Mengenal Berbagai Peninggalan Sejarah

Sampul buku Sejarah Nahdlatul Ulama Gunungkidul

IDENTITAS BUKU :

Judul               : Sejarah Nahdlatul Ulama Gunung Kidul Rekam Jejak Pendirian dan Perjalanan dari Masa ke Masa

Penulis             : Anton Prasetyo, Andrian Saputra, Imron Rosidi

Penerbit           : Samudera Biru Press, Banguntapan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta

Tahun Terbit   : Januari, 2026

Nomor ISBN  : 978-634-254-143-2

Tebal               : xii + 100 Halaman

Bagian ketiga, khazanah. Berisikan tentang prasasti atau peninggalan bersejarah, pernak – pernik, atau cerita tokoh, yang ada diwilayah Kabupaten Gunungkidul, antaralain; Mushaf Alquran tertua, berdasar uji karbon dibuat sekitar tahun 1856, milik KH. Moh. Ikhsan seorang abdi dalem Kraton Yogyakarta yang ditugasi menyebarkan agama Islam di Wonodoyo, Ponjong, Gunungkidul.

Selanjutnya Ki Ageng Giring. Beliau adalah sosok sentral dalam sejarah spiritual dan kultural masyarakat Jawa, khususnya diwilayah Kabupaten Gunung Kidul.

Masjid Aolia. Masjid Aolia memiliki ornamen klasik telah ada di Gunungkidul sejak tahun1800-an. Bentuk kubah masjid mirip kuali (priuk) terbalik menghiasi puncaknya.

Selanjutnya, Masjid Pancasila. Bangunan megah tersebut dibangun sejak tahun 1985, pada masa kepemimpinan Presiden Soeharto, bertempat di Padukuhan Trimulyo 1, Desa Kepek, Kecamatan Wonosari, halaman 91.

 

Jangan sekali – kali melupakan sejarah dan jangan melupakan jasa-jasa para Ulama, begitulah pesan moral para cendekia dan Kiai. Buku ini bisa menjadi role model / percontohan seluruh lapisan masyarakat, khususnya bagi generasi keluarga besar jamiyyah Nahdlatul Ulama di seantero Nusantara, baik level Pengurus Wilayah (PW), Pengurus Cabang (PC), bahkan hingga Majelis Wakil Cabang (MWC), Pengurus Ranting (PR), bahkan Pengurus Anak Ranting (PAR), maupun yang ada di luar negeri.

Buku ini bisa juga menjadi literatur yang berguna bagi pegiat sosial, santri, mahasiswa, sejarawan, akademisi lintas disiplin ilmu, peneliti, aktivis, pemerhati ormas keagamaan, para sosiolog, dan lain-lain. Selamat membaca. (*)

Peresensi: Akhmad Syarief Kurniawan, alumnus Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *