Margaret Aliyatul Maimunah, Sangat Aktif Inisiasi Berbagai Gerakan Emansipasi

Hj. Margaret Aliyatul Maimunah. (Foto: liputanjatim.com

Bangkitmedia.com, JAKARTA — Innalillahi wa Inna Ilaihi Roji’un. Iring-iringan pelayat hilir mudik memenuhi halaman gedung diiringi doa dan air mata para pelayat. Hj. Margaret Aliyatul Maimunah, Ketua PP Fatayat Nahdlatul Ulama 2022–2027 telah berpulang ke rahmatullah pada Ahad 1 Maret 2026/11 Ramadhan 1447 H pukul 08.25 WIB. Pembacaan doa digelar dengan dipimpin oleh Gus Yahya Cholil Staquf S.S., M.Si di Gedung PBNU Jakarta. Dilansir dari TVNU ID, Almarhumah wafat di RS Fatmawati Jakarta Selatan pada usia 47 tahun (11 Mei 1979 – 1 Maret 2026).

Hj. Margaret dikenal sebagai sosok perempuan tangguh, pemimpin yang teduh, dan pejuang kemanusiaan dengan perannya sebagai Ketua Komisi Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPAI) dan Tenaga Ahli di berbagai Komisi DPR RI (Komisi IX, VIII, dan X) dalam rentang tahun 2008–2017. Kepergiaannya meninggalkan duka mendalam bagi elemen yang turut merasakan sentuhan pengabdiannya, terutama bagi seluruh kader Fatayat NU.

Dilansir dari Liputanjatim.com, Margaret Aliyatul Maimunah—akrab disapa Liya—adalah wanita kelahiran Jombang pada 11 Mei 1979 itu terpilih secara aklamasi dan mendapat dukungan mayoritas delegasi Kongres ke-16 Fatayat NU meliputi pimpinan wilayah dan cabang dari seluruh Indonesia. Liya merupakan cicit KH Bisri Syansuri, salah satu pendiri NU yang ahli fiqih, putri kedua KH Mohammad Faruq dan Hj Lilik Chodijah binti KH Aziz Bisri Jombang Jawa Timur.

Semasa hidupnya, beliau sangat aktif dalam menginisiasi berbagai gerakan terutama soal emansipasi perempuan. Beliau produktif menulis buku (seperti Perempuan Berdaya Nusantara Jaya) dan berbagai artikel mengenai perlindungan perempuan serta HIV/AIDS. Saat memimpin Fatayat NU, kiprahnya menginisiasi Laskar Pelajar Putri Anti Narkoba dan Sekolah Kebangsaan Pelajar. Dari Harmiyati, salah seorang aktivitis Fatayat Yogyakarta, diketahui beberapa pekan terakhir beliau memang dikabarkan sakit. “Para anggota Fatayat di seluruh Indonesia, memberikan dukungan doa. Akan tetapi Allah lebih mencintai beliau, Allah panggil beliau di bulan suci Ramadhan,” Ungkapnya. Jenazah beliau dishalatkan di Gedung PBNU dengan doa yang dipimpin oleh Gus Yahya Cholil Staquf sebelum dipulangkan. (Hana)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *