Bangkitmedia.com, JAKARTA – Di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan dan derasnya arus informasi di media sosial, masyarakat modern menghadapi tantangan moral yang semakin kompleks. Batas antara kebenaran dan kebohongan kian kabur, sementara informasi menyebar dalam hitungan detik.
Pakar tafsir Alquran, Prof Quraish Shihab, mengingatkan pentingnya menjaga akhlak dalam menyaring informasi. Menurutnya, Islam sejak awal telah memberikan pedoman preventif melalui prinsip tabayun, yakni verifikasi atau memastikan kebenaran informasi sebelum mempercayai maupun menyebarkannya.
Hal itu ia sampaikan dalam pengajian Ramadan Tafsir Al Misbah: Hidup Bersama Alquran bertema “Bijak Menanggapi Informasi” yang disiarkan melalui kanal YouTube Pusat Studi Al-Qur’an, Senin (2/3/2026).
“Alquran memerintahkan kita melakukan check and recheck jika informasi datang dari orang yang tidak dapat dipercaya. Jika yang menyampaikan orang baik-baik, biasanya ia sudah menyeleksi informasi yang disampaikannya,” ujarnya.
Namun, ia mengingatkan bahwa di era digital saat ini teknologi memungkinkan manipulasi suara maupun gambar, sehingga figur publik pun dapat dipalsukan.
“Saat ini orang baik-baik juga bisa dipalsukan. Ada ceramah saya yang beredar, padahal saya tidak pernah mengatakan itu. Karena itu, lihat orangnya dan periksa sumbernya,” katanya.
Waspada Informasi Tak Substansial
Selain hoaks, Prof. Quraish juga menyoroti kecenderungan masyarakat mengonsumsi konten yang tidak memiliki nilai manfaat. Ia mengutip hadis Nabi Muhammad SAW tentang tiga hal yang tak disukai Allah SWT, salah satunya qiila wa qaal, yakni pembicaraan yang tidak jelas kebenarannya dan tidak membawa manfaat.
“Untuk apa membuka berita-berita yang tidak ada artinya?” ujarnya.
Menurutnya, penyebaran informasi yang didorong kepentingan ekonomi maupun politik kerap memicu hoaks serta memperkeruh suasana sosial. Bahkan, menyampaikan keburukan seseorang yang benar sekalipun tidak dibenarkan jika tujuannya mempermalukan atau termasuk ghibah.
“Keburukan tidak boleh disampaikan kepada orang lain walaupun benar, jika disampaikan tanpa kehadiran yang bersangkutan karena ia tidak bisa membela diri,” tuturnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga aib sesama. “Siapa yang menutupi aib saudaranya, Allah akan menutupi aibnya,” tambahnya.
Peran Orang Tua di Era Digital
Lebih jauh, Prof Quraish menekankan pentingnya peran keluarga, terutama orang tua, dalam membimbing anak-anak menghadapi dunia digital. Memberikan akses gawai tanpa pengawasan, menurutnya, sama seperti melepas anak ke pasar tanpa pendampingan.
Ia mengingatkan pesan Alquran agar setiap keluarga menjaga diri dan anggota keluarganya dari hal-hal yang dapat menjerumuskan.
“Pembatasan penggunaan handphone pada anak perlu dipertimbangkan. Dampaknya bisa serius, mulai dari gangguan psikologis hingga kecanduan,” tandasnya.
Di tengah derasnya arus informasi dan teknologi yang semakin canggih, pesan tabayun yang diajarkan Alquran dinilai tetap relevan sebagai panduan etika agar masyarakat tidak terjebak dalam arus hoaks dan konflik sosial. (*)








