Inilah Perjalanan NU di Bumi Handayani

Sampul buku Sejarah Nahdlatul Ulama Gunungkidul

IDENTITAS BUKU :

Judul               : Sejarah Nahdlatul Ulama Gunungkidul Rekam Jejak Pendirian dan Perjalanan dari Masa ke Masa

Penulis             : Anton Prasetyo, Andrian Saputra, Imron Rosidi

Penerbit           : Samudera Biru Press, Banguntapan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta

Tahun Terbit   : Januari, 2026

Nomor ISBN  : 978-634-254-143-2

Tebal               : xii + 100 Halaman

Bangkitmedia.com, WONOSARI – Kehadiran jamiyyah NU di seantero Nusantara, wabil khusus di Daerah Istimewa Yogyakarta, disambut oleh unsur lapisan masyarakat dengan berbagai macam keadaan psikologis yang melatarbelakanginya. Tak terkecuali semangat juang para tokoh  NU di Bumi Handayani, Kabupaten Gunungkidul, dengan kondisi medan geografis pegunungan dan perbukitan.

Bagi Ketua PCNU Gunung Kidul, Drs. H. Sa’ban Nuroni, M.A, melalui buku ini, kita diajak untuk menengok kembali akar perjuangan para tokoh pendiri NU di Gunungkidul, memetik hikmah keteladanan mereka, sekaligus menyerap semangatnya untuk bertransformasi menghadapi tantangan masa depan. Dokumen ini adalah jembatan yang menghubungkan kejayaan masa lalu dengan inovasi masa kini, halaman ix.

Buku istimewa ini, yang diterbitkan oleh Samudera Biru Press, Banguntapan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta dengan tebal xii + 100 halaman ini terdiri dari tiga (3) bagian besar, yaitu; bagian pertama, embrio NU Gunungkidul. Bagian kedua, NU Gunungkidul dari Masa ke Masa, dan bagian ketiga, khazanah.

Bagian pertama, embrio NU Gunungkidul. Menjelaskan bahwa cikal bakal berdirinya kepengurusan NU Gunungkidul tak lepas dari peran KH. Ahmad Marzuqi Romly. Ulama kharismatik asal Desa Giriloyo, Kapanewon Imogiri Kabupaten Bantul. Ini menjadi rujukan para sesepuh Gunungkidul dalam mensyiarkan Islam ala Ahlussunnah wal Jamaah an Nahdliyyah di bumi Handayani.

Ahmad Marzuqi Romly atau dikenal akrab masyarakat dengan sebutan Mbah Marzuqi getolberdakwah ke Gunungkidul.  Diantara pusat dakwahnya di Gunungkidul adalah di Kalurahan Bleberan dan Getas. Dakwahnya tidak hanya dengan metode tabligh, melainkan juga melalui pengobatan dan pernikahan.

Ahmad Marzuqi Romly adalah putra dari KH. Muhammad Romly, lahir pada 1901, di Desa Giriloyo, Kabupaten Bantul. Ia tumbuh dalam proses pendidikan agama pengawasan ayahnya langsung. Selama masa anak-anak, remaja hingga dewasa ia menimba ilmu pengetahuan agama di beberapa pondok pesantren di pulau Jawa, antaralain; Pesantren Kanggotan Pleret Bantul, dibawah asuhan KH. Zaini, pada tahun 1905. Pesantren Tremas Pacitan, Jawa Timur, dibawah asuhan KH. Dimyathi, pada tahun 1910. Pesantren Watucongol, Muntilan, Magelang, Jawa Tengah, dibawah asuhan KH. Dalhar, pada tahun 1915-1918.

Selanjutnya, Pesantren Somolangu, Kebumen, Jawa Tengah, di bawah asuhan KH. Abdur Rauf, pada tahun 1919-1922. Pesantren Lirap, Kebumen, Jawa Tengah, pada tahun 1925. Pesantren Jamsaren, Solo, Jawa Tengah, pada tahun 1926-1927, dan di Pesantren Krapyak, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, di bawah asuhan KH. Muhammad Munawwir, pada tahun 1931, halaman 9.

Dengan hadirnya KH. Ahmad Marzuqi Romly berdakwah ala Ahlussunnah wal Jamaah an Nahdliyyah  di wilayah Gunungkidul pada tahun 1930 – an, terutama di bagian Playen banyak warga masyarakat di sana yang masih menganut ajaran tradisi kejawen kemudian bergelombang masuk agama Islam.

Mereka Tidak hanya memeluk agama Islam plus menjadi santri KH. Ahmad Marzuqi Romly, Tokoh masyarakat Playen dan sekitarnya yang menjadi santri KH. Ahmad Marzuqi Romly antaralain; Mangun Karno, Suwardiyono, Sastropranoto, Kamso, dan lain-lain. (Bersambung)

Peresensi: Akhmad Syarief Kurniawan, alumnus Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *