Puasa, Ibadah yang Sangat ‘Dimanjakan’ Allah SWT

Ilustrasi by AI Image

Arief Fauzi Marzuki

 

Bacaan Lainnya

RAMADAN sebentar lagi tiba. Umat Islam sedunia senang menyambutnya. Karena puasa Ramadan adalah ibadah yang ‘dimanjakan’ oleh Allah swt. Dalam Hadis QudsiNya, Allah swt befirman:

عن أبي هريرة ﺭﺿﻲ اﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻋﻨﻪ ﻳﻘﻮﻝ ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋليه ﻭﺳﻠﻢ ﻗﺎﻝ اﻟﻠﻪ ﻛﻞ ﻋﻤﻞ اﺑﻦ ﺁﺩﻡ ﻟﻪ ﺇﻻ اﻟﺼﻴﺎﻡ ﻓﺈﻧﻪ ﻟﻲ ﻭﺃﻧﺎ ﺃﺟﺰﻱ ﺑﻪ _ الحديث

Artinya: Diriwayatkan dari Abi Hurairah RA. Beliau berkata Rasulullah SAW bersabda: “Allah SWT berfirman: Semua amal ibadah anak Adam untuk mereka sendiri kecuali puasa. Sesungguhnya puasa untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya.”

Imam Abu al-Khair al-Thaliqany menjelaskan, setidaknya terdapat 55 pendapat yang menerangkan makna kalimat [الا الصوم فإنه لي الخ] dan berikut di antara beberapa keterangan tersebut:

Pertama, bahwa semua ibadah dapat dilihat oleh manusia kecuali puasa, sesungguhnya puasa merupakan rahasia antara Allah dan hamba-Nya di mana hanya Allah yang dapat melihatnya. Ibadah salat, zakat, haji adalah ibadah yang bisa dilihat oleh semua orang, tetapi puasa, teman kita wudhu saja tidak mengerti apakah kita menelan air atau tidak kala berkumur.

Kedua,  bahwa puasa itu dijaga oleh Allah sehingga setan pun merasa enggan untuk merusak ibadah puasa seseorang.

Ketiga, bahwa semua amal ibadah yang dikerjakan oleh seorang hamba kepada Allah juga dilakukan oleh orang-orang kafir terhadap berhala-berhala mereka kecuali puasa.

Keempat,  bahwa puasa merupakan ibadah yang memiliki kesamaan hukum antara orang merdeka dengan budak hamba sahaya.

Kelima, bahwa puasa merupakan ibadah yang menggambarkan tabiat dan sifat para malaikat dimana para malaikat tidak makan dan minum.

Namun satu hal yang pasti, bahwa kalimat [الا الصوم فإنه لي الخ] menampakkan keutamaan puasa atas ibadah yang lain sebagaimana menyandarkan masjid sebagai ‘rumah Allah’, walapun kenyataannya semua bumi dan alam semesta ini milikNya. Namun, hal itu dimaksudkan untuk menjelaskan keutamaan masjid atas bumi yang lain.

Menarik benang merah dari semua penjelasan di atas, Syekh al-Imam Badruddin Abu Muhammad Mahmuddin Ahmad al’Aini menyimpulkan, bahwa orang yang mengerjakan ibadah puasa tidak akan dimasuki sifat riya atau ingin dipuji orang lain. Sebab ibadah puasa tidak tampak dan tidak dapat dilihat manusia karena ibadah puasa merupakan sebuah niat yang cukup diucapkan dalam hati.

Pandangan menarik juga datang dari seorang mufassir Imam al-Thabari dimana, menurutnya, ketidaktampakan ibadah puasa menjadi penyebab tidak masuknya sifat riya di dalamnya, sehingga Allah SWT menyandarkan puasa terhadap dirinya.

Oleh karenanya, dalam hadis Qudsy disebutkan: «يدع شهوته لي» (dia meninggalkan syahwatnya karena diriKu).

Penjelasan senada datang dari Imam Ibnu al-Jauzi bahwa semua ibadah akan tampak bila dikerjakan, sehingga jarang sekali yang tidak tercampur dengan hal-hal selain niatan ibadah. Hal ini berbeda halnya dengan puasa. (Zaenal Arifin, Nu Online: 2020)

Sementara itu, Imam al-Qurthuby menjelaskan apa yang dimaksud dengan [وأنا أجزي به] ialah hanya Allah yang mengetahui besarnya pahala ibadah puasa, sebagaimana salah satu riwayat dalam kitab al-Muwattha karya Imam Malik:

“Semua amal baik akan dilipat gandakan pahalanya 10 kali lipat sampai 700 kali lipat sampai kelipatan yang dikehendaki oleh Allah. Allah SWT dalam hadis qudsyNya, “Kecuali puasa, sesungguhnya puasa untukKu dan Aku sendiri yang akan membalasnya.”

Karena itu, ibadah puasa benar-benar ibadah yang sangat istimewa, karena pahalanya sangat besar dan sangat ‘dimanjakan’ oleh Allah swt. Wallahua’lam. (*)

Arief Fauzi Marzuki, Penyuluh Agama Islam KUA Piyungan, Bantul, DIY

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *