swt., lebih besar dan akan diberikan kepada yang dikehendaki.

  1. Alhamdulillahi rabbil ‘Aalamiin

Segala puji dan syukur hanya bagi Allah Swt. Allah Swt., lah pemilik dunia dan isinya. Karna kemahakuasaan Allah Swt., lah, seluruh makhluk dan alam semesta tunduk pada-Nya. Sungguh ayat ini mengajarkan cara berterimakasih yang benar. Manusia janganlah lupa bahwa sehebat dan sesukses apapun anda, ingatlah bahwa itu atas izin Allah Swt. Jadi jangan lupa bersyukur dan jangan sombong.

  1. Arrahmanirrahiim

Pengulangan kata rahman dan rahim ini membuktikan bahwa sifat Allah Swt., ini harus diteladani dalam bentuk kesalehan individu. Sebagaimana yang diajarkan nabi, barang siapa yang memiliki sifat belas kasih /mengasihi apa yang di bumi, maka yang di langit akan membalas dengan mengasihinya. Manusia semestinya mengutamakan sifat-sifat kemanusiaan dan menebar kedamaian serta kasih sayang. Bukan menebar permusuhan dan kebencian.

  1. Maaliki yaumiddin.

Ada yang menarik, bahwa ketika manusia memuji dan mengakui kebesaran Allah Swt. Allah Swt., segera memamerkannya dihadapan Malaikat seraya bersabda; “Hai Malaikat. Lihatlah hambaku. Mereka memujiku… qad hamidani abdi… qad majidani abdii.. ingat ketika Allah Swt., bermaksud akan menjadikan manusia sebagai khalifah di bumi. Para malaikat meragukan dengan mengira manusia hanya berbuat onar, buat gaduh, suka pertikaian, kejahatan dan pembunuhan. Sedangkan mereka (malaikat) adalah makhluk AllahSwt., yang selalu mensucikan dan memuji Allah Swt. Hal ini menjadi bukti bahwa jika manusia mampu mengoptimalkan akal dan potensi fitrah dalam dirinya, maka manusia akan selalu dibanggakan Allah Swt., sebagai makhluk yang taat.

Baca Juga >  Tawassul Dengan Nabi Muhammad Ketika Hidup atau Sudah Wafat

Ayat ini sekaligus sebagai pengingat bahwa hidup di dunia hanya sebagai ladang amal untuk mencapai harapan kebahagiaan di akhirat. Sebagai pertanggungjawaban atas semua perilaku di dunia. Karna manusia sebagai makhluk yang punya potensi menjadi fujuur (durhaka) atau (taqwa). Sebagaimana dlm surah asy-Syams : fa alhamahaa fujuiraha wataqwaaha…. qad aflaha man zakkahaa waqad khaaba man dassaahaa….. sungguh beruntung bagi org-orangan yang mensucikan dirinya dan sungguh rugi bagi orang-orang yang mengotori jiwanya.

  1. Iyyaka na’budu waiyyaka nasta’in

(bersambung…..)